“Kamu kapan akan menyusul. Rul?” tanya Om Bambang tersenyum, ketika keluarga besar Arul berkumpul di rumah Tante Mirna membicarakan persiapan resepsi pernikahan Alex yang akan segera dilaksanakan.
Arul tersipu malu, mukanya memerah. Rasanya pertanyaan itu sedikit menyudutkannya. Kenapa tidak? Dengan keadaannya yang masih belum bekerja, serta ekonomi orang tua yang serba berkecukupan, Arul belum berani mengambil keputusan yang sakral itu.
“Jangan tunggu lama-lama. Rul!” ujar Om Bambang lagi.
Arul menghisap dalam-dalam asap rokoknya.
Arul seorang remaja dalam kategori dewasa, semenjak wisuda dari perguruan tinggi swasta belum juga mendapat kesempatan kerja yang lebih layak seperti sarjana-sarjana lainnya. Tetapi Arul bukanlah tipe orang yang suka memilih-milih pekerjaan, dia bukan pengangguran hanya saja ketetapan kerjanya belum jelas.
Sepenuhnya Arul menyadari bahwa dengan kemampuan nilai akademis yang baik belum tentu menjamin seseorang itu mampu bersaing dan beruntung mendapatkan pekerjaan yang layak ketika dia berhadapan dengan pasar tenaga kerja.
Arul selalu mengintrospeksi dirinya, di mana kesalahannya? Dia berusaha terus memperbaiki dirinya tetapi belum juga menunjukkan hasil yang sesuai dengan harapannya.
Masa berkeluh kesah pun sudah terlewati dalam hidupnya, namun dia menyadari setiap keluhannya itu ternyata tidak memberikan sesuatu yang lebih baik malah hanya semakin mempertebal sikap pesimismenya.
Kini tak ada lagi keluh kesah itu, kedewasaannya telah terbentuk dari keadaan hidup. Setelah masa itu berlalu dan berganti dengan sikap yang lebih positif, bahwa keberhasilan itu sepenuhnya bukan diukur berdasarkan status sosial serta dari apa yang kita miliki. Akan tetapi keberhasilan itu terletak bagaimana cara kita dalam memaknai hidup ini.
***
Bagi saya hidup bukanlah suatu perjuangan, karena kehidupan itu adalah kodrat dari Sang Khalik. Ketika kita menempatkan hidup sebagai sebuah perjuangan, berarti akan ada yang dikalahkan yaitu musuh.
Kita beranggapan bahwa ketika kita menginginkan kerberhasilan hidup, dalam hal ini materi atau status sosial maka kita harus berjuang mendapatkannya. Lalu kita mendapatkannya. Pertanyaan akan muncul, apa yang telah kita kalahkan dalam perjuangan itu? Apakah yang kita kalahkan itu adalah objek atau predikat yang menunjukkan suatu keadaan? Keduanya mungkin. Tetapi dalam hal ini saya memilih predikat sebagai hal yang telah terkalahkan, predikat itu adalah kemiskinan atau kekurangan.
Kata perjuangan beranalogi dengan kata memerangi. Apakah kita mesti memerangi kemiskinan?
Saya tidak setuju dengan pernyataan, ketika kita telah mendapatkan keberhasilan berarti kita telah mengalahkan kemiskinan. Karena, proses hidup seseorang di dunia ini untuk tetap eksis serta mendapatkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat adalah jalan yang memang harus ditempuhnya dengan “usaha dan upaya”-nya karena itulah Tuhan menciptakannya.
Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, bukan untuk berjuang melawan kemiskinan, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat.
Syukuri keadaan itu sebagai upaya untuk mendewasakan cara berpikir kearah yang lebih bijak. Dalam keadaan serba kekurangan itu, semestinya menjadikan seseorang itu lebih tahu diri dalam menata hidupnya, bukan semakin menghalalkan cara-cara yang mampu merendahkan harga diri, atau semakin menjerumuskan hidup dalam kefrustasian ataupun cukup dengan mengharapkan belas kasihan orang saja.
Kelemahan dari bangsa ini adalah sikap manja. Manja tidak akan pernah membuat kita jadi maju.
Bagi saya kemiskinan bukanlah musuh yang harus diperangi, tetapi kemiskinan adalah cobaan yang datang ketika kita melakukan kekeliruan dalam kehidupan kita. Selanjutnya adalah bagaimana upaya kita memperbaiki kekeliruan itu.
Bagi sebagian orang kemiskinan telah merupakan suatu ketakutan, syukuri kemiskinan itu sebagai suatu hal yang layak untuk dijalani dan mulailah berusaha untuk keluar dari keadaan itu.
Menurut sebuah penelitian psikologi, penyakit yang sedang menghinggapi manusia akhir-akhir ini adalah ketakutan. Jika kita kembali kepada Ayat-ayat Allah SWT, seperti Surat Al-Baqarah ayat 38 menjelaskan, bahwa jangan pernah takut pada apapun selama kita taat kepada Allah. Tapi takutlah kalau kita tidak taat kepada perintah Allah. Ketahuilah ciri-ciri orang yang mendapat hidayah Allah adalah ia tidak takut apa yang akan terjadi dan tidak bersedih atas apa yang sudah terjadi, semuanya Allah yang mengatur, menghendakinya.
