Yuan. Baru selesai makan malam bersama keluarganya. Seperti biasa mereka menetralisir kekenyangan dengan berita-berita terkini di televisi. Sesekali berdiskusi tentang carut marut persoalan bangsa dan negara ini, dari berita yang disiarkan itu.
Bangsa ini telah dianugerahi oleh Tuhan, tanah air yang indah dan kaya raya. Bagaikan untaian zamrud di khatulistiwa, katanya. Tahu tentang zamrud? Batu alam berwarna hijau yang umumnya dipakai oleh kaum laki-laki sebagai akik perhiasan di jemari mereka. Karena warnanya menurut para pencinta batu, zamrud dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan merangsang percintaan.
Jika dikaitkan dengan tanah air ini, mungkin sedikit benarnya. Bangsa ini beruntung dengan kekayaan tanah airnya, beruntung karena kemerdekaan yang telah diperoleh selama 63 tahun. Tapi untuk ukuran sekarang, masih bisakah kita mengassosiasikannya sebagai bangsa yang beruntung? Jangan-jangan tinggal buntung.
Lihat, bagaimana kemelut yang terjadi dalam 10 tahun terakhir ini? Mulai dari masalah sosial, ekonomi, dan terlebih politik. Ck…ck…ck…, parah! Bagaimana mungkin bangsa yang beragama ini bisa saling hasut, saling bunuh dan saling bakar? Bagaimana mungkin negara yang beragama ini bisa saling korup? Negara ini tidak butuh orang-orang pintar, sebab kejahatan orang pintar jauh lebih berbahaya dari orang bodoh. Lalu orang-orang seperti apa yang dibutuhkan oleh negara ini? Jujur, bijaksana dan manusiawi? Sepertinya kata ini sudah basi untuk menutupi kemunafikan. Tetapi setidaknya negara dan bangsa ini perlu orang-orang yang menggunakan hati nuraninya untuk berpikir dan bertindak.
Kita memang mesti kembali menelaah sejarah. Dulu, di bangsa ini banyak orang-orang besar dan hebat dalam memperjuangkan kemerdekaan di tanah air ini. Dan kita memang mesti belajar dari sikap serta cara pandang mereka dalam menata negara dan bangsa.
Salah satu adalah Ibrahim Bin Rasad yang rela dan ikhlas kehilangan kemerdekaan dirinya, demi menghendaki kemerdekaan umum. Tahu siapa dia? Beliau lebih dikenal dengan sebutan Tan Malaka. Penunjuk jalan dan arah kemerdekaan 100%.
Bangsa ini juga seperti melupakan pahlawan-pahlawannya, para pembesar yang telah meletakkan pondasi untuk kemerdekaan. Barangkali bukan melupakan tetapi kurang mau belajar dari mereka.
Sekarang? Bangsa makin kacau, negara malah makin korup. Seolah reformasi yang pernah dibesar-besarkan hanya sebuah kata puitis untuk kebebasan-kebebasan sekelompok orang yang sepertinya menelurkan kembali ide-ide lama dari bangsa borjuis.
…
Yuan berdiri, ia mendengus ketika iklan-iklan gombal menganggu siaran berita. Ia beranjak ke ruang sebelah karena akan merokok, tapi dari sana ia masih bisa menyaksikan berita. Yuan sengaja menjauhkan asap rokok dari keponakan-keponakannya yang masih SD. “Cukup Om saja yang menghisap racun,” begitu katanya kepada Fira, keponakan yang paling kecil.
Sambil menunggu iklan lewat, Yuan membuka buku pintar yang ada di sebelahnya. Buku memang bertebaran di rumahnya. Dibukanya secara acak bagian tengah buku itu. Bagian shio. Yuan tersenyum saat mendapati shio kudanya.
Kuda selalu tampak hebat dan menarik. Yuan pun tersenyum.
