Curahan Hati

08.29 / Diposting oleh ilham_payobadar /

Kehidupan yang aku jalani di Jakarta saat ini, Kota Metropolitan yang sarat dengan persaingan dan kemewahan, bagaikan menelusuri jalan pintas baru yang aku lalui untuk sampai ke tujuan.
Ketika kamu pergi ke suatu tempat, kamu akan melalui jalan-jalan yang biasanya kamu tempuh. Kamu tidak pernah ragu dalam perjalanan itu, namun ketika kamu mencoba menelusuri jalan baru yang belum pernah kamu tempuh sebelumnya, menurutmu itu jalan pintas. Di persimpangan kamu berani mengambil keputusan melewati jalan pintas itu. Tetapi dengan keragu-raguan yang menyelinap di hatimu. Kamu akan mengira-ngira jalan ini akan tembus di sana, atau barangkali di sini. Terkadang kamu harus bertanya atau kamu pasrah akan sampai di mana.
Begitulah aku kini, sudah setahun lebih sebulan aku di Jakarta masih melewati jalan pintas baru, aku sudah bertanya ke sana dan ke sini, mencoba mencari jalan tembus lainnya, dan aku juga telah mencoba pasrah menyerahkan sepenuhnya perjalananku ini kepada-Nya, tapi sampai saat ini aku belum juga sampai di tujuan.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, hijrah dari kehidupan lama lalu mencari sesuatu yang baru, memulai kehidupan dari nol di saat usia dalam detik-detik angka kepala tiga, Aku buta tentang Jakarta!
Namun aku bukanlah orang yang tidak membawa apa-apa ke sini, aku punya pengalaman kerja, aku punya sedikit keahlian dan aku punya kejujuran. Sebenarnya, aku agak ragu mengatakan kalau aku jujur, karena kebohongan terbesar seseorang adalah di saat dia berkata bahwa dirinya jujur. Tetapi setidaknya, lebih tegas untuk sebuah kata kejujuran itu aku mengatakan bahwa, aku punya kebijaksanaan untuk sebuah kejujuran itu.
Aku akan selalu ingat bagaimana aku bisa sampai di Jakarta ini, tak lain dan tak bukan salah satu penyebabnya adalah karena kausalitas pemikiranku yang selalu menyimpan dan membayangkan sebuah kehidupan yang jauh berada di luar diriku sendiri. Karena kehidupan yang sedang aku jalani saat itu tidak mampu membuatku bergerak cepat untuk membangun sebuah clan yang lebih baik, agar ada keseimbangan pada kedua mata orang-orang yang memandang clan itu.
Dengan rasa percaya diri dan pemikiran yang sederhana, setelah mendapat restu dari kedua orang tua dan dengan niat baik, aku berangkat ke Jakarta.
Wow… Jakarta, hatiku berteriak ketika menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Soekarno Hatta. Tetapi aku adalah seseorang yang bisa menutupi keheranan dan kekagumanku ketika melihat bangunan-bangunan pencakar langit, jalan-jalan layang yang berliku-liku seperti berada di atas awang-awang tanpa tiang dan gaya hidup luks orang-orangnya. Aku tidak terlalu norak menanggapi hal yang aku kagumi, mungkin aku sedikit jaim. Tapi jaga image itu perlu kalau harga diri tidak ingin dilecehkan.
Aku kost dengan salah seorang teman di daerah Srengseng Kebun Jeruk Jakarta Barat, tepatnya di jalan Tolo. Karena saat itu ada sedikit uang untuk kost beberapa bulan. Dengan motor bebek tahun dua ribu yang aku bawa ke Jakarta, aku mulai berani mengendarainya setelah dua hari aku di sana. Dan aku mengendarai bebek itu dengan kekhawatiran menghadapi kemacetan disetiap jalan-jalan dan kekhawatiran tersesat.
Dan tersesat? Benar-benar aku alami. Pagi itu aku ingin ke warung internet di daerah Binus Batusari. Aku mengendarai bebekku dengan hati-hati dan terkadang sedikit ngebut. Di depan, temanku mengendarai motor win, dia penunjuk jalanku saat itu ke Binus.
Beberapa ratus meter sebelum lampu merah Batusari aku masih melihat helm hitam temanku, tapi ketika berada di lampu merah itu dia tidak terlihat lagi. Di hadapanku saat ini ada dua arah, satu kiri dan satu kanan. Aku harus ke Binus.
