Peri Jiwa

08.53 / Diposting oleh ilham_payobadar / komentar (1)


Laki-laki itu bernama Nathan. Ia tinggal dalam keramaian namun hidup dalam kesepian. Hatinya butuh ruang untuk sepenggal kedamaian. Ia mencari pemahaman tentang hubungan yang saling turun temurun, turunan sebuah persamaan dalam graha tempat ia menetap.
Ketika Nathan mulai hidup di dunia yang katanya indah itu, di dalam lingkungan graha yang berkedudukan tinggi itu, di dalam jiwa-jiwa yang dilingkari oleh suasana penuh rasa sentimentil. Nathan mencoba mencerna pola-pola yang tidak tertulis dalam bersikap.
Nathan berusaha menelusuri langkah-langkah pencarian pemaknaan itu di dalam waktu dan alur yang sama, sesekali ia memutar kilas episode kemarin. Tetapi semuanya itu hanya semu dan sepi.

Ia tidak menemukan jawabannya. Sama kondisinya, sama aksinya, sama reaksinya. Dan sama sikap sentimentil itu.
Dalam satu periode waktu yang mengasingkannya dari penetapan itu, ia terus mencoba beradaptasi. Berlaku lebih lembut dan tunduk, dari kerasnya sikap dan prinsip hidupnya.
Ia mulai melakukan pencarian yang lain, agar hidupnya yang tinggal dikeramaian namun hidup dalam kesepian itu, berubah dengan keseimbangan antara keramaian dan kesepian.
Ia melirik ke segala penjuru dan sudut-sudut, namun tidak menemui apa-apa, hanya masih sunyi!

Kesunyian itu mengundang sesosok Peri di hadapannya, yang entah utusan dari mana. Tapi kini Peri itu datang mengetuk pintu imajinasinya. Mereka bercengkrama, bagaikan seorang sahabat lama yang baru berjumpa. Mungkin ada sebersit kerinduan di antara mereka.
Lalu, Nathan dibawanya terbang menuju alam kedamaian. Yang tak terjamah oleh tangan dan orang-orang yang mengaku dirinya suci. Nathan jauh dari orang-orang yang selama ini mengecilkanya. Dia tahu, karena orang itu tidak tahu tentang dirinya. Ego mempersempit hatinya untuk Nathan dan melebarkanya untuk orang lain.
Dia orang berhulu dan bermuara sama. Seperti pagi yang muncul karena matahari tenggelam di ufuk sana dan yang memberikan cahaya pada bulan, mereka bertiga dalam satu galaksi itu. Mereka terhubung oleh sel-sel DNA yang mewaris.
Nathan telah jauh terbang dibawa Peri itu ke suatu tempat yang tidak begitu terlukiskan keindahannya. Desiran angin membuka mulut pori-porinya, butiran air terdengar bagaikan sebuah instrumen stress relaxtion therapy, bersamaan dengan siulan nuri dengan efek berbeda yang memanggil-manggil kawanan burung gereja, lalu suara simpanse yang bersahutan-sahutan bagaikan sebuah permainan perkusi yang apik. Nyanyian alam tidak akan pernah ada yang menandinginya, kerena disana ada keseimbangan dan keteraturan yang harmonis yang ciptakan oleh Pencipta yang sering terlupakan.
Aroma si mekar pun tidak mau kalah, ia memberi tanda kehidupan baru. Ranting cemara sepertinya kokoh dan tak habis dimakan usia.
Beberapa pasang kupu-kupu saling berkejaran meneriakkan yel-yel kedamaian, atau mungkin ingin memadu kasih dengan pasangan mereka. Sinar mentari pun menembus lapisan langit disaat memberi tempat pada kehijauan dedaunan.
Saat suasana begitu sempurnanya, Nathan disuguhkan anggur pencuci mulut dengan hidangan-hidangan pembersih getaran nurani.
Dalam pada itulah Sang Peri menatapnya, menggariskan seulas senyuman. Dengan menopangkan dagu pada kedua tangannya, lantas Sang Peri berkata, “Tak ada di dunia ini makhluk yang hidup sendirian, semuanya punya peri-peri dalam jiwa yang bisa membawanya ke segala penjuru. Jika engkau butuh Peri, panggillah aku. Jika engkau ragu, peluklah malam, koyaklah busana-busana yang dipakai oleh sang malam dan kecuplah rembulan tetapi jangan menghitung bintang gemintang”.
Nathan tertegun lalu menatap Sang Peri yang masih tersenyum, mungkin senyum pelipur lara. Pandangannya bercahaya menusuk retina, matanya menangkap penuh tubuh Nathan.
Tak lama kemudian Nathan bertanya,”Kenapa seperti itu?”
Dengan memegang pundak Nathan, Sang Peri menjawab dengan segala kasihnya, “Nanti engkau akan mengerti ketukan-ketukan kesendirian, nanti engkau akan memahami nada-nada kehidupan. Selama bertahun-tahun aku telah menemanimu, mengawasimu, merepotkanmu dan menghiburmu, namun engkau tak pernah tahu. Kenapa hari ini kita bertemu, karena aku telah memahamimu dan karena engkau telah berusaha menemukanku dan mengundangku”
Dalam tatapan Nathan yang penuh keheranan, Peri pun menggenggam kedua tangannya, lantas membawanya terbang kembali, dilepas oleh keberatan kupu-kupu yang sedang ingin disaksikan dalam perlombaannya.
Mereka terbang dan jauh.
Selama perjalanan itu Nathan melihat lambaian rerumputan, bisikkan bebatuan, getaran pergunungan serta liukkan perbukitan. Namun di suatu tempat mereka berhenti. Sang Peri menatapnya penuh, lantas berkata dengan air mata yang berlinang. Perlahan mengalir seperti anak sungai kecil, “Aku tak bisa membawamu terbang lebih jauh lagi dan mengantarkanmu pulang, tapi aku akan menunjukkan jalan pulang untukmu. Terbanglah ke arah timur, sesampainya engkau di sana hiduplah dengan senyuman, langkahkan kaki dengan kekuatan tulang belulang, lalu tancapkan hatimu untuk hari esok sebab kita tak akan pernah tahu tentang hari esok, namun jika engkau butuh aku, panggillah aku di malam-malam resahmu. Selamat jalan…”
Nathan tersekat dalam nafasnya yang sesak, memohon jangan pergi. Nathan mencegahnya berusaha menggapai kepergiannya, berusaha menarik selendang birunya. Namun sia-sia, ia memandang ke sekeliling, berteriak-teriak tapi hanya gema suaranya yang mampu mengembalikan panggilan itu.
Nathan diam membisu, larut dalam pikirannya. Ia memandang keempat penjuru. Utara. Selatan. Barat dan timur. Sejenak ia merentangkan tangannya, lalu berputar dengan kepala menengadah dan matanya yang terpejam. Nathan menikmati relaksasi itu. Sebait senyum tersungging di bibirnya.
Akhirnya, Nathan memutuskan untuk terbang ke arah timur di mana tempat sang surya terbit mengawali hari. Nathan kembali menemukan suasana sepi, namun burung-burung terdengar mulai berkicau dan hujan pun turun. Akahkan ini pertanda anugerah? Bisiknya.
My Old Papers
Senin, 29 Desember 2003 – 21:05 WIB
No Place About This!

Putri Dalam Mimpi

08.52 / Diposting oleh ilham_payobadar / komentar (0)

Aku melihatnya dalam gelap, tapi wajah dan seluruh tubuhnya nampak begitu terang, lalu Aku berdekatan dengannya.
Aku merasa diriku bagai sebuah layar yang tak bertubuh, namun Aku bisa merasakan rangkaian tulang di satukan oleh sendi-sendiku. Dan Aku yakin bahwa semua rangsangan dan bentuk anggota tubuhku telah terekam dalam memori otak tak sadarku.
Bagaikan sebuah layar besar Aku melihatnya ketika Dia berdiri di depanku. Aku meraih dan menggenggam erat kedua tangannya. Kemudian Dia bersimpuh di hadapan dudukku, seperti permaisuri yang menghormati penuh baginda raja.

Dia menatapku tanpa berkedip dan matanya berbicara dalam bahasa cinta. Kemudian mata indah itu meneduh lalu berkedip dan terpejam, di saat wajahnya yang sulit Aku lukiskan dalam kata itu, mendekat ke dadaku dan menciumnya.
Hanya sebaris, sekejab dan begitu lembut ciuman itu ketika menempel di dadaku yang terbalut baju, tapi ciuman itu mampu menembus dan menyentuh jantungku.
Dengan linangan air mata aku menggenggam tangannya semakin erat. Dia berdiri dengan senyumnya yang penuh pelipur lara.
Dia masih berdiri, dan membisu dengan wajah yang sulit aku terjemahkan, namun tubuh yang dibalut gaun putih itu tak lama tersenyum sebelum berlalu dari hadapanku.
Aku mengejarnya di pintu yang gelap itu dan aku buka pintu itu yang ada hanya gelap lalu ku telusuri gelap dan semakin gelap.
Dia menghilang.
Dia mampu membuat jantungku berdebar, Dia membuatku manahan kerinduan yang tak lagi bertempat di hati ini.
Dia datang hanya sekejap waktu tapi membawa sejuta harapan. Dia singgah di malamku untuk mengambil separuh kerinduan yang telah penuh dan meluap.
Aku berbahagia, Aku menikmatinya dengan kerinduan yang mendalam. Kerinduan dengan desiran-desiran darah di jantungku, kerinduan yang mengisyarakatkan dan menggetarkan ujung-ujung jariku.
Dia telah berlalu dari mimpiku, kini. Siapakah Dia? Aku tidak mengenalnya. Apakah aku akan menemukannya?