Ia gemar berpakaian rapi sesuai dengan hidupnya yang menyenagi kesenian. Kuda selalu tampak simpatik dan berpembawaan riang gembira. Yuan tidak lagi fokus dengan berita di televisi. Ia semakin dalam menghisap asap rokoknya.
Hasrat menjadi orang terkenal selalu menyala, ditunjang oleh kebolehannya menanggapi setiap persoalan dengan cepat. Kali ini lubang hidung Yuan membesar tiga mili.
Kuda pekerja yang tak kenal lelah, ia cukup menaruh perhatian pada nasib orang lain, apalagi nasib keluarganya. “Ah! Macam kenal saja pengarang ini denganku!” ujar Yuan dengan logat Batak, ia bukan berasal dari Suku Batak tapi ia suka dengan intonasi bahasa itu. Yuan kemudian memperkokoh duduknya dengan bersila.
“Enggg… inggg… onggg,” itu bunyi nada pesan dari handphone-nya.
Konsentrasi Yuan terpecah, ketika ia akan melanjutkan membaca kelemahan shio kuda. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia terganggu oleh short message service itu. Yuan berdiri lalu berjalan ke kamarnya dengan jawaban kelemahan shio itu di kepalanya. Egois, memaksakan kehendak, tidak sabaran dan keras kepala.
Ia masih penasaran dengan kelemahan shio kuda itu, ia pun kembali mengambil buku itu.
“Ah! Benar,” lirihnya.
…
Asalamu'alaikum yeye?lei houma?sik fan mei a? hai hiongkong yau san peng yeye? thung SARS koti ca'mto,hou keng a..tanhai leh chung ngaihim ke peng oi? Hehe..
“Ha…ha…ha…” Yuan tertawa membaca sms dari Yasha, ia garuk-garuk kepala, “Artinya apa, ya?” wajahnya seperti mencoba mencerna sms itu, hanya beberapa kata saja yang ia mengerti. Kemudian Yuan menghidupkan PC nya, membuka program translation Mandarin-Indonesia.
Assalamu’alaikum kek. Apa kabar? Udah makan belum? Di hongkong lagi kena virus baru kek. Selevel ama virus SARS. Yuan terkejut membaca terjemahan itu. Begitu seriuskah? Jangan-jangan virus itu, virus kakeknya flu burung? Pikirnya. Kemudian Ia melanjutkan terjemahannya. Ngeri dech…tapi masih ganas virus cinta kali, ya?hehe. Yuan terbahak-bahak, tawanya terlihat lebih lebar dari bibirnya yang penuh. Yuan cengar-cengir. Mondar-mandir di kamarnya memikirkan sesuatu.
Oww…! rupanya ia ingin membalas sms, itu? Tapi setelah di cek tertera, Masa Aktif Habis, Sisa pulsa Rp. 132. Batas Isi Ulang 05/04/08…Yuan terbahak lagi. Padahal ia sudah mengetahui pulsanya habis beberapa hari yang lalu seiring habisnya masa aktif berlaku kartu. “Masih sebulan lagi masa tenggangnya,” ujarnya.
…
Memang sudah beberapa hari ia tidak sempat ke warung internet, biasanya kesempatan itu digunakannya untuk chatting bersama Yasha yang sudah dikenalnya tiga bulan belakangan ini. Yasha seorang muslimah yang bekerja di Hongkong, juga kuliah. Ia tinggal di Kota Mongkok, Kowloon New Teritories.
Semenjak mengenal Yasha, ada perubahan yang dirasakan Yuan. Seperti keinginannya untuk belajar Bahasa Mandarin jadi lebih termotivasi. Dulu ia tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih, ketika habis belanja di toko Cina. Sekarang ia sudah bisa mengucapkan to ce atau sie sie.
Tetapi bukan hanya itu yang sebenarnya membuat Yuan betah berjam-jam duduk di warung internet. Adalah kemiripan Yasha dengan Vibi, yang juga dikenalnya di dunia maya itu. Mereka tidak hanya mirip dari photonya, tetapi juga dalam caranya berbahasa, sms-sms nya, dan cara mereka saling panggil, Kek dan Nek.