Lampu hijau hidup. Keputusanku? Ke kiri. Binus ke kiri. Bebekku pun melaju ke kiri, tapi kenapa Binus belum terlihat juga? Seharusnya dia tak jauh beberapa meter dari lampu merah tadi, menurut informasi. Sudahlah, aku ikuti saja jalan ini, sampai di mana nanti.
Ibarat sedang bermain game, aku mengikuti petunjuk-petunjuk jalan. Akhirnya aku sampai di Tanah Abang. Aku tertawa. Maksud hati ingin ke Binus tetapi sampainya di Tanah Abang. Di sana aku mampir di tempat temanku, berbincang-bincang. Jam setengah empat aku pamit pulang ke kosanku di Srengseng Kebun Jeruk.
Petunjuk jalan pulang diberi tahu oleh temanku. Aku hanya mampu berkata, ya. O iya. Nanti ke kiri ya. Terus pas sampai di sana ke kanan ya. O ya ya. Padahal apa yang diberitahukan oleh temanku itu, sama sekali aku tidak tahu dimana?
Sekarang begini, pikirku. Aku ikuti ulang jalan yang pertama kali aku lewati ketika aku ke Tanah Abang tadi. Siiip…!
Aku memutar bebekku ke arah Jati Baru lalu Petamburan, aku sampai di Slipi Fly Over. Di sana aku bingung, seharusnya aku bertanya. Tetapi aku sengaja untuk tidak bertanya, sejauh mana ingatan untuk pulang dan di mana aku akan sampai jika aku mengikuti kata hatiku.
Jalur yang benar aku tempuh, aku memutar di bawah kolong. Seharusnya aku belok kiri menuju arah Palmerah tapi aku mengambil jalur lurus, akhirnya aku sampai di Bundaran Slipi. Belok kiri aku langsung sampai di Batusari, tetapi aku memutar lagi ke arah kanan Jalan Katamso lalu Aipda Ks. Tubun kemudian sampai lagi di Tanah Abang.
Aku berpikir, dua kali aku melewati jalan itu.
Aku lewat di depan Blok A Pasar Grosir Tanah Abang, aku tidak lagi memikirkan jalan yang tadi. Aku bersama bebekku terus lurus maju pantang mundur melewati Jalan Fakhruddin, Jalan Abdul Muis, Majapahit, Gajah Mada. Itulah Harmony, kemudian aku berputar di depan Pasar Glodok dan lurus saja.
Aku tertawa ketika melihat Monas, akhirnya sampai juga aku di sini.
Tanpa aku duga, aku sampai di Jalan Thamrin, lurus lagi sampai di Sudirman, Sisingamangaraja, Blok M hatiku berkata,”O… ini yang namanya Blok M itu, yang terkenal sampai ke daerahku? Lalu lurus lagi, aku di Blok A ambil kiri dan mutar-mutar-lah indah bebekku di daerah elit Jakarta Selatan, Kemang Raya.
Belok kanan lagi, bisikku. Mampang dan lurus Warung Jati, kemudian aku belok kiri lagi, Lenteng Agung. Aku terus lurus, Pasar Minggu menyapaku. Akhirnya daerah Pasar Minggu ini menjadi akrab denganku, ternyata di sana tempat berkumpul teman-temanku.
Lurus? Siapa takut. Lagi-lagi jalur yang benar aku tempuh ketika sampai di Pancoran, belok kiri. Lurus lagi, Gatot Soebroto tapi lagi-lagi aku salah. Aku turun ketika sampai di Semanggi masuk lagi ke Sudirman. Dua kali melewati jalur itu. Lurus dan lurus, Monas lalu Harmony lagi. Aku kembali berputar di Glodok, kali ini mencoba belok kanan dari Harmony. Lurus lalu kanan lagi, inilah Pasar Senen.
Lurus dan lurus, Salemba, Matraman belok kiri dan lurus Pramuka. Bawah kolong Rawamangun Fly Over aku Belok kanan lagi, lurus lagi hingga Jakarta Interchange aku belok, lagi-lagi kanan. Lalu Cawang, Gatot Soebroto lagi, kali ini aku lurus saja. Tidak berani lagi turun jalan di Semanggi. Akhirnya sampai lagi di Slipi, Aku mencoba kali ini mengambil jalur kiri dan Palmerah pun mengembalikan ingatanku.
Akhirnya aku sampai di kosan jam setengah sepuluh sambil tersenyum lalu tertawa.