January 2008

Peng Oi (Virus Cinta)

08.50 / Diposting oleh ilham_payobadar / komentar (0)

Yuan. Baru selesai makan malam bersama keluarganya. Seperti biasa mereka menetralisir kekenyangan dengan berita-berita terkini di televisi. Sesekali berdiskusi tentang carut marut persoalan bangsa dan negara ini, dari berita yang disiarkan itu.
Bangsa ini telah dianugerahi oleh Tuhan, tanah air yang indah dan kaya raya. Bagaikan untaian zamrud di khatulistiwa, katanya. Tahu tentang zamrud? Batu alam berwarna hijau yang umumnya dipakai oleh kaum laki-laki sebagai akik perhiasan di jemari mereka. Karena warnanya menurut para pencinta batu, zamrud dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan merangsang percintaan.

Jika dikaitkan dengan tanah air ini, mungkin sedikit benarnya. Bangsa ini beruntung dengan kekayaan tanah airnya, beruntung karena kemerdekaan yang telah diperoleh selama 63 tahun. Tapi untuk ukuran sekarang, masih bisakah kita mengassosiasikannya sebagai bangsa yang beruntung? Jangan-jangan tinggal buntung.
Lihat, bagaimana kemelut yang terjadi dalam 10 tahun terakhir ini? Mulai dari masalah sosial, ekonomi, dan terlebih politik. Ck…ck…ck…, parah! Bagaimana mungkin bangsa yang beragama ini bisa saling hasut, saling bunuh dan saling bakar? Bagaimana mungkin negara yang beragama ini bisa saling korup? Negara ini tidak butuh orang-orang pintar, sebab kejahatan orang pintar jauh lebih berbahaya dari orang bodoh. Lalu orang-orang seperti apa yang dibutuhkan oleh negara ini? Jujur, bijaksana dan manusiawi? Sepertinya kata ini sudah basi untuk menutupi kemunafikan. Tetapi setidaknya negara dan bangsa ini perlu orang-orang yang menggunakan hati nuraninya untuk berpikir dan bertindak.
Kita memang mesti kembali menelaah sejarah. Dulu, di bangsa ini banyak orang-orang besar dan hebat dalam memperjuangkan kemerdekaan di tanah air ini. Dan kita memang mesti belajar dari sikap serta cara pandang mereka dalam menata negara dan bangsa.
Salah satu adalah Ibrahim Bin Rasad yang rela dan ikhlas kehilangan kemerdekaan dirinya, demi menghendaki kemerdekaan umum. Tahu siapa dia? Beliau lebih dikenal dengan sebutan Tan Malaka. Penunjuk jalan dan arah kemerdekaan 100%.
Bangsa ini juga seperti melupakan pahlawan-pahlawannya, para pembesar yang telah meletakkan pondasi untuk kemerdekaan. Barangkali bukan melupakan tetapi kurang mau belajar dari mereka.
Sekarang? Bangsa makin kacau, negara malah makin korup. Seolah reformasi yang pernah dibesar-besarkan hanya sebuah kata puitis untuk kebebasan-kebebasan sekelompok orang yang sepertinya menelurkan kembali ide-ide lama dari bangsa borjuis.

Yuan berdiri, ia mendengus ketika iklan-iklan gombal menganggu siaran berita. Ia beranjak ke ruang sebelah karena akan merokok, tapi dari sana ia masih bisa menyaksikan berita. Yuan sengaja menjauhkan asap rokok dari keponakan-keponakannya yang masih SD. “Cukup Om saja yang menghisap racun,” begitu katanya kepada Fira, keponakan yang paling kecil.
Sambil menunggu iklan lewat, Yuan membuka buku pintar yang ada di sebelahnya. Buku memang bertebaran di rumahnya. Dibukanya secara acak bagian tengah buku itu. Bagian shio. Yuan tersenyum saat mendapati shio kudanya.
Kuda selalu tampak hebat dan menarik. Yuan pun tersenyum.
Ia gemar berpakaian rapi sesuai dengan hidupnya yang menyenagi kesenian. Kuda selalu tampak simpatik dan berpembawaan riang gembira. Yuan tidak lagi fokus dengan berita di televisi. Ia semakin dalam menghisap asap rokoknya.
Hasrat menjadi orang terkenal selalu menyala, ditunjang oleh kebolehannya menanggapi setiap persoalan dengan cepat. Kali ini lubang hidung Yuan membesar tiga mili.
Kuda pekerja yang tak kenal lelah, ia cukup menaruh perhatian pada nasib orang lain, apalagi nasib keluarganya. “Ah! Macam kenal saja pengarang ini denganku!” ujar Yuan dengan logat Batak, ia bukan berasal dari Suku Batak tapi ia suka dengan intonasi bahasa itu. Yuan kemudian memperkokoh duduknya dengan bersila.
“Enggg… inggg… onggg,” itu bunyi nada pesan dari handphone-nya.
Konsentrasi Yuan terpecah, ketika ia akan melanjutkan membaca kelemahan shio kuda. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia terganggu oleh short message service itu. Yuan berdiri lalu berjalan ke kamarnya dengan jawaban kelemahan shio itu di kepalanya. Egois, memaksakan kehendak, tidak sabaran dan keras kepala.
Ia masih penasaran dengan kelemahan shio kuda itu, ia pun kembali mengambil buku itu.
“Ah! Benar,” lirihnya.

Asalamu'alaikum yeye?lei houma?sik fan mei a? hai hiongkong yau san peng yeye? thung SARS koti ca'mto,hou keng a..tanhai leh chung ngaihim ke peng oi? Hehe..
“Ha…ha…ha…” Yuan tertawa membaca sms dari Yasha, ia garuk-garuk kepala, “Artinya apa, ya?” wajahnya seperti mencoba mencerna sms itu, hanya beberapa kata saja yang ia mengerti. Kemudian Yuan menghidupkan PC nya, membuka program translation Mandarin-Indonesia.
Assalamu’alaikum kek. Apa kabar? Udah makan belum? Di hongkong lagi kena virus baru kek. Selevel ama virus SARS. Yuan terkejut membaca terjemahan itu. Begitu seriuskah? Jangan-jangan virus itu, virus kakeknya flu burung? Pikirnya. Kemudian Ia melanjutkan terjemahannya. Ngeri dech…tapi masih ganas virus cinta kali, ya?hehe. Yuan terbahak-bahak, tawanya terlihat lebih lebar dari bibirnya yang penuh. Yuan cengar-cengir. Mondar-mandir di kamarnya memikirkan sesuatu.
Oww…! rupanya ia ingin membalas sms, itu? Tapi setelah di cek tertera, Masa Aktif Habis, Sisa pulsa Rp. 132. Batas Isi Ulang 05/04/08…Yuan terbahak lagi. Padahal ia sudah mengetahui pulsanya habis beberapa hari yang lalu seiring habisnya masa aktif berlaku kartu. “Masih sebulan lagi masa tenggangnya,” ujarnya.

Memang sudah beberapa hari ia tidak sempat ke warung internet, biasanya kesempatan itu digunakannya untuk chatting bersama Yasha yang sudah dikenalnya tiga bulan belakangan ini. Yasha seorang muslimah yang bekerja di Hongkong, juga kuliah. Ia tinggal di Kota Mongkok, Kowloon New Teritories.
Semenjak mengenal Yasha, ada perubahan yang dirasakan Yuan. Seperti keinginannya untuk belajar Bahasa Mandarin jadi lebih termotivasi. Dulu ia tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih, ketika habis belanja di toko Cina. Sekarang ia sudah bisa mengucapkan to ce atau sie sie.
Tetapi bukan hanya itu yang sebenarnya membuat Yuan betah berjam-jam duduk di warung internet. Adalah kemiripan Yasha dengan Vibi, yang juga dikenalnya di dunia maya itu. Mereka tidak hanya mirip dari photonya, tetapi juga dalam caranya berbahasa, sms-sms nya, dan cara mereka saling panggil, Kek dan Nek.
Yuan melamun.
Dulu Laila sering mengingatkan ia akan sholat, mungkin Laila tahu kalau Yuan sering bolong sholatnya. Atau mengingatkan Yuan akan makan siang, ketika Yuan masih bekerja. Laila tahu kalau Yuan malas makan, makanya badan Yuan kecil dan kempes. Dulu Laila juga sering mengirimkan sms-sms religi.