Yuan melamun.
Dulu Laila sering mengingatkan ia akan sholat, mungkin Laila tahu kalau Yuan sering bolong sholatnya. Atau mengingatkan Yuan akan makan siang, ketika Yuan masih bekerja. Laila tahu kalau Yuan malas makan, makanya badan Yuan kecil dan kempes. Dulu Laila juga sering mengirimkan sms-sms religi.
…
Aku melihat Laila pada Yasha. Mereka hanya punya kesamaan, tapi tetaplah berbeda. Apakah Yasha di utus oleh Tuhan sebagai pengganti Laila? Ah… Tidak, pikir Yuan. Ia menatap langit-langit kamarnya, sepasang cicak berkejaran, mungkin akan melakukan hasrat kebinatangannya, atau mungkin sedang berebut nyamuk yang tak berguna.
Subhanallah, Allah tidak malu menciptakan menciptakan walau seekor nyamuk, bukan karena banyak hikmah yang tersembunyi tapi karena tidak ada makhluk yang bisa membuat nyamuk.
Yuan membuka inbox pesan di handphone-nya. Ada beberapa sms dari Yasha yang belum di hapusnya.
Bersegerahlah kalian bersedekah, karena cobaan tidak akan singgah kepada orang-orang yang bersedekah. HR. Ath-Tabrani . Sms itu dikirim tangal 20 Februari 2008 23:01
Ada dan tiadanya harta adalah ujian. Saat seseorang bergelimang harta akankah dia bersyukur? Saat seseorang dalam kekurangan, akankah dia bersabar?. 6 Maret 2008 20:25
Yuan meletakkan hp nya di meja. Ingatannya kembali pada Yasha dan Laila.
Apakah Yasha itu Laila? Mengapa setiap kali aku chatting dengan Yasha, atau membaca sms dari Yasha, aku teringat Laila.
Yasha memang bukan Laila. Laila juga bukan Yasha. Laila telah menikah. Yasha belum. Seandainya dulu, Laila mendengar sedikit perasaanku dan berani menjatuhkan pilihannya padaku, tentu sekarang ia telah menjadi istriku dengan segala konsekuensiku akan membahagiakannya. Dan dengan janji yang tidak pernah terucapkan olehku, bahwa aku siap menerimanya. Hatiku adalah jaminan yang tak ternilai harganya bagi diriku. Mungkin telah terucap, bahwa akan aku korbankan apa yang bisa aku korbankan.
Sepertinya Yuan terlalu yakin dan gombal akan pikirannya.
Laila memang tidak pernah menyatakan perasaan sayangnya padaku, tetapi aku tahu bahwa dia mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Aku lebih percaya pada hatiku, ketimbangan apa yang dikatakan Laila padaku, bahwa ia tidak ada perasaan apa-apa padaku. Ya, walau akhirnya ia terpaksa mengatakan sayang padaku tetapi sebagai teman.
Aku bisa membaca Laila dari suaranya, aku bisa membaca Laila dari sms nya, aku bisa membaca Laila dari ketikan-ketikannya yang tertera di board yahoo messenger.
Apa artinya Yuuu…aaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnn!!!! sebuah teriakan yang diketiknya ketika chatting, aku tahu itu teriakan perasaannya padaku. Aku tahu jika hatinya sedang gundah menahan kerinduan. Aku pun begitu bahkan lebih.
Laila lebih bisa menahan emosinya ketimbang aku. Aku tidak bisa, disaat aku rindu aku katakan aku kangen kamu, saat aku merasa sayang aku katakan aku sayang kamu.
Apa Laila masih ingat tentang malam yang kami lalui dengan bintang? Atau malam-malam tanpa bintang yang membuat malam kami kelam.
