Laki-laki itu bernama Nathan. Ia tinggal dalam keramaian namun hidup dalam kesepian. Hatinya butuh ruang untuk sepenggal kedamaian. Ia mencari pemahaman tentang hubungan yang saling turun temurun, turunan sebuah persamaan dalam graha tempat ia menetap.
Ketika Nathan mulai hidup di dunia yang katanya indah itu, di dalam lingkungan graha yang berkedudukan tinggi itu, di dalam jiwa-jiwa yang dilingkari oleh suasana penuh rasa sentimentil. Nathan mencoba mencerna pola-pola yang tidak tertulis dalam bersikap.
Nathan berusaha menelusuri langkah-langkah pencarian pemaknaan itu di dalam waktu dan alur yang sama, sesekali ia memutar kilas episode kemarin. Tetapi semuanya itu hanya semu dan sepi.
Ia tidak menemukan jawabannya. Sama kondisinya, sama aksinya, sama reaksinya. Dan sama sikap sentimentil itu.
Dalam satu periode waktu yang mengasingkannya dari penetapan itu, ia terus mencoba beradaptasi. Berlaku lebih lembut dan tunduk, dari kerasnya sikap dan prinsip hidupnya.
Ia mulai melakukan pencarian yang lain, agar hidupnya yang tinggal dikeramaian namun hidup dalam kesepian itu, berubah dengan keseimbangan antara keramaian dan kesepian.
Ia melirik ke segala penjuru dan sudut-sudut, namun tidak menemui apa-apa, hanya masih sunyi!
Kesunyian itu mengundang sesosok Peri di hadapannya, yang entah utusan dari mana. Tapi kini Peri itu datang mengetuk pintu imajinasinya. Mereka bercengkrama, bagaikan seorang sahabat lama yang baru berjumpa. Mungkin ada sebersit kerinduan di antara mereka.
Lalu, Nathan dibawanya terbang menuju alam kedamaian. Yang tak terjamah oleh tangan dan orang-orang yang mengaku dirinya suci. Nathan jauh dari orang-orang yang selama ini mengecilkanya. Dia tahu, karena orang itu tidak tahu tentang dirinya. Ego mempersempit hatinya untuk Nathan dan melebarkanya untuk orang lain.
Dia orang berhulu dan bermuara sama. Seperti pagi yang muncul karena matahari tenggelam di ufuk sana dan yang memberikan cahaya pada bulan, mereka bertiga dalam satu galaksi itu. Mereka terhubung oleh sel-sel DNA yang mewaris.
Nathan telah jauh terbang dibawa Peri itu ke suatu tempat yang tidak begitu terlukiskan keindahannya. Desiran angin membuka mulut pori-porinya, butiran air terdengar bagaikan sebuah instrumen stress relaxtion therapy, bersamaan dengan siulan nuri dengan efek berbeda yang memanggil-manggil kawanan burung gereja, lalu suara simpanse yang bersahutan-sahutan bagaikan sebuah permainan perkusi yang apik. Nyanyian alam tidak akan pernah ada yang menandinginya, kerena disana ada keseimbangan dan keteraturan yang harmonis yang ciptakan oleh Pencipta yang sering terlupakan.
Aroma si mekar pun tidak mau kalah, ia memberi tanda kehidupan baru. Ranting cemara sepertinya kokoh dan tak habis dimakan usia.
Beberapa pasang kupu-kupu saling berkejaran meneriakkan yel-yel kedamaian, atau mungkin ingin memadu kasih dengan pasangan mereka. Sinar mentari pun menembus lapisan langit disaat memberi tempat pada kehijauan dedaunan.
Saat suasana begitu sempurnanya, Nathan disuguhkan anggur pencuci mulut dengan hidangan-hidangan pembersih getaran nurani.
Dalam pada itulah Sang Peri menatapnya, menggariskan seulas senyuman. Dengan menopangkan dagu pada kedua tangannya, lantas Sang Peri berkata, “Tak ada di dunia ini makhluk yang hidup sendirian, semuanya punya peri-peri dalam jiwa yang bisa membawanya ke segala penjuru. Jika engkau butuh Peri, panggillah aku. Jika engkau ragu, peluklah malam, koyaklah busana-busana yang dipakai oleh sang malam dan kecuplah rembulan tetapi jangan menghitung bintang gemintang”.
Nathan tertegun lalu menatap Sang Peri yang masih tersenyum, mungkin senyum pelipur lara. Pandangannya bercahaya menusuk retina, matanya menangkap penuh tubuh Nathan.
Tak lama kemudian Nathan bertanya,”Kenapa seperti itu?”
Dengan memegang pundak Nathan, Sang Peri menjawab dengan segala kasihnya, “Nanti engkau akan mengerti ketukan-ketukan kesendirian, nanti engkau akan memahami nada-nada kehidupan. Selama bertahun-tahun aku telah menemanimu, mengawasimu, merepotkanmu dan menghiburmu, namun engkau tak pernah tahu. Kenapa hari ini kita bertemu, karena aku telah memahamimu dan karena engkau telah berusaha menemukanku dan mengundangku”
Dalam tatapan Nathan yang penuh keheranan, Peri pun menggenggam kedua tangannya, lantas membawanya terbang kembali, dilepas oleh keberatan kupu-kupu yang sedang ingin disaksikan dalam perlombaannya.
Mereka terbang dan jauh.
Selama perjalanan itu Nathan melihat lambaian rerumputan, bisikkan bebatuan, getaran pergunungan serta liukkan perbukitan. Namun di suatu tempat mereka berhenti. Sang Peri menatapnya penuh, lantas berkata dengan air mata yang berlinang. Perlahan mengalir seperti anak sungai kecil, “Aku tak bisa membawamu terbang lebih jauh lagi dan mengantarkanmu pulang, tapi aku akan menunjukkan jalan pulang untukmu. Terbanglah ke arah timur, sesampainya engkau di sana hiduplah dengan senyuman, langkahkan kaki dengan kekuatan tulang belulang, lalu tancapkan hatimu untuk hari esok sebab kita tak akan pernah tahu tentang hari esok, namun jika engkau butuh aku, panggillah aku di malam-malam resahmu. Selamat jalan…”
Nathan tersekat dalam nafasnya yang sesak, memohon jangan pergi. Nathan mencegahnya berusaha menggapai kepergiannya, berusaha menarik selendang birunya. Namun sia-sia, ia memandang ke sekeliling, berteriak-teriak tapi hanya gema suaranya yang mampu mengembalikan panggilan itu.
Nathan diam membisu, larut dalam pikirannya. Ia memandang keempat penjuru. Utara. Selatan. Barat dan timur. Sejenak ia merentangkan tangannya, lalu berputar dengan kepala menengadah dan matanya yang terpejam. Nathan menikmati relaksasi itu. Sebait senyum tersungging di bibirnya.
Akhirnya, Nathan memutuskan untuk terbang ke arah timur di mana tempat sang surya terbit mengawali hari. Nathan kembali menemukan suasana sepi, namun burung-burung terdengar mulai berkicau dan hujan pun turun. Akahkan ini pertanda anugerah? Bisiknya.
My Old Papers
Senin, 29 Desember 2003 – 21:05 WIB
No Place About This!
1 komentar:
Bgus n' creativ.
Ni saya Ahmad Fadiilah XI Is-7
Posting Komentar