Aku melihat Laila pada Yasha. Mereka hanya punya kesamaan, tapi tetaplah berbeda. Apakah Yasha di utus oleh Tuhan sebagai pengganti Laila? Ah… Tidak, pikir Yuan. Ia menatap langit-langit kamarnya, sepasang cicak berkejaran, mungkin akan melakukan hasrat kebinatangannya, atau mungkin sedang berebut nyamuk yang tak berguna.
Subhanallah, Allah tidak malu menciptakan menciptakan walau seekor nyamuk, bukan karena banyak hikmah yang tersembunyi tapi karena tidak ada makhluk yang bisa membuat nyamuk.
Yuan membuka inbox pesan di handphone-nya. Ada beberapa sms dari Yasha yang belum di hapusnya.
Bersegerahlah kalian bersedekah, karena cobaan tidak akan singgah kepada orang-orang yang bersedekah. HR. Ath-Tabrani . Sms itu dikirim tangal 20 Februari 2008 23:01
Ada dan tiadanya harta adalah ujian. Saat seseorang bergelimang harta akankah dia bersyukur? Saat seseorang dalam kekurangan, akankah dia bersabar?. 6 Maret 2008 20:25
Yuan meletakkan hp nya di meja. Ingatannya kembali pada Yasha dan Laila.
Apakah Yasha itu Laila? Mengapa setiap kali aku chatting dengan Yasha, atau membaca sms dari Yasha, aku teringat Laila.
Yasha memang bukan Laila. Laila juga bukan Yasha. Laila telah menikah. Yasha belum. Seandainya dulu, Laila mendengar sedikit perasaanku dan berani menjatuhkan pilihannya padaku, tentu sekarang ia telah menjadi istriku dengan segala konsekuensiku akan membahagiakannya. Dan dengan janji yang tidak pernah terucapkan olehku, bahwa aku siap menerimanya. Hatiku adalah jaminan yang tak ternilai harganya bagi diriku. Mungkin telah terucap, bahwa akan aku korbankan apa yang bisa aku korbankan.
Sepertinya Yuan terlalu yakin dan gombal akan pikirannya.
Laila memang tidak pernah menyatakan perasaan sayangnya padaku, tetapi aku tahu bahwa dia mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Aku lebih percaya pada hatiku, ketimbangan apa yang dikatakan Laila padaku, bahwa ia tidak ada perasaan apa-apa padaku. Ya, walau akhirnya ia terpaksa mengatakan sayang padaku tetapi sebagai teman.
Aku bisa membaca Laila dari suaranya, aku bisa membaca Laila dari sms nya, aku bisa membaca Laila dari ketikan-ketikannya yang tertera di board yahoo messenger.
Apa artinya Yuuu…aaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnn!!!! sebuah teriakan yang diketiknya ketika chatting, aku tahu itu teriakan perasaannya padaku. Aku tahu jika hatinya sedang gundah menahan kerinduan. Aku pun begitu bahkan lebih.
Laila lebih bisa menahan emosinya ketimbang aku. Aku tidak bisa, disaat aku rindu aku katakan aku kangen kamu, saat aku merasa sayang aku katakan aku sayang kamu.
Apa Laila masih ingat tentang malam yang kami lalui dengan bintang? Atau malam-malam tanpa bintang yang membuat malam kami kelam.
Kami sama-sama berimajinasi pada bintang, karena hanya dengan melihat bintanglah kami bisa saling menatap dari jarak yang memisahkan. Dengan menunjuk satu rasi bintang, karena rasi itu bisa dilihat dari dua jarak yang berjauhan dan kami bisa mempertemukan pandangan di rasi itu. Lalu bercakap tentang kerlap-kerlipnya.
Laila?
Terkadang menyayangi seseorang memang tidak harus memilikinya. Aku menyadari itu di saat kekecewaan yang dalam terhadapnya. Kini doa yang bisa ku haturkan, semoga bahagia.
Yuan bangkit dari kasurnya, ia mengambil sebatang rokok. Lalu seteguk kopi akan menikmatkan rasa rokok yang akan dihisapnya.
Memory Yuan kembali me-restore ingatan yang hampir hilang.
Juga Yasha tidak sama dengan Nu setelah Laila. Nu, yang dikiranya akan mengembalikan rasa kehilangannya dari Laila tetapi tidak. Pada Nu, Yuan menemukan pihak-pihak yang melanggar kode etik tentang cinta dan pilihan. Yuan disisihkan oleh orang-orang yang merasa berkepentingan dalam hidup Nu. Yuan tahu, kalau sebenarnya Nu juga menyimpan perasaan yang sama.
Yuan dan Nu sama-sama besar dalam sebuah keteraturan dan ketetautan. Yuan lebih merasa tersakitkan, ketika Nu dialihkan saat Yuan kehilangan kehidupannya.
Nu?
Aku juga yakin padamu. Dan karena yakin itu aku berani menembus ruang hidup yang sebenarnya tidak pernah diinginkan orang lain. Dan karena yakinku itu aku berani mencoba hidup di luar jalur hidup yang aku jalani. Bukankah seseorang itu dikatakan baru hidup jika ia mulai mencoba hidup di luar kebiasaannya. Bersamamu Nu, aku akan hidup dalam kondisi itu.
Haha… kadang aku melihat orang lebih pengecut dari diriku. Bukan-bukan, bukan Nu. Tapi orang-orang berkepentingan dalam hidup Nu.
Nu?
Bersuami dan mungkin juga telah berbahagia. Aku melupakannya, dari pada aku dicurigai akan berselingkuh dengannya. Seperti mata-mata orang yang berkepentingan menatapku dengan selidik. Hiks.
Yasha.
Yika ha mai khui kwa cu ngo a?* Dengan sms-nya yang begitu.
Memang bukan Laila, bahkan juga bukan Nu. Ia hadir mirip Laila tetapi tidak untuk Nu. Apa yang bisa aku katakan pada Yasha? Apa aku juga akan mengatakan bahwa aku sayang padanya? Seperti aku pernah mengatakannya pada Laila. Juga rindu. Bintang. Malam.
Dulu aku bisa meyakinkan diri pada Laila dan Nu, tapi sekarang keyakinan itu memudar. Dulu aku yakin akan bisa membahagiakan, tapi sekarang aku kurang yakin untuk membahagiakan.
Eh! Ke mana keyakinanku dulu? Hilang di mana?
Aku takut mengecewakan Yasha, dia terlalu baik untuk aku kecewakan. Dia terlalu suci untuk aku khianati. Biarlah waktu menjawabnya, di dalam ruang yang tidak lagi berbatas dan jika keyakinan itu telah kembali, aku siap membahagiakannya.
Yuan menulis sebait pusisi.
Tapi apakah itu engkau
atau juga hanya engkau
dan itu juga engkau
juga pada engkau
apakah itu untuk ku
atau hanya ku
juga salahkah aku?
Yuan menutup malamnya dengan cahaya kamar yang gelap. Tidur dengan membawa mimpi yang kemaren dan siap menyambut pagi dengan kenyataannya.
*Yika ha Mai khui kwa cu ngo a? Apakah sekarang dia rindu padaku?
Kamis, 13 Maret 2008 19:25
biasalah….
Puisi Engkau
(Jum’at, 21 Feb 2003 14:00 Uncle House Jambi)

Sesudah Matahari Terbit dan Sebelum Terbenam

08.48 / Diposting oleh ilham_payobadar / komentar (0)

“Kamu kapan akan menyusul. Rul?” tanya Om Bambang tersenyum, ketika keluarga besar Arul berkumpul di rumah Tante Mirna membicarakan persiapan resepsi pernikahan Alex yang akan segera dilaksanakan.
Arul tersipu malu, mukanya memerah. Rasanya pertanyaan itu sedikit menyudutkannya. Kenapa tidak? Dengan keadaannya yang masih belum bekerja, serta ekonomi orang tua yang serba berkecukupan, Arul belum berani mengambil keputusan yang sakral itu.
“Jangan tunggu lama-lama. Rul!” ujar Om Bambang lagi.
Arul menghisap dalam-dalam asap rokoknya.

Arul seorang remaja dalam kategori dewasa, semenjak wisuda dari perguruan tinggi swasta belum juga mendapat kesempatan kerja yang lebih layak seperti sarjana-sarjana lainnya. Tetapi Arul bukanlah tipe orang yang suka memilih-milih pekerjaan, dia bukan pengangguran hanya saja ketetapan kerjanya belum jelas.
Sepenuhnya Arul menyadari bahwa dengan kemampuan nilai akademis yang baik belum tentu menjamin seseorang itu mampu bersaing dan beruntung mendapatkan pekerjaan yang layak ketika dia berhadapan dengan pasar tenaga kerja.
Arul selalu mengintrospeksi dirinya, di mana kesalahannya? Dia berusaha terus memperbaiki dirinya tetapi belum juga menunjukkan hasil yang sesuai dengan harapannya.