Kami sama-sama berimajinasi pada bintang, karena hanya dengan melihat bintanglah kami bisa saling menatap dari jarak yang memisahkan. Dengan menunjuk satu rasi bintang, karena rasi itu bisa dilihat dari dua jarak yang berjauhan dan kami bisa mempertemukan pandangan di rasi itu. Lalu bercakap tentang kerlap-kerlipnya.
Laila?
Terkadang menyayangi seseorang memang tidak harus memilikinya. Aku menyadari itu di saat kekecewaan yang dalam terhadapnya. Kini doa yang bisa ku haturkan, semoga bahagia.
Yuan bangkit dari kasurnya, ia mengambil sebatang rokok. Lalu seteguk kopi akan menikmatkan rasa rokok yang akan dihisapnya.
Memory Yuan kembali me-restore ingatan yang hampir hilang.
Juga Yasha tidak sama dengan Nu setelah Laila. Nu, yang dikiranya akan mengembalikan rasa kehilangannya dari Laila tetapi tidak. Pada Nu, Yuan menemukan pihak-pihak yang melanggar kode etik tentang cinta dan pilihan. Yuan disisihkan oleh orang-orang yang merasa berkepentingan dalam hidup Nu. Yuan tahu, kalau sebenarnya Nu juga menyimpan perasaan yang sama.
Yuan dan Nu sama-sama besar dalam sebuah keteraturan dan ketetautan. Yuan lebih merasa tersakitkan, ketika Nu dialihkan saat Yuan kehilangan kehidupannya.
Nu?
Aku juga yakin padamu. Dan karena yakin itu aku berani menembus ruang hidup yang sebenarnya tidak pernah diinginkan orang lain. Dan karena yakinku itu aku berani mencoba hidup di luar jalur hidup yang aku jalani. Bukankah seseorang itu dikatakan baru hidup jika ia mulai mencoba hidup di luar kebiasaannya. Bersamamu Nu, aku akan hidup dalam kondisi itu.
Haha… kadang aku melihat orang lebih pengecut dari diriku. Bukan-bukan, bukan Nu. Tapi orang-orang berkepentingan dalam hidup Nu.
Nu?
Bersuami dan mungkin juga telah berbahagia. Aku melupakannya, dari pada aku dicurigai akan berselingkuh dengannya. Seperti mata-mata orang yang berkepentingan menatapku dengan selidik. Hiks.
Yasha.
Yika ha mai khui kwa cu ngo a?* Dengan sms-nya yang begitu.
Memang bukan Laila, bahkan juga bukan Nu. Ia hadir mirip Laila tetapi tidak untuk Nu. Apa yang bisa aku katakan pada Yasha? Apa aku juga akan mengatakan bahwa aku sayang padanya? Seperti aku pernah mengatakannya pada Laila. Juga rindu. Bintang. Malam.
Dulu aku bisa meyakinkan diri pada Laila dan Nu, tapi sekarang keyakinan itu memudar. Dulu aku yakin akan bisa membahagiakan, tapi sekarang aku kurang yakin untuk membahagiakan.
Eh! Ke mana keyakinanku dulu? Hilang di mana?
Aku takut mengecewakan Yasha, dia terlalu baik untuk aku kecewakan. Dia terlalu suci untuk aku khianati. Biarlah waktu menjawabnya, di dalam ruang yang tidak lagi berbatas dan jika keyakinan itu telah kembali, aku siap membahagiakannya.
Yuan menulis sebait pusisi.
Tapi apakah itu engkau
atau juga hanya engkau
dan itu juga engkau
juga pada engkau
apakah itu untuk ku
atau hanya ku
juga salahkah aku?
Yuan menutup malamnya dengan cahaya kamar yang gelap. Tidur dengan membawa mimpi yang kemaren dan siap menyambut pagi dengan kenyataannya.
*Yika ha Mai khui kwa cu ngo a? Apakah sekarang dia rindu padaku?
Kamis, 13 Maret 2008 19:25
biasalah….