Tidak satu jalan menuju Roma, tidak ada usaha yang tidak memberikan hasil yang baik, walau terkadang keberhasilan itu datangnya terlambat.
***
Begitu bunyi sebagian tulisan Arul yang pernah dikirimnya untuk suatu perlombaan karya tulis tentang kemiskinan, oleh sebuah majalah.
Ternyata keadaan hidup telah membuat Arul menyadari dan mensyukuri, dia terlihat lebih bijaksana dalam menghadapi kekurangannya.
Akan tetapi pertanyaan Om Bambang memancing emosinya.
Orang-orang di sini mungkin belum tahu yang sebenarnya. Aku punya pertimbangan tersendiri untuk keputusan itu. Bukan hal yang gampang bagiku! Baiklah Om Bambang hanya bercanda, tapi pertanyaan itu membuat aku kurang menghargai diriku sendiri, lagi. Aku berharap semoga jawabanku bisa merubah cara pandang orang-orang d isini terhadapku dan keluargaku. Pikir Arul
“Setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Om!” jawab Arul tegas sambil menghembuskan asap rokoknya perlahan.
Om Bambang serta yang lain dan sepupunya tersenyum dan bahkan ada yang tertawa sepertinya mengejek jawaban Arul itu.
“Bahasa anak muda jaman sekarang aneh-aneh!” ujar Om Bambang.
“Bagaiamana kalau matahari itu tidak terbit-terbit?” tanya Doni sambil tertawa.
Arul ikut tertawa, dia hanya bermaksud menetralisir kepalanya yang mulai panas dan dia adalah tipe orang yang bisa mengikuti keadaan.
“Kiamat tuh namanya!” sahut Arul.
Apakah mereka tak mengerti kiasan? Barangkali Aku yang terlalu sensitif menanggapi pertanyaan ini? pikir Arul lagi.
“Jadi menurut saya begini Om, kita hidup di dunia ini mempunyai tujuan, setiap manusia tidak sama tujuannya. Cuma kepala kita yang sama hitam, bagi yang mempunyai tujuan hidup akan mengerti maksud kata-kata saya tadi,” Arul berhenti sejenak, dia membuang abu rokoknya sambil menjentik-jentikkan rokoknya ke asbak.
“Bagi saya menikah bukanlah tujuan hidup, menikah hanya bagian dari proses kehidupan. Dan ada standar-standar tertentu dalam hidup yang sudah dicapai setelah itu baru saya akan menikah. Lain ceritanya jika anugerah datang dari Allah ketika saya belum menginginkannya.”
Ah… mungkin penjelasanku belum mengarah kepada kata-kata yang tadi. Aku lihat mereka bosan mendengarkannya, mungkin lebih baik begitu tapi sepertinya akan ada respon, pikir Arul lagi.
“Apa tujuan hidupmu.Rul? Jadi kamu akan menikah setelah standar hidupmu tercapai? Atau kamu mesti kaya dulu baru menikah? Kalau itu yang kamu tunggu, mungkin kamu tidak akan pernah menikah. Idealis sekali. Rul! Kamu seperti seorang pengecut saja, hadapi hidup ini dengan jantan!” kata Om Bambang makin bersemangat.
Arul mengangguk-angguk. Dia menyadari hal itu dan bukan hanya Om Bambang saja yang pernah berkata seperti itu kepadanya. Banyak orang berpikiran dan berpendapat sama seperti Om Bambang.
Pemikiran umum yang sudah turun temurun dan sepertinya sudah menjadi semacam momok yang menakutkan jika menikah telat bagi seorang laki-laki.
Kata-kata itu sama saja bermaksud “Menikahlah kamu jika umurmu sudah sampai meskipun Kamu dalam keadaan miskin” kurang lebih seperti itu.
Apakah hidup ini setelah menikah hanya untuk istri saja? Tidak. Aku ingin keseimbangan.
“Tujuan hidup saya adalah kebahagian. Om! Menikah adalah tujuan kedua. Saya akan bahagia jika tujuan pertama saya tercapai. Saya tidak pengecut, justru saya berani mengambil resiko. Sebagai laki-laki saya punya prinsip, begitu juga dengan orang lain. Dan saya selalu memegang prinsip yang telah saya tanamkan dalam hati. Demi tujuan hidup yang pertama tercapai atau setidaknya mendekati, saya ikhlas dan menerima untuk telat menikah dibandingkan orang-orang seumuran saya,” ujar Arul begitu percaya diri.
“Menunggu kaya baru menikah? Saya mengerti itu tidak mudah, tapi itu bukan standar hidup saya. Om!” jelas Arul lagi.
Om Bambang kembali tersenyum dan manggut-manggut, tapi lain lagi respon sepupu Arul.
Ada yang garuk-garuk kepala, ada yang menggosok-gosok pahanya dengan telapak tangan, ada menghembuskan asap rokoknya setinggi-tingginya.
“Itu bukan prinsip. Rul! Tapi keras kepala dan egois!” kata Beni.
Arul memandang ke arah Beni, tapi Arul tidak menanggapi komentar Beni, lalu Arul mengambil sebatang rokok lagi dan sambil tersenyum Arul menyulut rokoknya. Tidak ada guna menanggapi komentar negatif yang hanya akan membuat Arul semakin lemah pada prinsipnya.
Otakku sudah jenuh dengan segala macam kritikkan yang kurang bermakna, pikirnya lagi.