Masa berkeluh kesah pun sudah terlewati dalam hidupnya, namun dia menyadari setiap keluhannya itu ternyata tidak memberikan sesuatu yang lebih baik malah hanya semakin mempertebal sikap pesimismenya.
Kini tak ada lagi keluh kesah itu, kedewasaannya telah terbentuk dari keadaan hidup. Setelah masa itu berlalu dan berganti dengan sikap yang lebih positif, bahwa keberhasilan itu sepenuhnya bukan diukur berdasarkan status sosial serta dari apa yang kita miliki. Akan tetapi keberhasilan itu terletak bagaimana cara kita dalam memaknai hidup ini.
***
Bagi saya hidup bukanlah suatu perjuangan, karena kehidupan itu adalah kodrat dari Sang Khalik. Ketika kita menempatkan hidup sebagai sebuah perjuangan, berarti akan ada yang dikalahkan yaitu musuh.
Kita beranggapan bahwa ketika kita menginginkan kerberhasilan hidup, dalam hal ini materi atau status sosial maka kita harus berjuang mendapatkannya. Lalu kita mendapatkannya. Pertanyaan akan muncul, apa yang telah kita kalahkan dalam perjuangan itu? Apakah yang kita kalahkan itu adalah objek atau predikat yang menunjukkan suatu keadaan? Keduanya mungkin. Tetapi dalam hal ini saya memilih predikat sebagai hal yang telah terkalahkan, predikat itu adalah kemiskinan atau kekurangan.
Kata perjuangan beranalogi dengan kata memerangi. Apakah kita mesti memerangi kemiskinan?
Saya tidak setuju dengan pernyataan, ketika kita telah mendapatkan keberhasilan berarti kita telah mengalahkan kemiskinan. Karena, proses hidup seseorang di dunia ini untuk tetap eksis serta mendapatkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat adalah jalan yang memang harus ditempuhnya dengan “usaha dan upaya”-nya karena itulah Tuhan menciptakannya.
Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, bukan untuk berjuang melawan kemiskinan, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat.
Syukuri keadaan itu sebagai upaya untuk mendewasakan cara berpikir kearah yang lebih bijak. Dalam keadaan serba kekurangan itu, semestinya menjadikan seseorang itu lebih tahu diri dalam menata hidupnya, bukan semakin menghalalkan cara-cara yang mampu merendahkan harga diri, atau semakin menjerumuskan hidup dalam kefrustasian ataupun cukup dengan mengharapkan belas kasihan orang saja.
Kelemahan dari bangsa ini adalah sikap manja. Manja tidak akan pernah membuat kita jadi maju.
Bagi saya kemiskinan bukanlah musuh yang harus diperangi, tetapi kemiskinan adalah cobaan yang datang ketika kita melakukan kekeliruan dalam kehidupan kita. Selanjutnya adalah bagaimana upaya kita memperbaiki kekeliruan itu.
Bagi sebagian orang kemiskinan telah merupakan suatu ketakutan, syukuri kemiskinan itu sebagai suatu hal yang layak untuk dijalani dan mulailah berusaha untuk keluar dari keadaan itu.
Menurut sebuah penelitian psikologi, penyakit yang sedang menghinggapi manusia akhir-akhir ini adalah ketakutan. Jika kita kembali kepada Ayat-ayat Allah SWT, seperti Surat Al-Baqarah ayat 38 menjelaskan, bahwa jangan pernah takut pada apapun selama kita taat kepada Allah. Tapi takutlah kalau kita tidak taat kepada perintah Allah. Ketahuilah ciri-ciri orang yang mendapat hidayah Allah adalah ia tidak takut apa yang akan terjadi dan tidak bersedih atas apa yang sudah terjadi, semuanya Allah yang mengatur, menghendakinya.
Tidak satu jalan menuju Roma, tidak ada usaha yang tidak memberikan hasil yang baik, walau terkadang keberhasilan itu datangnya terlambat.
***
Begitu bunyi sebagian tulisan Arul yang pernah dikirimnya untuk suatu perlombaan karya tulis tentang kemiskinan, oleh sebuah majalah.
Ternyata keadaan hidup telah membuat Arul menyadari dan mensyukuri, dia terlihat lebih bijaksana dalam menghadapi kekurangannya.
Akan tetapi pertanyaan Om Bambang memancing emosinya.
Orang-orang di sini mungkin belum tahu yang sebenarnya. Aku punya pertimbangan tersendiri untuk keputusan itu. Bukan hal yang gampang bagiku! Baiklah Om Bambang hanya bercanda, tapi pertanyaan itu membuat aku kurang menghargai diriku sendiri, lagi. Aku berharap semoga jawabanku bisa merubah cara pandang orang-orang d isini terhadapku dan keluargaku. Pikir Arul
“Setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Om!” jawab Arul tegas sambil menghembuskan asap rokoknya perlahan.
Om Bambang serta yang lain dan sepupunya tersenyum dan bahkan ada yang tertawa sepertinya mengejek jawaban Arul itu.
“Bahasa anak muda jaman sekarang aneh-aneh!” ujar Om Bambang.
“Bagaiamana kalau matahari itu tidak terbit-terbit?” tanya Doni sambil tertawa.
Arul ikut tertawa, dia hanya bermaksud menetralisir kepalanya yang mulai panas dan dia adalah tipe orang yang bisa mengikuti keadaan.
“Kiamat tuh namanya!” sahut Arul.
Apakah mereka tak mengerti kiasan? Barangkali Aku yang terlalu sensitif menanggapi pertanyaan ini? pikir Arul lagi.
“Jadi menurut saya begini Om, kita hidup di dunia ini mempunyai tujuan, setiap manusia tidak sama tujuannya. Cuma kepala kita yang sama hitam, bagi yang mempunyai tujuan hidup akan mengerti maksud kata-kata saya tadi,” Arul berhenti sejenak, dia membuang abu rokoknya sambil menjentik-jentikkan rokoknya ke asbak.
“Bagi saya menikah bukanlah tujuan hidup, menikah hanya bagian dari proses kehidupan. Dan ada standar-standar tertentu dalam hidup yang sudah dicapai setelah itu baru saya akan menikah. Lain ceritanya jika anugerah datang dari Allah ketika saya belum menginginkannya.”
Ah… mungkin penjelasanku belum mengarah kepada kata-kata yang tadi. Aku lihat mereka bosan mendengarkannya, mungkin lebih baik begitu tapi sepertinya akan ada respon, pikir Arul lagi.
“Apa tujuan hidupmu.Rul? Jadi kamu akan menikah setelah standar hidupmu tercapai? Atau kamu mesti kaya dulu baru menikah? Kalau itu yang kamu tunggu, mungkin kamu tidak akan pernah menikah. Idealis sekali. Rul! Kamu seperti seorang pengecut saja, hadapi hidup ini dengan jantan!” kata Om Bambang makin bersemangat.
Arul mengangguk-angguk. Dia menyadari hal itu dan bukan hanya Om Bambang saja yang pernah berkata seperti itu kepadanya. Banyak orang berpikiran dan berpendapat sama seperti Om Bambang.
Pemikiran umum yang sudah turun temurun dan sepertinya sudah menjadi semacam momok yang menakutkan jika menikah telat bagi seorang laki-laki.
Kata-kata itu sama saja bermaksud “Menikahlah kamu jika umurmu sudah sampai meskipun Kamu dalam keadaan miskin” kurang lebih seperti itu.
Apakah hidup ini setelah menikah hanya untuk istri saja? Tidak. Aku ingin keseimbangan.
“Tujuan hidup saya adalah kebahagian. Om! Menikah adalah tujuan kedua. Saya akan bahagia jika tujuan pertama saya tercapai. Saya tidak pengecut, justru saya berani mengambil resiko. Sebagai laki-laki saya punya prinsip, begitu juga dengan orang lain. Dan saya selalu memegang prinsip yang telah saya tanamkan dalam hati. Demi tujuan hidup yang pertama tercapai atau setidaknya mendekati, saya ikhlas dan menerima untuk telat menikah dibandingkan orang-orang seumuran saya,” ujar Arul begitu percaya diri.
“Menunggu kaya baru menikah? Saya mengerti itu tidak mudah, tapi itu bukan standar hidup saya. Om!” jelas Arul lagi.
Om Bambang kembali tersenyum dan manggut-manggut, tapi lain lagi respon sepupu Arul.
Ada yang garuk-garuk kepala, ada yang menggosok-gosok pahanya dengan telapak tangan, ada menghembuskan asap rokoknya setinggi-tingginya.
“Itu bukan prinsip. Rul! Tapi keras kepala dan egois!” kata Beni.
Arul memandang ke arah Beni, tapi Arul tidak menanggapi komentar Beni, lalu Arul mengambil sebatang rokok lagi dan sambil tersenyum Arul menyulut rokoknya. Tidak ada guna menanggapi komentar negatif yang hanya akan membuat Arul semakin lemah pada prinsipnya.
Otakku sudah jenuh dengan segala macam kritikkan yang kurang bermakna, pikirnya lagi.
Kau tahu batu, Beni? Itulah kepalaku bahkan lebih keras dari itu. Kita berbeda soal kerasnya kepala kita, Beni. Aku kepala batu sedangkan kau kepala keju. Kepala orang-orang birokrasi, pikir Arul lagi sambil melempar pandangannya ke arah Beni.
“Kebahagian seperti apa yang menjadi tujuan hidupmu. Rul?” tanya Om Bambang. Kali ini nada bicaranya mulai sedikit rendah.