Puisi Engkau
(Jum’at, 21 Feb 2003 14:00 Uncle House Jambi)
Bangsa ini telah dianugerahi oleh Tuhan, tanah air yang indah dan kaya raya. Bagaikan untaian zamrud di khatulistiwa, katanya. Tahu tentang zamrud? Batu alam berwarna hijau yang umumnya dipakai oleh kaum laki-laki sebagai akik perhiasan di jemari mereka. Karena warnanya menurut para pencinta batu, zamrud dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan merangsang percintaan.
Jika dikaitkan dengan tanah air ini, mungkin sedikit benarnya. Bangsa ini beruntung dengan kekayaan tanah airnya, beruntung karena kemerdekaan yang telah diperoleh selama 63 tahun. Tapi untuk ukuran sekarang, masih bisakah kita mengassosiasikannya sebagai bangsa yang beruntung? Jangan-jangan tinggal buntung.
Lihat, bagaimana kemelut yang terjadi dalam 10 tahun terakhir ini? Mulai dari masalah sosial, ekonomi, dan terlebih politik. Ck…ck…ck…, parah! Bagaimana mungkin bangsa yang beragama ini bisa saling hasut, saling bunuh dan saling bakar? Bagaimana mungkin negara yang beragama ini bisa saling korup? Negara ini tidak butuh orang-orang pintar, sebab kejahatan orang pintar jauh lebih berbahaya dari orang bodoh. Lalu orang-orang seperti apa yang dibutuhkan oleh negara ini? Jujur, bijaksana dan manusiawi? Sepertinya kata ini sudah basi untuk menutupi kemunafikan. Tetapi setidaknya negara dan bangsa ini perlu orang-orang yang menggunakan hati nuraninya untuk berpikir dan bertindak.
Kita memang mesti kembali menelaah sejarah. Dulu, di bangsa ini banyak orang-orang besar dan hebat dalam memperjuangkan kemerdekaan di tanah air ini. Dan kita memang mesti belajar dari sikap serta cara pandang mereka dalam menata negara dan bangsa.
Salah satu adalah Ibrahim Bin Rasad yang rela dan ikhlas kehilangan kemerdekaan dirinya, demi menghendaki kemerdekaan umum. Tahu siapa dia? Beliau lebih dikenal dengan sebutan Tan Malaka. Penunjuk jalan dan arah kemerdekaan 100%.
Bangsa ini juga seperti melupakan pahlawan-pahlawannya, para pembesar yang telah meletakkan pondasi untuk kemerdekaan. Barangkali bukan melupakan tetapi kurang mau belajar dari mereka.
Sekarang? Bangsa makin kacau, negara malah makin korup. Seolah reformasi yang pernah dibesar-besarkan hanya sebuah kata puitis untuk kebebasan-kebebasan sekelompok orang yang sepertinya menelurkan kembali ide-ide lama dari bangsa borjuis.
…
Yuan berdiri, ia mendengus ketika iklan-iklan gombal menganggu siaran berita. Ia beranjak ke ruang sebelah karena akan merokok, tapi dari sana ia masih bisa menyaksikan berita. Yuan sengaja menjauhkan asap rokok dari keponakan-keponakannya yang masih SD. “Cukup Om saja yang menghisap racun,” begitu katanya kepada Fira, keponakan yang paling kecil.
Sambil menunggu iklan lewat, Yuan membuka buku pintar yang ada di sebelahnya. Buku memang bertebaran di rumahnya. Dibukanya secara acak bagian tengah buku itu. Bagian shio. Yuan tersenyum saat mendapati shio kudanya.
Kuda selalu tampak hebat dan menarik. Yuan pun tersenyum.
Ia gemar berpakaian rapi sesuai dengan hidupnya yang menyenagi kesenian. Kuda selalu tampak simpatik dan berpembawaan riang gembira. Yuan tidak lagi fokus dengan berita di televisi. Ia semakin dalam menghisap asap rokoknya.