Perjalanan hidupku di Jakarta hingga saat ini seperti kisahku tadi dari kosan hendak menuju Binus tetapi salah jalan sampainya di Tanah Abang. Aku masih berputar-putar menuju pulang ke rumah kos. Aku tetap yakin akan bertemu dengan tujuanku selagi aku masih tetap berusaha. Dulu, aku pernah menulis di kertas-kertas tuaku, “Aku melihat kesuksesanku pada hayalan yang akan aku lukiskan pada sebuah kanvas keyakinan dengan warna-warna keseimbangan antara pikiran, doa dan harapan.”
Aku tidak bermain-main dengan keputusan hijrah ini, aku serius. Sampai-sampai aku mencubit kedua kupingku sekuat-kuatnya lalu memilinnya, sakit. Sakit. Beginikah sakitnya kehidupanku nanti di Jakarta, bahkan mungkin lebih sakit dari itu dan ternyata memang lebih sakit dari itu, tapi ini soal pilihan hidup.
Kamu tentu tahu bahwa menjalani hidup adalah pilihan. Dalam memilih, satu hal akan terkorbankan untuk memilih banyak tujuan, atau banyak hal akan terkorbankan untuk satu tujuan.
Begitu juga denganku, aku berani menjalani keputusan itu, bukan berarti tidak mengorbankan apa-apa. Ada beberapa hal yang aku korbankan untuk satu tujuan itu. Tentu Kamu ingin tahu, apa yang aku korbankan.
Cinta. Selalu saja ada kata itu dalam perjalanan hidup semua orang. Kamu pun akan sependapat denganku, bahwa hidup ini akan lebih berarti dan bermakna ketika cinta menghamiri kita.
Cinta adalah kata terindah, namun cinta tidak berbentuk dan cinta bukanlah suatu bentuk. Karena cinta adalah rasa yang menunjukkan perubahan perilaku.
Kamu setuju? Jika aku mengatakan, cinta adalah misteri dalam hidup ini. Menurutku begitu, terkadang dia datang secara mengejutkan tetapi bisa bertahan lama atau dia datang perlahan-lahan namun berlalu secara mengejutkan.
Sering aku bertanya, apakah cinta itu? Apakah cinta itu hidup? Lalu tumbuh dan berkembang? Kenapa cuma hati yang merasakan cinta? Tetapi dia membawa pengaruh besar pada pikiran.
Ah…! Ketika aku mengagumi seseorang, hatiku berdebar-debar dan jiwaku bergetar. Dia memberikan efek gelisah terhadap jiwaku. Apakah seperti itu, cinta? Terkadang aku menyangkalnya, itu bukan cinta. Lalu Apa? Sekarang mari sejenak kita berpikir, Apa cinta itu?
Diam.
Aku bingung. Kamu bagaimana? Kamu. Kamu. Hei… kamu. Dan kamu. Apa cinta itu?
Banyak ungkapan yang aku dengar tentang cinta, begitu juga kamu. Seandainya ada seribu orang yang jatuh cinta, maka akan lebih dari seribu pula ungkapan tentang cinta.
Dari sekian banyak ungkapan tentang cinta, kamu akan setuju denganku untuk meminjam ungkapan dari Jalalu’ddin Rumi yang begitu bermakna. Dia mengatakan begini, “Dengan cinta, yang pahit menjadi manis. Dengan cinta, tembaga menjadi emas. Dengan cinta, sampah menjadi jernih. Dengan cinta, yang mati menjadi hidup. Dengan cinta, yang raja menjadi budak. Dari ilmu, cinta dapat tumbuh. Pernahkah kebodohan tempatkan orang di atas tahta begini?”
Kamu akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban “pernah”. Aku juga menjawab “pernah”
Aku coba memahami ungkapan itu. Kamu tahu, apa dibalik ungkapan itu? Ketika kita jatuh cinta maka ketika itu pulalah kita mendekati kebodohan? Aku renungi dan mengingat kembali saat-saat aku jatuh cinta, ternyata tidak salah aku menjawab pertanyaan itu. Ya, aku merasa bodoh, bahkan bertambah bodoh ketika aku merasakan sesuatu yang disebut dengan jatuh cinta itu.
Kebodohanku. Satu, aku pernah ditolak tiga kali selama tiga tahun oleh seorang teman perempuanku, aku bodoh. Kedua, aku diputuskan setelah seminggu dia menerimaku menjadi kekasihnya, karena kepentingannya telah dia dapat dariku, aku juga bodoh. Ketiga, aku pernah menunggu seseorang dengan memandangi setiap detik-detik jarum panjang alrojiku selama tiga jam, aku begitu bodoh. Keempat, aku pernah dipermalukan di depan teman-teman seposko dan aku dijadikan selingkuhnya yang kedua lalu aku memaafkannya, aku bodoh sekali. Kelima, aku pulang dari propinsi tempatku kuliah ke rumah orang tuaku di propinsi lain, lalu aku kembali lagi disaat mereka masih merindukan kehadiranku, hanya beberapa jam pertemuan, aku meninggalkan mereka hanya untuk kepentingan cinta itu, AKU BENAR-BENAR BODOH SEKALI.
Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh dan bodoh.
Biar begitu aku pernah punya sesuatu yang patut diacungi jempol. Saat itu adalah saat di antara kebodohan-kebodohan dalam diriku, aku masih menyimpan perasaan kagum kepada seseorang selama belasan tahun. Debarannya kecil aku rasakan dari aku kecil dan tumbuh menjadi getaran dan perasaan yakin akhir-akhir ini. Dia tahu aku menyukainya dan aku juga tahu kalau dia menyukaiku, tapi aku ditinggalkan ketika aku benar-benar telah yakin bahwa dia akan menjadi milikku dan ketika aku kehilangan pekerjaan. Sungguh, sungguh dan sungguh cepat berlalu sayang…
Aku menganggap diriku tak berarti dan tidak ada arti. Laki-laki macam apa aku ini? Aku menyalahkan diriku.
Cinta yang tertanam sedikit demi sedikit lalu tumbuh menjadi kasih, hilang? Orang ceroboh macam apa aku ini?
Namun…
Akhirnya aku sadar, cinta di zaman orang tua kita dulu tidak jauh berbeda dengan zaman sekarang. Bedanya, cinta di zaman sekarang menjadi sesuatu yang lebih logis. Cinta di zaman sekarang debarannya bukan lagi dirasakan oleh hati, getarannya bukan lagi dirasakan oleh jiwa, tapi oleh otak! Dan aku sadar, ternyata cinta itu melibatkan orang-orang yang seharusnya tidak terlibat.
Hmm….!
Pengorbananku demi sebuah tujuan hidup yang arate. Cinta bagiku penting, karena tanpa cinta aku tidak akan pernah menangis. Hanya cinta yang bisa membuat aku menangis. Bodoh kan, aku?
Masa depan. Ada dua hal. Pekerjaan dan usia. Usia dan pekerjaan, lalu berimbas kepada materi.
Aku kehilangan pekerjaan ketika harga diri tidak lagi berarti di benak seorang bos yang merasa dirinya sempurna, tapi jangkaunnya tak lebih dari sekedar nyanyian dan benaknya tak lebih dari sebuah game kartu. Dia bersyair tentang kebesaran hidupnya, lalu dia berpuisi dengan ilusinya, berimajinasi dengan kartu mati kehebatannya. Tidak ada feedback dalam beragumen. Tidak ada take and give terhadap kreatifitas dialogis seorang bawahan.
Aku korbankan itu ketika ego yang berkeyakinan mulai menghatui pikiranku. Aku mengundurkan diri.
Lalu orang-orang, meskipun tidak tersampaikan padaku bertanya, “Apakah aku menyesal dengan keputusan itu?” jawabannya tentu saja tidak dan tidak akan pernah menyesal. Kamu tahu kenapa? Karena aku selalu berusaha bertanggungjawab terhadap apa yang aku putuskan dan aku selalu melatih pikiran tak sadarku untuk. Tidak. Akan. Pernah. Menyesal.
Sepertinya sikapku sombong dan angkuh, tapi buat apa aku menyesal? Suatu sikap yang negatif jika aku berbuat demikian. Lebih baik aku memperbaiki hidup dari pada menyesali sesuatu yang tidak akan kembali dan sesuatu yang akan memperlambat langkahku.
Setahun berlalu sudah aku di Jakarta, dengan ratusan surat lamaran ke berbagai perusahaan. Aku bertanya-tanya, apa yang salah dari diriku? Apakah karena aku dari unversitas negeri daerah yang non reputable? Aku tertawa ketika membaca lowongan di salah satu surat kabar dengan syarat “graduate from reputable university”. Diskriminasi. Macam dikiranya tak bisa kerja saja aku ini. Tapi tidak apa-apa, itu haknya mereka, “Maafkan Saya, Om perusahaan?”
Sekarang aku antara bekerja dan tidak. Aku sedikit khawatir di malam-malam sebelum mataku terpejam, tapi aku menghiburnya dan menidurkannya dengan hayalan-hayalan indah yang membuatku tersenyum kembali.
Kamu ingin tahu hayalan seorang laki-laki yang sedang mencari tujuan hidupnya demi masa depan? (Kamu menjawab : Tentu dong.)