Yah! Sudah Aku duga, pertanyaan seperti itu akan muncul. Om Bambang terpancing juga untuk mengetahuinya. Kan, lebih baik orang yang bertanya kepada kita dari pada kita menceritakan begitu saja tanpa ditanya. Aku sengaja berbelit-belit menjawabnya. Kalau Aku ingin? Dari awal tadi pasti sudah aku ceritakan tapi aku ingin membawa mereka sedikit bermain dengan kata-kata dan biar mereka mengerti bagaimana caraku merangkaikan kata untuk sebuah prinsip hidup dan menjalaninya, karena selama ini aku banyak diam tidak mau banyak omong, bagiku lebih baik diam dari pada banyak bicara, karena kata-kata itu mengungkapkan pikiran dan pikiran itu akan mengungkap karakter. Aku tidak mau orang mendikteku dari situ.
O… bukan berarti dengan berpikir seperti itu, aku merasa lebih hebat atau pintar dari mereka? Tidak! Tetapi lebih tepatnya aku ingin mereka tahu bahwa aku punya prinsip, hanya sebuah prinsip lah yang bisa aku banggakan dari diriku ini.
“Tujuan hidup saya kebahagian. Om! Kebahagian itu terletak pada kedua orang tua. Jika saya telah berbakti dan membahagiakan mereka tentu saya akan lebih bahagia, setelah itu baru saya akan menikah. Menikah itu memang ibadah, tetapi lebih beribadah jika saya melayani dengan baik kedua orang tua saya terlebih dahulu,” jawab Arul yang masih belum jelas.
Sepertinya mereka masih belum mengerti.
“Om. Om kan tahu kehidupan Abi dan Ummi saya, bagaimana? Rumah belum punya, hidup pas-pasan, dan sebentar lagi adik saya mau kuliah. Setidaknya saya bisa meringankan biaya kuliah Dian terlebih dahulu. Setidaknya meskipun hanya rumah kayu saya dirikan dulu buat beliau. Kalau bukan saya siapa lagi. Om? Saya hidup buat mereka, setelah itu tercapai atau setidaknya mendekati itu baru saya akan menikah,” Arul berhenti sejenak mengambil nafas sebelum melanjutkan.
“Pengalaman hidup saya tidak bisa disamakan dengan Alex, Doni, Beni atau yang lain. Saya dari kecil sudah susah, dengan kesabaran dan keyakinan serta peluh Abi Ummi, akhirnya saya bisa selesai kuliah. Saya tidak mau melupakan peluh mereka,” ujar Arul.
Lalu dia melanjutkan, “Otomatis! Jika seseorang telah menikah maka perhatian pun terbagi dan biasanya lebih condong ke istri, lambat laun kebutuhan orang tua mulai terlupakan, lalu kapan saya akan berbakti? Cukuplah selama ini saya menggantungkan hidup kepada mereka, dan inilah saat-saat terindah dalam hidup saya untuk membalas sedikit kasih sayang yang pernah mereka berikan.”
Penjelasan Arul agak sedikit lebih jelas dari yang tadi sehingga yang mendengar di ruang tamu Tante Mirna itu terdiam. Dan tak satupun yang bertanya, apa hubungannya penjelasan Arul tadi dengan kata-kata setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Arul juga tidak mau menjelaskannya lagi, baginya biarkan saja mereka mencari hubungannya sendiri, toh mereka bisa berpikir, atau mungkin mereka mulai benar-benar bosan mendengarkan sebuah prinsip hidup yang egois ini.
Huh! Kenapa Aku jadi bersikap negatif kepada diriku sendiri.
***
Dengan langkah yang seirama dengan pikirannya, di sore yang mulai gelap itu Arul melangkah pulang dari rumah Tante Mirna dengan membawa perasaan yang seharusnya tidak layak lagi untuk diingatnya.
Mereka itu tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap diriku, tidak juga kamu, Alex! Sebelum kamu menjadi suami Sinta, sebenarnya kami telah mengikat janji bersama. Sinta akan menungguku, begitu juga denganku hingga saatnya tiba kami akan menikah.
Sebenarnya prinsip hidupku itu bisa aku pertahankan hingga saat ini tak lain karena dukungan Sinta, namun kini dia akan bersamamu. Sinta tidak lagi mendukung sebuah prinsip hidupku dengan janjinya atau cintanya, tapi kali ini dia telah mendukung prinsip hidup itu dengan kepergiannya. Luka yang aku rasakan ini adalah motivasi terhebat yang pernah aku rasakan. Dan aku akan membuktikannya, Lex!
Kamu juga tidak tahu betapa aku merasa dikhianati, tapi aku tidak benci kepadanya, bagaimana mungkin aku bisa membenci dan mencintai orang yang sama? Aku tahu kalau dia masih mencintaiku seperti aku tetap mencintainya. Bagiku dia adalah cinta sejatiku karena kami menjalani kisah yang panjang dan rahasia yang tak seorang pun tahu.
Terkadang, aku marah pada keadaanku. Kenapa aku ditakdirkan lahir ke dunia ini sebagai orang yang menurut keluarga Sinta tidak layak untuk mempersuntingnya. Atau mungkin ada yang salah dari perlakuanku terhadap keluarganya atau aku kurang menjilat kaki keluarganya. Aku tidak mengerti Lex dan menganggap keluarganya terlalu suci dalam memilih. Bukankah, di hadapan Allah manusia itu sama kedudukannya? Lalu mengapa aku dibedakan hanya karena keadaan? Aku juga manusia, Lex!
Kini aku tahu Lex, hidup tak hanya cukup dengan bentuk dan roh yang sempurna saja. Tapi perlu sebuah status sosial yang memperjelas kedudukan kehidupan kita di tengah-tengah masyarakat.
Yang arah serta tindakan berusaha menuju hedonisme.
Sekali lagi! Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, Lex! Tapi ada seseorang yang mengganti tangan sebelahnya dengan buku, dialah orang yang menjodohkannya denganmu.
Aku marah kepada orang yang telah menjodohkan Sinta denganmu. Dialah orang yang tidak menghargai pentingnya arti cinta. Orang yang tidak menghargai artinya sebuah pilihan saat namaku diajukan sebagai pilihan hidupnya. Orang itu benar-benar tidak menghargai hak-hak pribadi, baginya hak memilih Sinta adalah hak kolektif.
Aku marah pada orang yang menjodohkannya denganmu hanya berdasarkan keberadaan kehidupan materimu. Aku kalah dalam hal itu, Alex! Tapi aku tidak pernah kalah dalam cinta dan selama bertahun lamanya, aku telah membuktikannya. Paling tidak di mata Sinta.
Aku akan tetap tersenyum tapi aku terluka. Aku merasakan kepedihan yang manis dan tak tertahankan dari kerinduan yang dalam. Dalam kerinduan itu air mataku menjadi doa-doa terhadap keberadaanku nantinya. Insyaallah.
Banyak kisah yang telah kami lalui, Lex! Dan itulah cinta. Cinta kami tidak hanya seindah pelangi, cinta itu telah membukakan mataku betapa berartinya hidup ini saat pertama kali dia mengatakan “Aku tak tahu, kenapa setiap kali kamu di sisiku, aku merasa begitu nyaman.”
Cinta yang telah mengajarkan akan artinya kesetiaan, cinta yang telah menumbuhkan rasa optimis, namun sekarang cinta itu lengkap. Dilengkapi dengan kepedihan, jika kamu tahu, aku terluka, Lex!
Arul terperanjat dan segera turun dari angkot yang berhenti di depan gang menuju rumahnya ketika kondektur bus kota itu berteriak, “waskita… waskitaaa…!”
Kakinya tetap melangkah seperti pikirannya.
Tuhan, jika Engkau meredhoiku untuk mendapat pendamping hidup di dunia ini, maka aku menyerahkan keputusan itu kepada-Mu.
Seumpama hamba sebutir pasir dari lautan yang luas ini, kehadapan-Mu hamba serahkan masa depan itu untuk Engkau atur sebagaimana Engkau telah mengatur siklus kehidupan ribuan plankton di permukaan lautan.
Seumpama hamba sebutir pasir dari luasnya lautan ini, yang selalu dihempaskan gelombang dan selalu ditampar oleh deburan ombak, kehadapan-Mu hamba meminta supaya hamba tetap di pantai bukan di dalam lautan.
Seumpama hamba sebutir pasir dari luasnya lautan ini yang hanya bisa berencana, namun Engkau jualah yang menentukan. Yang hanya bisa berdoa, namun Engkau jualah yang memutuskan. Yang hanya bisa berharap, namun Engkau jualah yang mewujudkan. Yang hanya bisa bertindak, namun Engkau jualah yang menampakkan.
Kehadapan-Mu Ya Tuhan, hamba bawa luka ini dan berharap semoga ini menjadi obat bagi lahir dan batin hamba. Kehadapan-Mu sepenuhnya hamba menyerahkan hidup dan mati hamba. Amien…
Arul mengetuk pintu rumahnya,
“Ya… sebentar,” jawab Ummi.
“Bagaimana jadinya resepsi pernikahan Alex? Jadi dilaksanakan minggu depan?” tanya Ummi setelah Arul salim dengan Ummi-nya.
“Jadi. Ummi,” jawab Arul
“Rul tadi ada surat untukmu,” ujar Ummi seraya memberikan sepucuk surat kepada Arul.
Arul membacanya. Kemudian dia berlari ke dapur dan tiba-tiba saja dia memeluk tubuh kurus Ummi-nya. Ummi heran dengan sikap Arul.
“Ada apa, Rul?”
“Alhamdulillah, Ummi. Karya tulis Arul berhasil memenangi perlombaan itu!” jelas Arul bersemangat, “Malah Arul diberi peluang tes untuk menjadi salah satu staff di majalah itu,” tambah Arul.
Mata Ummi berlinang, bibir pun bergetar seperti ada kata-kata yang tertahan oleh kebahagian itu.
Semoga kamu bisa mewujudkan cita-cita yang sedang kamu kejar dalam hidupmu, Rul, doa Ummi dalam hati.