Kau tahu batu, Beni? Itulah kepalaku bahkan lebih keras dari itu. Kita berbeda soal kerasnya kepala kita, Beni. Aku kepala batu sedangkan kau kepala keju. Kepala orang-orang birokrasi, pikir Arul lagi sambil melempar pandangannya ke arah Beni.
“Kebahagian seperti apa yang menjadi tujuan hidupmu. Rul?” tanya Om Bambang. Kali ini nada bicaranya mulai sedikit rendah.
Yah! Sudah Aku duga, pertanyaan seperti itu akan muncul. Om Bambang terpancing juga untuk mengetahuinya. Kan, lebih baik orang yang bertanya kepada kita dari pada kita menceritakan begitu saja tanpa ditanya. Aku sengaja berbelit-belit menjawabnya. Kalau Aku ingin? Dari awal tadi pasti sudah aku ceritakan tapi aku ingin membawa mereka sedikit bermain dengan kata-kata dan biar mereka mengerti bagaimana caraku merangkaikan kata untuk sebuah prinsip hidup dan menjalaninya, karena selama ini aku banyak diam tidak mau banyak omong, bagiku lebih baik diam dari pada banyak bicara, karena kata-kata itu mengungkapkan pikiran dan pikiran itu akan mengungkap karakter. Aku tidak mau orang mendikteku dari situ.
O… bukan berarti dengan berpikir seperti itu, aku merasa lebih hebat atau pintar dari mereka? Tidak! Tetapi lebih tepatnya aku ingin mereka tahu bahwa aku punya prinsip, hanya sebuah prinsip lah yang bisa aku banggakan dari diriku ini.
“Tujuan hidup saya kebahagian. Om! Kebahagian itu terletak pada kedua orang tua. Jika saya telah berbakti dan membahagiakan mereka tentu saya akan lebih bahagia, setelah itu baru saya akan menikah. Menikah itu memang ibadah, tetapi lebih beribadah jika saya melayani dengan baik kedua orang tua saya terlebih dahulu,” jawab Arul yang masih belum jelas.
Sepertinya mereka masih belum mengerti.
“Om. Om kan tahu kehidupan Abi dan Ummi saya, bagaimana? Rumah belum punya, hidup pas-pasan, dan sebentar lagi adik saya mau kuliah. Setidaknya saya bisa meringankan biaya kuliah Dian terlebih dahulu. Setidaknya meskipun hanya rumah kayu saya dirikan dulu buat beliau. Kalau bukan saya siapa lagi. Om? Saya hidup buat mereka, setelah itu tercapai atau setidaknya mendekati itu baru saya akan menikah,” Arul berhenti sejenak mengambil nafas sebelum melanjutkan.
“Pengalaman hidup saya tidak bisa disamakan dengan Alex, Doni, Beni atau yang lain. Saya dari kecil sudah susah, dengan kesabaran dan keyakinan serta peluh Abi Ummi, akhirnya saya bisa selesai kuliah. Saya tidak mau melupakan peluh mereka,” ujar Arul.
Lalu dia melanjutkan, “Otomatis! Jika seseorang telah menikah maka perhatian pun terbagi dan biasanya lebih condong ke istri, lambat laun kebutuhan orang tua mulai terlupakan, lalu kapan saya akan berbakti? Cukuplah selama ini saya menggantungkan hidup kepada mereka, dan inilah saat-saat terindah dalam hidup saya untuk membalas sedikit kasih sayang yang pernah mereka berikan.”
Penjelasan Arul agak sedikit lebih jelas dari yang tadi sehingga yang mendengar di ruang tamu Tante Mirna itu terdiam. Dan tak satupun yang bertanya, apa hubungannya penjelasan Arul tadi dengan kata-kata setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Arul juga tidak mau menjelaskannya lagi, baginya biarkan saja mereka mencari hubungannya sendiri, toh mereka bisa berpikir, atau mungkin mereka mulai benar-benar bosan mendengarkan sebuah prinsip hidup yang egois ini.
Huh! Kenapa Aku jadi bersikap negatif kepada diriku sendiri.
***
Dengan langkah yang seirama dengan pikirannya, di sore yang mulai gelap itu Arul melangkah pulang dari rumah Tante Mirna dengan membawa perasaan yang seharusnya tidak layak lagi untuk diingatnya.
Mereka itu tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap diriku, tidak juga kamu, Alex! Sebelum kamu menjadi suami Sinta, sebenarnya kami telah mengikat janji bersama. Sinta akan menungguku, begitu juga denganku hingga saatnya tiba kami akan menikah.
Sebenarnya prinsip hidupku itu bisa aku pertahankan hingga saat ini tak lain karena dukungan Sinta, namun kini dia akan bersamamu. Sinta tidak lagi mendukung sebuah prinsip hidupku dengan janjinya atau cintanya, tapi kali ini dia telah mendukung prinsip hidup itu dengan kepergiannya. Luka yang aku rasakan ini adalah motivasi terhebat yang pernah aku rasakan. Dan aku akan membuktikannya, Lex!
Kamu juga tidak tahu betapa aku merasa dikhianati, tapi aku tidak benci kepadanya, bagaimana mungkin aku bisa membenci dan mencintai orang yang sama? Aku tahu kalau dia masih mencintaiku seperti aku tetap mencintainya. Bagiku dia adalah cinta sejatiku karena kami menjalani kisah yang panjang dan rahasia yang tak seorang pun tahu.