Hasrat menjadi orang terkenal selalu menyala, ditunjang oleh kebolehannya menanggapi setiap persoalan dengan cepat. Kali ini lubang hidung Yuan membesar tiga mili.
Kuda pekerja yang tak kenal lelah, ia cukup menaruh perhatian pada nasib orang lain, apalagi nasib keluarganya. “Ah! Macam kenal saja pengarang ini denganku!” ujar Yuan dengan logat Batak, ia bukan berasal dari Suku Batak tapi ia suka dengan intonasi bahasa itu. Yuan kemudian memperkokoh duduknya dengan bersila.
“Enggg… inggg… onggg,” itu bunyi nada pesan dari handphone-nya.
Konsentrasi Yuan terpecah, ketika ia akan melanjutkan membaca kelemahan shio kuda. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia terganggu oleh short message service itu. Yuan berdiri lalu berjalan ke kamarnya dengan jawaban kelemahan shio itu di kepalanya. Egois, memaksakan kehendak, tidak sabaran dan keras kepala.
Ia masih penasaran dengan kelemahan shio kuda itu, ia pun kembali mengambil buku itu.
“Ah! Benar,” lirihnya.
…
Asalamu'alaikum yeye?lei houma?sik fan mei a? hai hiongkong yau san peng yeye? thung SARS koti ca'mto,hou keng a..tanhai leh chung ngaihim ke peng oi? Hehe..
“Ha…ha…ha…” Yuan tertawa membaca sms dari Yasha, ia garuk-garuk kepala, “Artinya apa, ya?” wajahnya seperti mencoba mencerna sms itu, hanya beberapa kata saja yang ia mengerti. Kemudian Yuan menghidupkan PC nya, membuka program translation Mandarin-Indonesia.
Assalamu’alaikum kek. Apa kabar? Udah makan belum? Di hongkong lagi kena virus baru kek. Selevel ama virus SARS. Yuan terkejut membaca terjemahan itu. Begitu seriuskah? Jangan-jangan virus itu, virus kakeknya flu burung? Pikirnya. Kemudian Ia melanjutkan terjemahannya. Ngeri dech…tapi masih ganas virus cinta kali, ya?hehe. Yuan terbahak-bahak, tawanya terlihat lebih lebar dari bibirnya yang penuh. Yuan cengar-cengir. Mondar-mandir di kamarnya memikirkan sesuatu.
Oww…! rupanya ia ingin membalas sms, itu? Tapi setelah di cek tertera, Masa Aktif Habis, Sisa pulsa Rp. 132. Batas Isi Ulang 05/04/08…Yuan terbahak lagi. Padahal ia sudah mengetahui pulsanya habis beberapa hari yang lalu seiring habisnya masa aktif berlaku kartu. “Masih sebulan lagi masa tenggangnya,” ujarnya.
…
Memang sudah beberapa hari ia tidak sempat ke warung internet, biasanya kesempatan itu digunakannya untuk chatting bersama Yasha yang sudah dikenalnya tiga bulan belakangan ini. Yasha seorang muslimah yang bekerja di Hongkong, juga kuliah. Ia tinggal di Kota Mongkok, Kowloon New Teritories.
Semenjak mengenal Yasha, ada perubahan yang dirasakan Yuan. Seperti keinginannya untuk belajar Bahasa Mandarin jadi lebih termotivasi. Dulu ia tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih, ketika habis belanja di toko Cina. Sekarang ia sudah bisa mengucapkan to ce atau sie sie.
Tetapi bukan hanya itu yang sebenarnya membuat Yuan betah berjam-jam duduk di warung internet. Adalah kemiripan Yasha dengan Vibi, yang juga dikenalnya di dunia maya itu. Mereka tidak hanya mirip dari photonya, tetapi juga dalam caranya berbahasa, sms-sms nya, dan cara mereka saling panggil, Kek dan Nek.