Penumpang Yang Kadaluarsa

08.46 / Diposting oleh ilham_payobadar / komentar (0)

Di persimpangan itu aku berdiri. Menunggu pemberangkatan untuk sebuah perjalanan, yang aku sendiri kurang mengerti.
Aku sedang menunggu sebuah tumpangan. Akan ke manakah tujuanku? Aku sama sekali belum menyadari setiap perjalanan-perjalanan ini. Mungkin, karena alam bawah sadarku terbentuk dari seluruh peristiwa-peristiwa yang dialami orang lain, baik yang dilihat, didengar maupun di dan tersugesti, yang telah terekam sebagai sebuah motivasi untuk menjalani hidup, tanpa menyadari ada hal yang lebih penting dari itu. Aku hanya melakukan pengulangan-pengulangan tindakan dari peristiwa yang dilakukan orang lain.

Aku hanya akan berangkat, beranjak dari kondisi kehidupan saat itu.
Yah! Saat itu. Saat di mana aku tidak menyadari satu hal yang terpenting dalam kehidupan. Saat di mana aku tidak mendapatkan pembelajaran dan pemahaman tentang satu hal itu. Saat di mana satu hal itu kurang aku hargainya. Saat di mana aku hanya menyadari usiaku bertambah ketika berada di bulan kelahiranku saja - aku terlalu pongah dengan egoisme diri yang sedang memuncak. Saat dimana satu hal itu sebenarnya membawa alam kepada segala perubahan nyata di dunia ini. Saat di mana satu hal itu tidak bisa di putar balikkan – tetapi efek penemuan dan keilmuan membuat orang berimajinasi terhadapnya. Satu hal itulah yang sebenarnya telah membawaku beranjak dan akan terus beranjak lalu itulah pemberangkatan dan perjalanan.
Satu hal itu relatif dari berbagai macam perspektif dalam ruang. Secara kuantitas dia adalah faktor yang sangat mencukupi, tetapi dia membatasi dirinya sendiri agar dia menjadi sesuatu yang essensial, sehingga dia membuat dirinya langka bagi kehidupan ini. Secara kualitas dia adalah nol, karena kualitasnya hanya ditentukan pada orang-orang yang memakainya.