Terkadang, aku marah pada keadaanku. Kenapa aku ditakdirkan lahir ke dunia ini sebagai orang yang menurut keluarga Sinta tidak layak untuk mempersuntingnya. Atau mungkin ada yang salah dari perlakuanku terhadap keluarganya atau aku kurang menjilat kaki keluarganya. Aku tidak mengerti Lex dan menganggap keluarganya terlalu suci dalam memilih. Bukankah, di hadapan Allah manusia itu sama kedudukannya? Lalu mengapa aku dibedakan hanya karena keadaan? Aku juga manusia, Lex!
Kini aku tahu Lex, hidup tak hanya cukup dengan bentuk dan roh yang sempurna saja. Tapi perlu sebuah status sosial yang memperjelas kedudukan kehidupan kita di tengah-tengah masyarakat.
Yang arah serta tindakan berusaha menuju hedonisme.
Sekali lagi! Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, Lex! Tapi ada seseorang yang mengganti tangan sebelahnya dengan buku, dialah orang yang menjodohkannya denganmu.
Aku marah kepada orang yang telah menjodohkan Sinta denganmu. Dialah orang yang tidak menghargai pentingnya arti cinta. Orang yang tidak menghargai artinya sebuah pilihan saat namaku diajukan sebagai pilihan hidupnya. Orang itu benar-benar tidak menghargai hak-hak pribadi, baginya hak memilih Sinta adalah hak kolektif.
Aku marah pada orang yang menjodohkannya denganmu hanya berdasarkan keberadaan kehidupan materimu. Aku kalah dalam hal itu, Alex! Tapi aku tidak pernah kalah dalam cinta dan selama bertahun lamanya, aku telah membuktikannya. Paling tidak di mata Sinta.
Aku akan tetap tersenyum tapi aku terluka. Aku merasakan kepedihan yang manis dan tak tertahankan dari kerinduan yang dalam. Dalam kerinduan itu air mataku menjadi doa-doa terhadap keberadaanku nantinya. Insyaallah.
Banyak kisah yang telah kami lalui, Lex! Dan itulah cinta. Cinta kami tidak hanya seindah pelangi, cinta itu telah membukakan mataku betapa berartinya hidup ini saat pertama kali dia mengatakan “Aku tak tahu, kenapa setiap kali kamu di sisiku, aku merasa begitu nyaman.”
Cinta yang telah mengajarkan akan artinya kesetiaan, cinta yang telah menumbuhkan rasa optimis, namun sekarang cinta itu lengkap. Dilengkapi dengan kepedihan, jika kamu tahu, aku terluka, Lex!
Arul terperanjat dan segera turun dari angkot yang berhenti di depan gang menuju rumahnya ketika kondektur bus kota itu berteriak, “waskita… waskitaaa…!”
Kakinya tetap melangkah seperti pikirannya.
Tuhan, jika Engkau meredhoiku untuk mendapat pendamping hidup di dunia ini, maka aku menyerahkan keputusan itu kepada-Mu.
Seumpama hamba sebutir pasir dari lautan yang luas ini, kehadapan-Mu hamba serahkan masa depan itu untuk Engkau atur sebagaimana Engkau telah mengatur siklus kehidupan ribuan plankton di permukaan lautan.
Seumpama hamba sebutir pasir dari luasnya lautan ini, yang selalu dihempaskan gelombang dan selalu ditampar oleh deburan ombak, kehadapan-Mu hamba meminta supaya hamba tetap di pantai bukan di dalam lautan.
Seumpama hamba sebutir pasir dari luasnya lautan ini yang hanya bisa berencana, namun Engkau jualah yang menentukan. Yang hanya bisa berdoa, namun Engkau jualah yang memutuskan. Yang hanya bisa berharap, namun Engkau jualah yang mewujudkan. Yang hanya bisa bertindak, namun Engkau jualah yang menampakkan.
Kehadapan-Mu Ya Tuhan, hamba bawa luka ini dan berharap semoga ini menjadi obat bagi lahir dan batin hamba. Kehadapan-Mu sepenuhnya hamba menyerahkan hidup dan mati hamba. Amien…
Arul mengetuk pintu rumahnya,
“Ya… sebentar,” jawab Ummi.
“Bagaimana jadinya resepsi pernikahan Alex? Jadi dilaksanakan minggu depan?” tanya Ummi setelah Arul salim dengan Ummi-nya.
“Jadi. Ummi,” jawab Arul
“Rul tadi ada surat untukmu,” ujar Ummi seraya memberikan sepucuk surat kepada Arul.
Arul membacanya. Kemudian dia berlari ke dapur dan tiba-tiba saja dia memeluk tubuh kurus Ummi-nya. Ummi heran dengan sikap Arul.
“Ada apa, Rul?”
“Alhamdulillah, Ummi. Karya tulis Arul berhasil memenangi perlombaan itu!” jelas Arul bersemangat, “Malah Arul diberi peluang tes untuk menjadi salah satu staff di majalah itu,” tambah Arul.
Mata Ummi berlinang, bibir pun bergetar seperti ada kata-kata yang tertahan oleh kebahagian itu.