Yuan melamun.
Dulu Laila sering mengingatkan ia akan sholat, mungkin Laila tahu kalau Yuan sering bolong sholatnya. Atau mengingatkan Yuan akan makan siang, ketika Yuan masih bekerja. Laila tahu kalau Yuan malas makan, makanya badan Yuan kecil dan kempes. Dulu Laila juga sering mengirimkan sms-sms religi.
…
Aku melihat Laila pada Yasha. Mereka hanya punya kesamaan, tapi tetaplah berbeda. Apakah Yasha di utus oleh Tuhan sebagai pengganti Laila? Ah… Tidak, pikir Yuan. Ia menatap langit-langit kamarnya, sepasang cicak berkejaran, mungkin akan melakukan hasrat kebinatangannya, atau mungkin sedang berebut nyamuk yang tak berguna.
Subhanallah, Allah tidak malu menciptakan menciptakan walau seekor nyamuk, bukan karena banyak hikmah yang tersembunyi tapi karena tidak ada makhluk yang bisa membuat nyamuk.
Yuan membuka inbox pesan di handphone-nya. Ada beberapa sms dari Yasha yang belum di hapusnya.
Bersegerahlah kalian bersedekah, karena cobaan tidak akan singgah kepada orang-orang yang bersedekah. HR. Ath-Tabrani . Sms itu dikirim tangal 20 Februari 2008 23:01
Ada dan tiadanya harta adalah ujian. Saat seseorang bergelimang harta akankah dia bersyukur? Saat seseorang dalam kekurangan, akankah dia bersabar?. 6 Maret 2008 20:25
Yuan meletakkan hp nya di meja. Ingatannya kembali pada Yasha dan Laila.
Apakah Yasha itu Laila? Mengapa setiap kali aku chatting dengan Yasha, atau membaca sms dari Yasha, aku teringat Laila.
Yasha memang bukan Laila. Laila juga bukan Yasha. Laila telah menikah. Yasha belum. Seandainya dulu, Laila mendengar sedikit perasaanku dan berani menjatuhkan pilihannya padaku, tentu sekarang ia telah menjadi istriku dengan segala konsekuensiku akan membahagiakannya. Dan dengan janji yang tidak pernah terucapkan olehku, bahwa aku siap menerimanya. Hatiku adalah jaminan yang tak ternilai harganya bagi diriku. Mungkin telah terucap, bahwa akan aku korbankan apa yang bisa aku korbankan.
Sepertinya Yuan terlalu yakin dan gombal akan pikirannya.
Laila memang tidak pernah menyatakan perasaan sayangnya padaku, tetapi aku tahu bahwa dia mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Aku lebih percaya pada hatiku, ketimbangan apa yang dikatakan Laila padaku, bahwa ia tidak ada perasaan apa-apa padaku. Ya, walau akhirnya ia terpaksa mengatakan sayang padaku tetapi sebagai teman.
Aku bisa membaca Laila dari suaranya, aku bisa membaca Laila dari sms nya, aku bisa membaca Laila dari ketikan-ketikannya yang tertera di board yahoo messenger.
Apa artinya Yuuu…aaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnn!!!! sebuah teriakan yang diketiknya ketika chatting, aku tahu itu teriakan perasaannya padaku. Aku tahu jika hatinya sedang gundah menahan kerinduan. Aku pun begitu bahkan lebih.
Laila lebih bisa menahan emosinya ketimbang aku. Aku tidak bisa, disaat aku rindu aku katakan aku kangen kamu, saat aku merasa sayang aku katakan aku sayang kamu.
Apa Laila masih ingat tentang malam yang kami lalui dengan bintang? Atau malam-malam tanpa bintang yang membuat malam kami kelam.
Kami sama-sama berimajinasi pada bintang, karena hanya dengan melihat bintanglah kami bisa saling menatap dari jarak yang memisahkan. Dengan menunjuk satu rasi bintang, karena rasi itu bisa dilihat dari dua jarak yang berjauhan dan kami bisa mempertemukan pandangan di rasi itu. Lalu bercakap tentang kerlap-kerlipnya.