Satu hal itu adalah waktu. Hanya waktulah yang membuat keberangkatkanku dari setiap kondisi-kondisi saat itu - dalam sepenggal, sebidang, seruang dan senafas kehidupanku – ke kondisi-kondisi kehidupanku saat ini dan masa yang akan datang. Bukan cita-cita yang akan memberangkatkanku, bukan pula impian, apalagi mimpi. Apalah artinya semua itu tanpa waktu. Tanpa waktu yang ada hanya kematian.
Kenapa harus waktu? Padahal dia tidak berwujud. Seperti udara juga tidak berwujud, tetapi kulit masih bisa merasakan sentuhannya seperti lidah yang merasakan hembusan.
Waktu? kita tidak pernah bisa merasakannya. Dia berlalu begitu saja, tanpa pernah mau menunggu walau sesaat bahkan hanya untuk 10-43 detik saja - satuan waktu terkecil yang sulit diterima oleh daya pikir. Tetapi waktu memberikan effect, impact dan karma. Waktu menciptakan kausalitas hidup.
Terkadang dia egois terhadap nasibku.
Waktu adalah takdir dalam kehidupan. Tanpa waktu yang ada hanya kematian dari kehidupan nyata. Tetapi setelah kematian pun waktu untuk roh kita baru mulai berjalan dalam dimensi waktu lainnya. Waktu gaib barangkali.
Apakah waktu itu hidup? Hidup tanpa fasilitas untuk mempertahankan hidup. Hidup tanpa zat dan bentuk.
Aku penasaran dengan waktu yang telah membawaku. Hingga saat ini.
Coba. Aku membayangkan diriku sedang berada dalam sebuah tempat yang kosong, gelap tanpa cahaya. Berdiri diam tanpa tempat berpijak, mungkin mengawang. Tempat kosong itu adalah sebuah ruang yang mengelilingiku. Sementara itu waktu dimana? Apakah waktu mengelilingi ruang? Atau ruang yang mengelili waktu? Bukan. Aku rasa bukan begitu. Mungkin begini. Aku berada dalam ruang gelap yang berbentuk lingkaran mengelilingiku. Setengah dari lingkaran itu adalah ruang dan setengahnya lagi adalah waktu.
Aku berpikir sejenak.
Bukan-bukan.
Lingkaran itu adalah ruang sedangkan jari-jari yang kasat mata di dalamnya adalah waktu.
Aku pikir, juga bukan begitu. Terlalu gampang membayangkan waktu jika diandai-andai seperti itu.
Waktu dan ruang dua hal yang tidak terpisahkan. Jika posisi ruang bisa di rekayasa tetapi posisi waktu entah dimana. Waktu adalah misteri hidup, yang bisa aku lakukan terhadap waktu hanya mengukurnya.
Sepersekian detik. Sedetik. Semenit. Sejam. Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Sewindu. Seabad. Semilenium. Ke belakang atau ke depan.
Kini aku menyadarinya mengapa waktu yang membawa aku pergi, karena aku berimajinasi dan bertindak di dalam ruang dan waktu itu sendiri. Ruang terkadang konstan dari bermacam perspektif, tetapi waktu terus berjalan meskipun aku hanya diam ketika berada dalam ruang yang statis.
Ruang dan waktu. Di dalam ruang ada waktu dan di dalam waktu ada ruang.
Aku sendiri tidak berarti bagi waktu, tetapi aku hanya sedikit berarti bagi orang-orang yang juga menempati ruang dan orang-orang yang dibawa waktu. Juga bagi orang-orang yang kehilangan sedikit waktu di dalam unconsciousness-nya menjalani waktu itu sendiri.
***
Di persimpangan itu dulu aku menunggu angkutan pertama hingga aku bisa berada di angkutan yang aku tumpangi ini. Kini aku sedang dalam perjalanan. Tidak cukup satu angkutan saja yang bisa membawaku. Tetapi aku harus estafet dari satu angkutan ke angkutan lainnya.
Di persimpangan kampung itu aku memulai keberangkatanku dengan angkutan desa, keluar dari kampung itu supaya bisa mendapat angkutan selanjutnya.
Angkutan desa. Sopir desa dan kondekturnya desa. Bahasanya desa, bahasa keramahtamahan. Sikapnya desa, sikap saling menghargai. Kedermawanannya juga desa, menolong tanpa pamrih. Orang-orang kampung itulah rata-rata penumpang angkutan desa.
Aku adalah penumpang bersama orang-orang kampung yang ada di dalam angkutan desa. Mereka, sopir, kondektur, dan para penumpang bertanya, aku akan ke mana? Aku menjawab, aku akan melakukan perjalanan sesuai yang dilakukan banyak orang, karena umur memaksaku untuk terus bergerak. Menjalankan kodratku sebagai manusia dimuka bumi. Jawabanku dihargai, mereka mengucapkan nasehat-nasehat. Hati-hati dalam setiap perjalanan, ingatlah pepatah pendahulu kita – di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung - alam terkembang jadikan guru - dalam setiap denyut nadi, Allah mengetahui keberadaanmu. Jika Allah mengingatmu maka jangan sekali-kali kamu melupakan Dia.
Aku merasa bangga dengan perjalanan yang akan aku hadapi ini. Kebanggaan itu tidak akan ada artinya jika tidak ada pertanyaan-pertanyaan dari penumpang orang-orang kampung ini. Bukankah bagian terbesar dari kebanggaan itu karena adanya orang-orang disekitar kita? Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang cendrung membutuhkan penghargaan dan makhluk yang melakukan segala ekspresi , eksistensi dan kemampuan diri di tengah-tengah lingkungan sosialnya.
Aku turun dari angkutan desa itu ketika sampai di persimpangan kedua dan harus melanjutkan perjalanan dengan naik pedati melewati perbukitan, nanti di belakang Puncak Merpati aku akan bertemu simpang yang kedua. Aku akan menunggu angkutan selanjutnya. Sambil menunggu aku akan membaca koran dan buku-buku yang sengaja aku bawa untuk bekal hidup.
Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Karena menunggu adalah kesabaran. Sudah habis buku-buku aku baca dan koran pun sudah kadarluarsa. Bahkan beberapa buku aku koyak karena kebosanan ini. Tubuhku sudah pegal duduk menunggu.
Belum juga ada angkutan ketika aku melihat ke jalur angkutan dari beberapa arah. Sedangkan waktu akan terus berjalan dan usiaku pun telah bertambah. Belum juga ada angkutan. Apakah aku harus pulang ke kampung? Tetapi tidak ada angkutan juga.
Dalam kondisi penantian seperti inilah tujuan semakin tidak tentu arah, dari tujuan-tujuan yang sebenarnya tidak di mengerti. Untuk apa aku menunggu angkutan? Mengapa aku harus melakukan perjalanan? Untuk apa buku-buku dan koran-koran? Apa kita buang saja dia?
Aku merasa kehilangan sesuatu.
Apa yang hilang? Apa yang kurang?
Setelah aku pikir-pikir tidak ada yang hilang karena aku tidak membawa apa pun selain dari buku dan koran, dan tidak pula mendapatkan sesuatu berupa objek. Tetapi yang kurang banyak. Yah! Banyak yang kurang.
Belum lagi selesai aku berpikir menjawab kebingunganku, datang seorang bapak menghampiriku. Dia duduk di sebelahku. Dia tersenyum padaku.
“Mau pergi?” tanya-nya.
“Iya, Pak. Tetapi saya bingung tidak ada angkutan yang lewat.”
“Sebentar lagi biasanya angkutan akan ramai. Kamu akan ke mana?”
“Saya tidak tahu mau ke mana, Pak?”
“Kamu punya uang untuk ongkos?”
“Habis, Pak. Gara-gara menunggu angkutan.”
Bapak itu tersenyum. Sedangkan aku gelisah memikirkan diriku akan ke mana?
“Kamu mau bekerja bersama bapak?”
“Mau, Pak!” aku memberi tekanan intonasi pada Pak.
“Mari ikut bapak, kita akan berkuli,” ajak si bapak sambil membawaku ke rumahnya yang agak jauh dari simpang itu.
Aku mengikuti si bapak dari belakang. Kemudian aku mempercepat langkah agar sejajar dengannya.
“Pak. Kenalkan nama saya, Syahdan.”
“Panggil saya, Pak Edi,” ujarnya menyambut salamku. Genggaman tangannya erat dan kokoh, sepertinya Pak Edi pekerja keras.
Sesampai di rumahnya, aku di perkenalkan kepada keluarganya, dibuatkan minum dan di suruh makan sepuasnya.
Semenjak hari itu aku hidup dengan mereka, aku mengambil sedikit kebahagian mereka. Pak Edi dan keluarganya sudah menganggap aku seperti adiknya sendiri.
Besok pagi kita mulai bekerja, kata Pak Edi. Aku manggut-manggut saja.
Pagi jam 6.30, kami mulai menggali lubang untuk pondasi tembok sekolah itu. Setiap bangunan harus diberi pondasi yang kuat. Kita akan sedikit menanamnya, agar pagar yang kita dirikan kokoh, jadi pagar ini harus mempunyai dasar yang kuat agar tidak goyang. Begitu juga kehidupan ini, ciptakan pondasi dalam diri agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang akan merugikan, kata Pak Edi.
Galian pondasi selesai setelah beberapa hari.
Pagi ketika anak-anak di sekolah baru berdatangan kami sudah setengah jam larut dalam pekerjaan. Mengayak pasir lalu mencampurnya dengan semen dan diaduk dengan air. Mulai membangun pondasi dengan batu alam. Ternyata pondasi buatan Pak Edi jika dibandingkan dengan pondasi tukang lainnya jauh berbeda. Dalam bekerja Pak Edi punya prinsip. Segala sesuatu mesti dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pak Edi bekerja dengan kepuasan hasil kerjanya, bukan dari apa yang akan diterimanya dari kerja.
Setelah dua minggu pengerjaan pagar aku diberi upah oleh Pak Edi. Itulah kebahagian pertama yang aku rasakan. Menerima uang dari keringat. Aku bisa membeli sandal dan baju. Aku juga membeli buku. Aku bahagia dan banyak mendapat pelajaran dari Pak Edi. Kadang aku berpikir bahwa ada beberapa prinsip hidup Pak Edi yang tertanam di jiwaku.
Disela-sela perkerjaan yang boleh dikatakan berkuli, aku juga membantu-bantu di warung Pak Edi yang terletak di pojok sekolah. Aku melakukan setiap pekerjaan dengan senang, menggoreng, mencuci piring, menghidangkan. Apakah ada kebahagian seperti itu akan datang?
Setahun berlalu. Usiaku bertambah. Waktu berjalan. Angkutan-angkutan akan membawaku kembali. Perjalanan. Panjang.
Aku mohon pamit kepada Pak Edi dan keluarga. Pak Edi sosok rendah hati, tapi kokoh dalam prinsip dan harga diri.
“Pak. Waktu telah berlalu, saya dijemputnya untuk sebuah perjalanan lagi. Saya akan pergi, Pak. Saya mengucapkan terima kasih atas segala kemurahan hati Pak Edi menerima saya selama ini,” kataku kepada Pak Edi. Memang, aku tidak menangis tapi aku hanya kuatir apa masih bisa bertemu lagi dengan beliau, karena aku tidak akan pernah tahu kemana dan berapa lama perjalananku ini.
Pak Edi orang yang periang, beliau tersenyum dan sering tersenyum di sela-sela omongannya. Beliau bilang, kamu laki-laki jika ingin berjalan langkahkan kaki. Jadilah laki-laki jangan seperti laki-laki.
Aku jauh berjalan, persimpangan lagi. Ada angkutan. Aku menyetop, naik. Penumpangnya hanya dua orang wanita, satunya sudah agak tua. Angkutan ini tanpa kondektur. Mungkin karena angkutan kota. Dua orang di hadapanku memperhatikan gerak-gerikku dengan sinis. Apakah mereka menganggapku pencopet? Aku tidak berani menatap terlalu lama pada wanita yang sudah agak tua itu, karena setiap kali aku melihatnya dia selalu membelalakkan matanya. Walau aku sudah mencoba tersenyum dan menundukkan kepala padanya. Dia tetap bermuka suram, seperti aku pernah salah saja padanya.