Semoga kamu bisa mewujudkan cita-cita yang sedang kamu kejar dalam hidupmu, Rul, doa Ummi dalam hati.
Arul tersipu malu, mukanya memerah. Rasanya pertanyaan itu sedikit menyudutkannya. Kenapa tidak? Dengan keadaannya yang masih belum bekerja, serta ekonomi orang tua yang serba berkecukupan, Arul belum berani mengambil keputusan yang sakral itu.
“Jangan tunggu lama-lama. Rul!” ujar Om Bambang lagi.
Arul menghisap dalam-dalam asap rokoknya.
Arul seorang remaja dalam kategori dewasa, semenjak wisuda dari perguruan tinggi swasta belum juga mendapat kesempatan kerja yang lebih layak seperti sarjana-sarjana lainnya. Tetapi Arul bukanlah tipe orang yang suka memilih-milih pekerjaan, dia bukan pengangguran hanya saja ketetapan kerjanya belum jelas.
Sepenuhnya Arul menyadari bahwa dengan kemampuan nilai akademis yang baik belum tentu menjamin seseorang itu mampu bersaing dan beruntung mendapatkan pekerjaan yang layak ketika dia berhadapan dengan pasar tenaga kerja.
Arul selalu mengintrospeksi dirinya, di mana kesalahannya? Dia berusaha terus memperbaiki dirinya tetapi belum juga menunjukkan hasil yang sesuai dengan harapannya.
Masa berkeluh kesah pun sudah terlewati dalam hidupnya, namun dia menyadari setiap keluhannya itu ternyata tidak memberikan sesuatu yang lebih baik malah hanya semakin mempertebal sikap pesimismenya.
Kini tak ada lagi keluh kesah itu, kedewasaannya telah terbentuk dari keadaan hidup. Setelah masa itu berlalu dan berganti dengan sikap yang lebih positif, bahwa keberhasilan itu sepenuhnya bukan diukur berdasarkan status sosial serta dari apa yang kita miliki. Akan tetapi keberhasilan itu terletak bagaimana cara kita dalam memaknai hidup ini.
***
Bagi saya hidup bukanlah suatu perjuangan, karena kehidupan itu adalah kodrat dari Sang Khalik. Ketika kita menempatkan hidup sebagai sebuah perjuangan, berarti akan ada yang dikalahkan yaitu musuh.
Kita beranggapan bahwa ketika kita menginginkan kerberhasilan hidup, dalam hal ini materi atau status sosial maka kita harus berjuang mendapatkannya. Lalu kita mendapatkannya. Pertanyaan akan muncul, apa yang telah kita kalahkan dalam perjuangan itu? Apakah yang kita kalahkan itu adalah objek atau predikat yang menunjukkan suatu keadaan? Keduanya mungkin. Tetapi dalam hal ini saya memilih predikat sebagai hal yang telah terkalahkan, predikat itu adalah kemiskinan atau kekurangan.
Kata perjuangan beranalogi dengan kata memerangi. Apakah kita mesti memerangi kemiskinan?
Saya tidak setuju dengan pernyataan, ketika kita telah mendapatkan keberhasilan berarti kita telah mengalahkan kemiskinan. Karena, proses hidup seseorang di dunia ini untuk tetap eksis serta mendapatkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat adalah jalan yang memang harus ditempuhnya dengan “usaha dan upaya”-nya karena itulah Tuhan menciptakannya.
Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, bukan untuk berjuang melawan kemiskinan, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat.
Syukuri keadaan itu sebagai upaya untuk mendewasakan cara berpikir kearah yang lebih bijak. Dalam keadaan serba kekurangan itu, semestinya menjadikan seseorang itu lebih tahu diri dalam menata hidupnya, bukan semakin menghalalkan cara-cara yang mampu merendahkan harga diri, atau semakin menjerumuskan hidup dalam kefrustasian ataupun cukup dengan mengharapkan belas kasihan orang saja.
Kelemahan dari bangsa ini adalah sikap manja. Manja tidak akan pernah membuat kita jadi maju.
Bagi saya kemiskinan bukanlah musuh yang harus diperangi, tetapi kemiskinan adalah cobaan yang datang ketika kita melakukan kekeliruan dalam kehidupan kita. Selanjutnya adalah bagaimana upaya kita memperbaiki kekeliruan itu.
Bagi sebagian orang kemiskinan telah merupakan suatu ketakutan, syukuri kemiskinan itu sebagai suatu hal yang layak untuk dijalani dan mulailah berusaha untuk keluar dari keadaan itu.
Menurut sebuah penelitian psikologi, penyakit yang sedang menghinggapi manusia akhir-akhir ini adalah ketakutan. Jika kita kembali kepada Ayat-ayat Allah SWT, seperti Surat Al-Baqarah ayat 38 menjelaskan, bahwa jangan pernah takut pada apapun selama kita taat kepada Allah. Tapi takutlah kalau kita tidak taat kepada perintah Allah. Ketahuilah ciri-ciri orang yang mendapat hidayah Allah adalah ia tidak takut apa yang akan terjadi dan tidak bersedih atas apa yang sudah terjadi, semuanya Allah yang mengatur, menghendakinya.
Tidak satu jalan menuju Roma, tidak ada usaha yang tidak memberikan hasil yang baik, walau terkadang keberhasilan itu datangnya terlambat.