Laila?
Terkadang menyayangi seseorang memang tidak harus memilikinya. Aku menyadari itu di saat kekecewaan yang dalam terhadapnya. Kini doa yang bisa ku haturkan, semoga bahagia.
Yuan bangkit dari kasurnya, ia mengambil sebatang rokok. Lalu seteguk kopi akan menikmatkan rasa rokok yang akan dihisapnya.
Memory Yuan kembali me-restore ingatan yang hampir hilang.
Juga Yasha tidak sama dengan Nu setelah Laila. Nu, yang dikiranya akan mengembalikan rasa kehilangannya dari Laila tetapi tidak. Pada Nu, Yuan menemukan pihak-pihak yang melanggar kode etik tentang cinta dan pilihan. Yuan disisihkan oleh orang-orang yang merasa berkepentingan dalam hidup Nu. Yuan tahu, kalau sebenarnya Nu juga menyimpan perasaan yang sama.
Yuan dan Nu sama-sama besar dalam sebuah keteraturan dan ketetautan. Yuan lebih merasa tersakitkan, ketika Nu dialihkan saat Yuan kehilangan kehidupannya.
Nu?
Aku juga yakin padamu. Dan karena yakin itu aku berani menembus ruang hidup yang sebenarnya tidak pernah diinginkan orang lain. Dan karena yakinku itu aku berani mencoba hidup di luar jalur hidup yang aku jalani. Bukankah seseorang itu dikatakan baru hidup jika ia mulai mencoba hidup di luar kebiasaannya. Bersamamu Nu, aku akan hidup dalam kondisi itu.
Haha… kadang aku melihat orang lebih pengecut dari diriku. Bukan-bukan, bukan Nu. Tapi orang-orang berkepentingan dalam hidup Nu.
Nu?
Bersuami dan mungkin juga telah berbahagia. Aku melupakannya, dari pada aku dicurigai akan berselingkuh dengannya. Seperti mata-mata orang yang berkepentingan menatapku dengan selidik. Hiks.
Yasha.
Yika ha mai khui kwa cu ngo a?* Dengan sms-nya yang begitu.
Memang bukan Laila, bahkan juga bukan Nu. Ia hadir mirip Laila tetapi tidak untuk Nu. Apa yang bisa aku katakan pada Yasha? Apa aku juga akan mengatakan bahwa aku sayang padanya? Seperti aku pernah mengatakannya pada Laila. Juga rindu. Bintang. Malam.
Dulu aku bisa meyakinkan diri pada Laila dan Nu, tapi sekarang keyakinan itu memudar. Dulu aku yakin akan bisa membahagiakan, tapi sekarang aku kurang yakin untuk membahagiakan.
Eh! Ke mana keyakinanku dulu? Hilang di mana?
Aku takut mengecewakan Yasha, dia terlalu baik untuk aku kecewakan. Dia terlalu suci untuk aku khianati. Biarlah waktu menjawabnya, di dalam ruang yang tidak lagi berbatas dan jika keyakinan itu telah kembali, aku siap membahagiakannya.
Yuan menulis sebait pusisi.
Tapi apakah itu engkau
atau juga hanya engkau
dan itu juga engkau
juga pada engkau
apakah itu untuk ku
atau hanya ku
juga salahkah aku?
Yuan menutup malamnya dengan cahaya kamar yang gelap. Tidur dengan membawa mimpi yang kemaren dan siap menyambut pagi dengan kenyataannya.
*Yika ha Mai khui kwa cu ngo a? Apakah sekarang dia rindu padaku?
Kamis, 13 Maret 2008 19:25
biasalah….
Puisi Engkau
(Jum’at, 21 Feb 2003 14:00 Uncle House Jambi)
0 komentar:
Posting Komentar