Hayalanku yang gampang-gampang saja, murah meriah. Aku berhayal ditabrak oleh sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh seorang wanita cantik. Kemudian dia itu merawatku, lalu dia jatuh hati padaku dan tentunya aku menerima lamarannya sebagai istriku. Aku akan tersenyum, sekilas hayalan ini seperti sebuah cerita sinetron. Tapi bukankah begini wajah pertelevisian kita? Hayalanku ini ringan, tak begitu menguras energi dan aku menikmatinya sebagai sebuah hayalan belaka.
Atau kamu suka yang begini? Ada seorang wanita cantik, anak tunggal seorang direktur yang ditabrak oleh bis kota. Lalu aku menolongnya, membawanya ke rumah sakit. Dia kekurangan darah, kebetulan darah yang diperlukannya sama dengan darahku. Alhasil, sebagian darahku mengalir di tubuhnya dan dia tetap bertahan hidup.
Bapaknya yang direktur itu lalu mengajakku makan malam bersama sebagai ungkapan rasa terima kasih atas pertolonganku pada putrinya. Direktur itu tertarik dengan latar belakang pendidikanku, lalu dia menawarkan perkerjaan di kantornya. Aku dengan bahagia menerima tawaran pekerjaan itu dan senang telah menjadi seorang the hero bagi orang lain. Aku menikmati hayalan itu.
Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu berpikiran sang direktur itu akan menjodohkan anaknya denganku? Kalau kamu berpikiran seperti itu, berarti kamu lebih pintar dalam berhayal dari pada aku. Aku tidak serakah kok, satu keberuntungan saja sudah cukup.
Aku berhayal, karena berhayal suatu bentuk hiburan diri yang tidak bisa diperoleh dari siapapun juga kecuali diriku sendiri. Setinggi-tinggi apapun juga aku berhayal yang terpenting aku bisa kembali diranting tempatku hinggap. Tapi permasalahannya, sampai kapan aku akan berhayal? Apakah dengan berhayal lalu aku tersenyum dan permasalahanku hilang? Tidak.
Permasalahanku akan tetap ada selama tujuan yang aku cari belum tercapai, yang paling aku sadari saat ini bahwa aku sedang menelusuri jalan baru yang belum pernah aku lalui sebelumnya. Aku akan bertanya dan salah arah, tapi aku tidak akan tersesat dan tidak akan menyesatkan.
Aku terus menghibur diri dalam kekhawatiran terhadap masa depanku. Aku meyerahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa, karena kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Aku juga tidak mau mengeluh. Dulu aku sering mengeluh, tapi lambat laun keluhanku itu tidak mampu merubah hidupku, malah membuat aku semakin takut. Kini, aku menikmati kekosongan hidupku dengan hal-hal yang bisa aku lakukan diluar tujuan hidupku.
Tujuan hidupku sebenarnya bagaikan dua sisi mata uang. Kamu tahu mata uang koin seratus rupiah tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh lima? Satu sisinya ada angka seratus dan satu sisinya lagi gambar rumah adat Minangkabau. Kedua sisi itulah tujuan hidupku.
Sayang. Aku sedikit keras kepala dalam mempertahankan prinsip hidup. Tapi sekali lagi aku tidak pernah menyesalkan apa yang telah terjadi. Setelah semua pengorbanan yang aku lakukan.
Galileo seakan berpesan padaku. Katanya, “Bila ini menyakitiku lebih dari yang bisa ditahan oleh orang. Bila ini membuatku sendirian dan terluka. Bila ini membuatku kehilangan semua yang berharga. Hatiku harus tahu yang sebenarnya,” karenanya aku selalu memahami, terkadang keberhasilan itu datangnya lambat dan sepenuhnya aku menyadari bahwa proses dalam hidupku memang sedikit lambat dari orang-orang yang sepantaran denganku.
Apa pun jadinya aku nanti, aku tetap akan hadapi itu. Seperti kerasnya cara berpikir seorang Galileo dalam mempertahankan pemikirannya, “Berani untuk memikirkan apa yang tidak terpikirkan dan berani untuk mempertahankan apa yang tidak dapat dipertahankan”.
Resiko hidup sebelum melangkah juga telah aku bayangkan, tidak akan ada kata menyesal selagi aku masih bisa berusaha untuk berbuat dan bergerak.
“Jangan pernah berhenti bergerak, siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah,” begitu Pidato Soekarno.
10 Januari 2008, 00:12 WIB
Perjalanan pulang antara Parung dan Bojong

0 komentar:

Posting Komentar