***
Begitu bunyi sebagian tulisan Arul yang pernah dikirimnya untuk suatu perlombaan karya tulis tentang kemiskinan, oleh sebuah majalah.
Ternyata keadaan hidup telah membuat Arul menyadari dan mensyukuri, dia terlihat lebih bijaksana dalam menghadapi kekurangannya.
Akan tetapi pertanyaan Om Bambang memancing emosinya.
Orang-orang di sini mungkin belum tahu yang sebenarnya. Aku punya pertimbangan tersendiri untuk keputusan itu. Bukan hal yang gampang bagiku! Baiklah Om Bambang hanya bercanda, tapi pertanyaan itu membuat aku kurang menghargai diriku sendiri, lagi. Aku berharap semoga jawabanku bisa merubah cara pandang orang-orang d isini terhadapku dan keluargaku. Pikir Arul
“Setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Om!” jawab Arul tegas sambil menghembuskan asap rokoknya perlahan.
Om Bambang serta yang lain dan sepupunya tersenyum dan bahkan ada yang tertawa sepertinya mengejek jawaban Arul itu.
“Bahasa anak muda jaman sekarang aneh-aneh!” ujar Om Bambang.
“Bagaiamana kalau matahari itu tidak terbit-terbit?” tanya Doni sambil tertawa.
Arul ikut tertawa, dia hanya bermaksud menetralisir kepalanya yang mulai panas dan dia adalah tipe orang yang bisa mengikuti keadaan.
“Kiamat tuh namanya!” sahut Arul.
Apakah mereka tak mengerti kiasan? Barangkali Aku yang terlalu sensitif menanggapi pertanyaan ini? pikir Arul lagi.
“Jadi menurut saya begini Om, kita hidup di dunia ini mempunyai tujuan, setiap manusia tidak sama tujuannya. Cuma kepala kita yang sama hitam, bagi yang mempunyai tujuan hidup akan mengerti maksud kata-kata saya tadi,” Arul berhenti sejenak, dia membuang abu rokoknya sambil menjentik-jentikkan rokoknya ke asbak.
“Bagi saya menikah bukanlah tujuan hidup, menikah hanya bagian dari proses kehidupan. Dan ada standar-standar tertentu dalam hidup yang sudah dicapai setelah itu baru saya akan menikah. Lain ceritanya jika anugerah datang dari Allah ketika saya belum menginginkannya.”
Ah… mungkin penjelasanku belum mengarah kepada kata-kata yang tadi. Aku lihat mereka bosan mendengarkannya, mungkin lebih baik begitu tapi sepertinya akan ada respon, pikir Arul lagi.
“Apa tujuan hidupmu.Rul? Jadi kamu akan menikah setelah standar hidupmu tercapai? Atau kamu mesti kaya dulu baru menikah? Kalau itu yang kamu tunggu, mungkin kamu tidak akan pernah menikah. Idealis sekali. Rul! Kamu seperti seorang pengecut saja, hadapi hidup ini dengan jantan!” kata Om Bambang makin bersemangat.
Arul mengangguk-angguk. Dia menyadari hal itu dan bukan hanya Om Bambang saja yang pernah berkata seperti itu kepadanya. Banyak orang berpikiran dan berpendapat sama seperti Om Bambang.
Pemikiran umum yang sudah turun temurun dan sepertinya sudah menjadi semacam momok yang menakutkan jika menikah telat bagi seorang laki-laki.
Kata-kata itu sama saja bermaksud “Menikahlah kamu jika umurmu sudah sampai meskipun Kamu dalam keadaan miskin” kurang lebih seperti itu.
Apakah hidup ini setelah menikah hanya untuk istri saja? Tidak. Aku ingin keseimbangan.
“Tujuan hidup saya adalah kebahagian. Om! Menikah adalah tujuan kedua. Saya akan bahagia jika tujuan pertama saya tercapai. Saya tidak pengecut, justru saya berani mengambil resiko. Sebagai laki-laki saya punya prinsip, begitu juga dengan orang lain. Dan saya selalu memegang prinsip yang telah saya tanamkan dalam hati. Demi tujuan hidup yang pertama tercapai atau setidaknya mendekati, saya ikhlas dan menerima untuk telat menikah dibandingkan orang-orang seumuran saya,” ujar Arul begitu percaya diri.
“Menunggu kaya baru menikah? Saya mengerti itu tidak mudah, tapi itu bukan standar hidup saya. Om!” jelas Arul lagi.
Om Bambang kembali tersenyum dan manggut-manggut, tapi lain lagi respon sepupu Arul.
Ada yang garuk-garuk kepala, ada yang menggosok-gosok pahanya dengan telapak tangan, ada menghembuskan asap rokoknya setinggi-tingginya.
“Itu bukan prinsip. Rul! Tapi keras kepala dan egois!” kata Beni.
Arul memandang ke arah Beni, tapi Arul tidak menanggapi komentar Beni, lalu Arul mengambil sebatang rokok lagi dan sambil tersenyum Arul menyulut rokoknya. Tidak ada guna menanggapi komentar negatif yang hanya akan membuat Arul semakin lemah pada prinsipnya.
Otakku sudah jenuh dengan segala macam kritikkan yang kurang bermakna, pikirnya lagi.