Aku hanya seorang penumpang. Dan aku tidak tahu siapa dua wanita ini. Ahh… lebih baik aku duduk manis, tanpa merespon pandangan tajamnya. Biarkan dosa-dosa angkuh menyelubunginya. Aku akan duduk tenang dan tidur.
* * *
“Ha-ha..ha…!” menggelegar tawa si wanita tua. Aku terkejut, dia menendang kakiku dengan membelalakkan matanya dia berkata, “Hey! Akulah penguasa di sini semua harus patuh dengan komandoku!” aku mengangguk. Wanita ini menyeramkan, membuat tubuhku terasa kaku seperti batu. Dia pantas dipanggil wanita karena perempuan hanya ibuku.
Jika jiwa di bawah komandonya, apakah jiwa ini budak dalam istananya? Atau abdi-abdi kandang dan budak bagi ego-ego pelampiasan emosi? Lalu di mana istana jiwa? Kedamaian jiwa? Istana. Istana. Istana…!! Teriakku.
“Hey! Jangan berteriak di istanaku!” bentak wanita tua itu, “Yang boleh berteriak hanya aku. Aku ratu di sini!”
“DAN KAU!” hardiknya, “Harus patuh padaku!”
Aku menunduk, kasihan jiwaku. Menangis ragaku. Tertawalah ratu itu. Oh… belenggu. Belenggu jiwaku. Terpasung imajiku dalam sebuah perjalanan. Penjarakan tubuhku dalam jeruji-jeruji keterbelakangan. Lepaskan aku. Lepaskan aku! Teriakku meronta.
* * *
“Hei…hei,” tegur wanita tua itu menyenggol-nyenggol kakiku, membangunkan aku dari tidur yang baru saja menggigau. Aku mengucek-ucek mataku. Nafasku sesak. Aku kembali melihat dua wanita itu.
“Hei… sampean kira ini mobil buuapak mu?! Pake acara-acara tidur gitu toh?” (bahasa jawanya apa?) ujarnya dengan intonasi jawa.
Aku menggeleng, seraya melihat ke mata supir yang terpantul dari kaca spion di depannya. Mata itu seperti tersenyum, lalu matanya beralih ke sisi kiri jalan ketika sepasang suami istri menyetop angkutannya.
Suami istri itu naik. Aku menggeser dudukku ke pojok belakang. Ketika angkutan akan berjalan, sang suami berkata supaya mobil jangan dimajukan dulu, karena dia dan istrinya belum dapat tempat duduk yang enak. Mobil urung berjalan.
“Dek-dek… kamu pindah ke dekat pintu!” ujar si suami itu padaku. Aku pindah duduk ke dekat pintu dan tempatku semula didudukinya. Sedangkan istrinya di sebelahku, sambil menebar senyum kepada kedua wanita yang duduk di hadapannya. Dia juga tersenyum padaku, aku berpikir istrinya cukup ramah.
Angkutan mulai berjalan pelan. Kira-kira baru lima ratus meter, duduk si istri pun mulai gelisah. “Ahh…! Pak supir, berhenti dulu dong,” ujarnya, angkutan pun menepi dan berhenti, “Saya kesempitan. Dek kamu pindah ke situ aja!” suruhnya menunjuk-nunjuk bangku serap di belakang supir. Aku pindah lagi, lebih baik aku mencari tempat yang aman saja.
Angkutan kembali berjalan setelah pak supir memastikan kepada si istri itu.
Aku membuka bukuku dan larut dalam bacaan. Di buku itu ada kalimat yang terbaca olehku, orang ketiga cendrung mendapat perlampiasan emosi ketika keinginan-keinginan tidak terpenuhi oleh orang-orang yang menganggap harga dirinya lebih tinggi dari orang ketiga tersebut.
Apakah orang ketiga yang dimaksud buku ini, aku? Lalu bagaimana cara aku menempatkan diri dekat orang-orang seperti ini?
Aku bolak-balik bukuku mencari jawabannya, tetapi tidak ada. Aku buka kembali buku kedua, juga tidak ada. Aku gelisah. Aku harus bagaimana bersikap. Sekilas aku melempar pandangan kepada dua wanita dan suami istri itu, mereka mendongakkan kepala. Seakan kepala mereka itu tidak bersahabat, apa lihat-lihat! Jangan main-main di daerah kekuasaan kami! Mungkin begitu pikir mereka.
Aku mempraktekkan kalimat dalam buku itu kepada pak supir. Aku akan berteman dengannya. Bukan untuk melampiaskan emosiku.
Masih ada orang-orang yang mau melihat kita apa adanya.
Dan ternyata benar, ketika ban angkutan itu bocor, aku membantu pak supir. Membuka baut, menuruni ban serap lalu menggantinya.
“Pak. wanita itu pemilik angkutan ini, ya?”
“Bukan.”
“Tetapi mengapa seperti dia pemiliknya?”
“Ya. Sama seperti sepasang suami istri itu” sahut pak supir itu sambil menurunkan dongkrak. “Mereka akan seperti itu, jadi tidak usah kamu dengarkan. Apalagi masukan dalam hati,” sambungnya.
Aku mengangguk. “Pak, masih jauh perjalanan kita?” tanyaku lagi.
“Wah. Tergantung waktu, kalau angkutan ini cepat penuh. Berarti kita akan cepat sampai di tujuan,” jawabnya. Memang angkutan ini jalannya agak pelan.
“Kamu bisa bantu saya cari penumpang? Kamu cukup memanggil penumpang yang berdiri dipinggir jalan. Nanti kamu akan saya gaji,” tawar pak supir.
“Mau, Pak.”
Mulailah aku memanggil-manggil calon penumpang. Sesekali berteriak. Hah.. sekarang aku kondektur tapi di sela-sela itu aku masih tetap membaca buku.
Cukup lama perjalanan ini dan aku pun mulai bosan. Kapan akan berakhir semua ini? Umurku sudah bertambah juga tapi kehidupan masih seperti itu-itu juga.
“Nak. Dua tikungan lagi kita akan sampai di tujuan. Tikungan pertama setelah gedung perkuliahan itu dan tikungan kedua setelah kantor swasta itu. Kamu hendak kemana, nak?” ujar supir itu.
“Saya tidak tahu akan kemana, pak. Tetapi saya akan melakukan perjalanan lagi. Bukankah hidup ini sebuah perjalanan? Saya mungkin laki-laki petualang, pak. Bukankah seorang laki-laki mestinya bersikap berpetualang?” jawabku.
“Mengapa kamu tidak di sini saja? Lebih baik di sini,” tawar pak supir lagi.
“Tidak, pak. Kata hati saya mengatakan kota ini sangat buruk untuk perjalanan hidup saya ke depan. Saya seperti ditunggu-tunggu oleh kota lain yang lebih menjanjikan masa depan saya. Saya akan mencari kota itu, pak. Walau tujuan sebenarnya masih mengambang,” jawabku, saat itu angkutan sudah hampir tiba di tikungan kedua.
“Ya. Lakukanlah,”
***
Tidak lama menunggu, angkutan lain siap membawaku ke kota lain. Perjalanan yang indah menuju kota impian. Melewati pesisir, perbukitan, dan sungai-sungai yang menjelma seperti benang sutera yang siap dirajut. Elang mengejarku, seolah menantangku untuk berlomba dengan angkutan yang membawaku.
Kau tidak akan terkalahkan olehku, elang. Karena aku lambat dan lebih lambat dari siput. Tapi tahukah engkau dongeng tentang siput yang mengalahkan kancil dalam perlombaan lari? Secerdik-cerdiknya akal kancil ternyata masih ada yang lebih cerdik dari dia. Tapi aku tidak akan memakai akal siput maupun kancil dalam setiap perlombaan, perjalanan dan keputusan. Karena bagiku harga diri bukanlah ditentukan oleh kemenangan atas sebuah perlombaan dengan akal-akal kancil ataupun siput, tetapi harga diri adalah prinsip untuk mempertahan kebijaksanaan kejujuran dalam sebuah pertarungan. Meskipun akan membawa kekalahan. Kekalahan karena kejujuran jauh lebih baik dari pada menang karena akal bulus, sebab dosa itu akan berantai. Seperti perkawinan dan kelahiran, perkawinan dan kelahiran lagi.
Elang menjauh, ketika aku mengakui kekalahanku.
***
Dan tibalah aku di kota yang baru.
Kota ini bagaikan surga dunia, sebagian wanitanya membukakan dada untuk dipamerkan tapi sebagian lagi memperlihatkan pahanya. Mereka wanita-wanita yang sepertinya menawarkan tubuhnya untuk dijamah.
Di sudut lainnya aku melihat wanita-wanita merokok, memainkan jari-jari lentik di sebatang rokok yang mereka hisap, seperti permen tangkai mereka mengulum filter rokok itu.
Di sisi lain kota ini aku juga melihat sebagian kecil perempuan yang memaki jilbab. Kesucian, keanggunan, kewibawaan dan kedewasan terpancar dari wajah mereka. Hatiku damai melihat yang begini, tetapi tidak bisa menolak pandangan wanita seronok tadi.
Kedamaian pandanganku lalu dikacau oleh perempuan-perempuan berjilbab yang memperlihatkan lekuk tubuh dengan pakaian ketat yang terkadang memperlihatkan kutang berwarna hitam, atau lubang pusar mereka yang jelek. Perempuan-perempuan beginilah yang akan mengikis norma-norma ketetapan. Lama-lama menjadi trend dalam berbusana, berjilbab tapi setengah membuka aurat. Apakah mereka tidak siap dengan jilbab penutup auratnya?
Lalu, orang-orang di kota ini seperti berlari, tanpa menghiraukan yang lain kecuali diri sendiri. Sikap borjuis kecil telah tertanam di penduduk kota ini yang sebagian mengaku sebagai penduduk urban. Mereka akan mengeser seenaknya, semaunya asalkan mereka mendapat posisi yang enak. Tak peduli kaki orang terinjak atau akan terjatuh karena ulahnya. Mereka sepertinya mempelajari teori dialektika secara berlebihan. Begitu sebagian manusia di kota ini. Apakah KAMU juga begitu?
Tidak semuanya begitu, aku lihat masih ada orang-orang baik yang senang mengunjungi mesjid dan pengajian. Tetapi menemukan orang baik yang begini agak sulit di kota ini. Banyak bermuka dua, di depan bermuka manusia tetapi di belakang bermuka monyet.
Pemandangan ini dapat dilihat dari atas angkutan yang seadanya hingga angkutan yang sedikit mewah dan mewah. Kini aku sedang menumpang dalam angkutan mewah itu, berjalan-jalan mengitari kota mencari tempat pemberhentian sebagai tujuan terakhir.
Banyak tempat pemberhentian yang bisa aku turuni, tetapi tidak layak bagiku untuk turun karena pemberhentian itu melanggar norma dan perundang-undangan pendiriannya. Bukankah norma dan perundang-undangan itu diadakan untuk mengingatkan kita akan dosa dan pelanggaran? Bukannya untuk dilanggar.
Tetapi pemberhentian yang layak belum memperbolehkan aku untuk turun karena karcisku sudah kadarluasa. Mereka mau karcis keluaran terbaru.
Aku sedang mencari akal untuk turun. Atau apakah aku akan turun di tempat pemberhentian yang tidak layak, kemudian membeli karcis keluaran baru dan naik lagi ke angkutan ini sebagai penumpang. Lalu, baru turun di pemberhentian yang layak?
Tidak! Dosa tidak akan pernah hilang begitu saja.
Atau?! Aku harus menunggu keajaiban. Berharap penumpang lain memiliki karcis keluaran terbaru dan memberikannya satu padaku. Tetapi berharap saja tidak cukup!
Untungnya supir yang membawa angkutan mewah ini berbaik hati padaku, dia tidak mengomel atau bermuka masam. Yang penting aku tahu diri saja di angkutan ini, kapan aku harus duduk dan kapan aku harus berdiri. Tetapi dia kurang memberikan pemecahan, bagiku itu wajar karena dia mengendarai angkutan ini.
Belum semua bagian kota ini dikelilingi, baru sebagian kecil. Aku akan tetap mengelilinginya di sela-sela bacaan bukuku, hingga ada tempat pemberhentian layak yang mau menerima karcis kadarluasaku.
Seperti yang sudah aku katakan, lebih baik kalah dengan benar dari pada menang dengan salah.
Pabuaran
26 Februari 2006 – 6 Maret 2008