Kau tahu batu, Beni? Itulah kepalaku bahkan lebih keras dari itu. Kita berbeda soal kerasnya kepala kita, Beni. Aku kepala batu sedangkan kau kepala keju. Kepala orang-orang birokrasi, pikir Arul lagi sambil melempar pandangannya ke arah Beni.
“Kebahagian seperti apa yang menjadi tujuan hidupmu. Rul?” tanya Om Bambang. Kali ini nada bicaranya mulai sedikit rendah.
Yah! Sudah Aku duga, pertanyaan seperti itu akan muncul. Om Bambang terpancing juga untuk mengetahuinya. Kan, lebih baik orang yang bertanya kepada kita dari pada kita menceritakan begitu saja tanpa ditanya. Aku sengaja berbelit-belit menjawabnya. Kalau Aku ingin? Dari awal tadi pasti sudah aku ceritakan tapi aku ingin membawa mereka sedikit bermain dengan kata-kata dan biar mereka mengerti bagaimana caraku merangkaikan kata untuk sebuah prinsip hidup dan menjalaninya, karena selama ini aku banyak diam tidak mau banyak omong, bagiku lebih baik diam dari pada banyak bicara, karena kata-kata itu mengungkapkan pikiran dan pikiran itu akan mengungkap karakter. Aku tidak mau orang mendikteku dari situ.
O… bukan berarti dengan berpikir seperti itu, aku merasa lebih hebat atau pintar dari mereka? Tidak! Tetapi lebih tepatnya aku ingin mereka tahu bahwa aku punya prinsip, hanya sebuah prinsip lah yang bisa aku banggakan dari diriku ini.
“Tujuan hidup saya kebahagian. Om! Kebahagian itu terletak pada kedua orang tua. Jika saya telah berbakti dan membahagiakan mereka tentu saya akan lebih bahagia, setelah itu baru saya akan menikah. Menikah itu memang ibadah, tetapi lebih beribadah jika saya melayani dengan baik kedua orang tua saya terlebih dahulu,” jawab Arul yang masih belum jelas.
Sepertinya mereka masih belum mengerti.
“Om. Om kan tahu kehidupan Abi dan Ummi saya, bagaimana? Rumah belum punya, hidup pas-pasan, dan sebentar lagi adik saya mau kuliah. Setidaknya saya bisa meringankan biaya kuliah Dian terlebih dahulu. Setidaknya meskipun hanya rumah kayu saya dirikan dulu buat beliau. Kalau bukan saya siapa lagi. Om? Saya hidup buat mereka, setelah itu tercapai atau setidaknya mendekati itu baru saya akan menikah,” Arul berhenti sejenak mengambil nafas sebelum melanjutkan.
“Pengalaman hidup saya tidak bisa disamakan dengan Alex, Doni, Beni atau yang lain. Saya dari kecil sudah susah, dengan kesabaran dan keyakinan serta peluh Abi Ummi, akhirnya saya bisa selesai kuliah. Saya tidak mau melupakan peluh mereka,” ujar Arul.
Lalu dia melanjutkan, “Otomatis! Jika seseorang telah menikah maka perhatian pun terbagi dan biasanya lebih condong ke istri, lambat laun kebutuhan orang tua mulai terlupakan, lalu kapan saya akan berbakti? Cukuplah selama ini saya menggantungkan hidup kepada mereka, dan inilah saat-saat terindah dalam hidup saya untuk membalas sedikit kasih sayang yang pernah mereka berikan.”
Penjelasan Arul agak sedikit lebih jelas dari yang tadi sehingga yang mendengar di ruang tamu Tante Mirna itu terdiam. Dan tak satupun yang bertanya, apa hubungannya penjelasan Arul tadi dengan kata-kata setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Arul juga tidak mau menjelaskannya lagi, baginya biarkan saja mereka mencari hubungannya sendiri, toh mereka bisa berpikir, atau mungkin mereka mulai benar-benar bosan mendengarkan sebuah prinsip hidup yang egois ini.
Huh! Kenapa Aku jadi bersikap negatif kepada diriku sendiri.
***
Dengan langkah yang seirama dengan pikirannya, di sore yang mulai gelap itu Arul melangkah pulang dari rumah Tante Mirna dengan membawa perasaan yang seharusnya tidak layak lagi untuk diingatnya.
Mereka itu tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap diriku, tidak juga kamu, Alex! Sebelum kamu menjadi suami Sinta, sebenarnya kami telah mengikat janji bersama. Sinta akan menungguku, begitu juga denganku hingga saatnya tiba kami akan menikah.
Sebenarnya prinsip hidupku itu bisa aku pertahankan hingga saat ini tak lain karena dukungan Sinta, namun kini dia akan bersamamu. Sinta tidak lagi mendukung sebuah prinsip hidupku dengan janjinya atau cintanya, tapi kali ini dia telah mendukung prinsip hidup itu dengan kepergiannya. Luka yang aku rasakan ini adalah motivasi terhebat yang pernah aku rasakan. Dan aku akan membuktikannya, Lex!
Kamu juga tidak tahu betapa aku merasa dikhianati, tapi aku tidak benci kepadanya, bagaimana mungkin aku bisa membenci dan mencintai orang yang sama? Aku tahu kalau dia masih mencintaiku seperti aku tetap mencintainya. Bagiku dia adalah cinta sejatiku karena kami menjalani kisah yang panjang dan rahasia yang tak seorang pun tahu.
Terkadang, aku marah pada keadaanku. Kenapa aku ditakdirkan lahir ke dunia ini sebagai orang yang menurut keluarga Sinta tidak layak untuk mempersuntingnya. Atau mungkin ada yang salah dari perlakuanku terhadap keluarganya atau aku kurang menjilat kaki keluarganya. Aku tidak mengerti Lex dan menganggap keluarganya terlalu suci dalam memilih. Bukankah, di hadapan Allah manusia itu sama kedudukannya? Lalu mengapa aku dibedakan hanya karena keadaan? Aku juga manusia, Lex!
Kini aku tahu Lex, hidup tak hanya cukup dengan bentuk dan roh yang sempurna saja. Tapi perlu sebuah status sosial yang memperjelas kedudukan kehidupan kita di tengah-tengah masyarakat.
Yang arah serta tindakan berusaha menuju hedonisme.
Sekali lagi! Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, Lex! Tapi ada seseorang yang mengganti tangan sebelahnya dengan buku, dialah orang yang menjodohkannya denganmu.
Aku marah kepada orang yang telah menjodohkan Sinta denganmu. Dialah orang yang tidak menghargai pentingnya arti cinta. Orang yang tidak menghargai artinya sebuah pilihan saat namaku diajukan sebagai pilihan hidupnya. Orang itu benar-benar tidak menghargai hak-hak pribadi, baginya hak memilih Sinta adalah hak kolektif.
Aku marah pada orang yang menjodohkannya denganmu hanya berdasarkan keberadaan kehidupan materimu. Aku kalah dalam hal itu, Alex! Tapi aku tidak pernah kalah dalam cinta dan selama bertahun lamanya, aku telah membuktikannya. Paling tidak di mata Sinta.
Aku akan tetap tersenyum tapi aku terluka. Aku merasakan kepedihan yang manis dan tak tertahankan dari kerinduan yang dalam. Dalam kerinduan itu air mataku menjadi doa-doa terhadap keberadaanku nantinya. Insyaallah.
Banyak kisah yang telah kami lalui, Lex! Dan itulah cinta. Cinta kami tidak hanya seindah pelangi, cinta itu telah membukakan mataku betapa berartinya hidup ini saat pertama kali dia mengatakan “Aku tak tahu, kenapa setiap kali kamu di sisiku, aku merasa begitu nyaman.”
Cinta yang telah mengajarkan akan artinya kesetiaan, cinta yang telah menumbuhkan rasa optimis, namun sekarang cinta itu lengkap. Dilengkapi dengan kepedihan, jika kamu tahu, aku terluka, Lex!
Arul terperanjat dan segera turun dari angkot yang berhenti di depan gang menuju rumahnya ketika kondektur bus kota itu berteriak, “waskita… waskitaaa…!”
Kakinya tetap melangkah seperti pikirannya.
Tuhan, jika Engkau meredhoiku untuk mendapat pendamping hidup di dunia ini, maka aku menyerahkan keputusan itu kepada-Mu.
Seumpama hamba sebutir pasir dari lautan yang luas ini, kehadapan-Mu hamba serahkan masa depan itu untuk Engkau atur sebagaimana Engkau telah mengatur siklus kehidupan ribuan plankton di permukaan lautan.
Seumpama hamba sebutir pasir dari luasnya lautan ini, yang selalu dihempaskan gelombang dan selalu ditampar oleh deburan ombak, kehadapan-Mu hamba meminta supaya hamba tetap di pantai bukan di dalam lautan.
Seumpama hamba sebutir pasir dari luasnya lautan ini yang hanya bisa berencana, namun Engkau jualah yang menentukan. Yang hanya bisa berdoa, namun Engkau jualah yang memutuskan. Yang hanya bisa berharap, namun Engkau jualah yang mewujudkan. Yang hanya bisa bertindak, namun Engkau jualah yang menampakkan.
Kehadapan-Mu Ya Tuhan, hamba bawa luka ini dan berharap semoga ini menjadi obat bagi lahir dan batin hamba. Kehadapan-Mu sepenuhnya hamba menyerahkan hidup dan mati hamba. Amien…
Arul mengetuk pintu rumahnya,
“Ya… sebentar,” jawab Ummi.
“Bagaimana jadinya resepsi pernikahan Alex? Jadi dilaksanakan minggu depan?” tanya Ummi setelah Arul salim dengan Ummi-nya.
“Jadi. Ummi,” jawab Arul
“Rul tadi ada surat untukmu,” ujar Ummi seraya memberikan sepucuk surat kepada Arul.
Arul membacanya. Kemudian dia berlari ke dapur dan tiba-tiba saja dia memeluk tubuh kurus Ummi-nya. Ummi heran dengan sikap Arul.
“Ada apa, Rul?”
“Alhamdulillah, Ummi. Karya tulis Arul berhasil memenangi perlombaan itu!” jelas Arul bersemangat, “Malah Arul diberi peluang tes untuk menjadi salah satu staff di majalah itu,” tambah Arul.
Mata Ummi berlinang, bibir pun bergetar seperti ada kata-kata yang tertahan oleh kebahagian itu.
Semoga kamu bisa mewujudkan cita-cita yang sedang kamu kejar dalam hidupmu, Rul, doa Ummi dalam hati.
0 komentar:
Posting Komentar