Layang-layang yang Malang

08.35 / Diposting oleh ilham_payobadar /

Segerombolan burung layang-layang terbang bermain di bibir karang, beberapa menukik lalu bercumbu dengan riak yang mencoba memecah karang. Seekor di antara puluhan layang-layang itu menjauh dari kawanannya, perlahan dia menepi kemudian hinggap di ranting. Di sebelahnya Enggang yang kelelahan dalam perjalanan rantaunya seperti bersemedi dengan angin laut yang meniupnya sepoi. Lalu Layang-layang dengan hati-hati bertanya kepada Enggang yang sedang mencari kesombongan diri itu.
“Enggang. Benarkah Camar berkepala putih hinggap di pundak Cendrawasih? Lalu membawanya pergi.”
“Sepertinya begitu Layang-layang,” jawabnya tersenyum, lalu Enggang bercerita.
“Saat itu ketika cuaca bersahabat dengan alam, dan ketika engkau sedang berada di seberang. Pagi yang indah matahari membuat para unggas mengepak-ngepakkan sayapnya dan ketika burung-burung masih di sarangnya, terdengar kabar tentang kepergian Camar berkepala putih itu,” Enggang menghentikan ceritanya.
“Apakah Engkau menyaksikan dengan mata kepalamu Dia membawanya?” tanya layang-layang.
Enggang menggeleng lalu berkata, “Tak seorang pun dari kaum kami yang mengetahuinya. Yang tahu kaumnya Camar dan kaumnya Bangau. Sebab katanya, kedua kaum itu telah mempunyai hubungan tertentu dahulu yang dijalin oleh moyang mereka.”
“Lalu engkau dari mana dapat berita itu, Enggang?”
“Sang Bangau-lah yang telah menceritakannya padaku,” jawab Enggang.
Layang-layang tampak gelisah dan terbang hendak mencari Camar berkepala putih itu, tapi entah ke mana? Layang-layang yang malang.
Dia teringat akan cerita Enggang, bahwa kepergian Camar berkepala putih hanya Bangau yang benar-benar mengetahuinya.
“Temuilah dia di pesisir yang sedikit berawa dan banyak pohon bakaunya, tidak jauh dari teluk. Bangau biasanya bermain di situ” cerita Enggang.
Sesegera mungkin Layang-layang pun mencari Sang Bangau. Namun di tengah perjalanannya Layang-layang bertemu Jalak yang sedang tersesat.
“Jalak. Adakah kau melihat Bangau?” Tanya Layang-layang.
Jawab Jalak, “Tidak Layang-layang! Sudah beberapa hari ini aku tidak menemukan burung-burung, kecuali aku bertemu dengan Cendrawasih yang hinggap di pundaknya Camar berkepala putih. Ada apakah gerangan dengan Bangau?” Jalak kembali bertanya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui cerita Enggang yang di ceritakan Bangau.” Jawab Layang-layang singkat.
“Begitu penting kah arti sebuah cerita bagimu Layang-layang?” tanya Jalak lagi.
“Penting.”
Lalu mereka berpisah. Jalak terbang ke arah barat dan Layang-layang menuju arah teluk.
Layang-layang yang malang.
Berhari menunggu dan menunggu Sang Bangau di pesisir yang berawa dan banyak bakaunya tak jua kunjung datang, selalu berharap bahwa berita tentang kepergian Camar berkepala putih tidak benar adanya.
Minggu pun berganti, Layang-layang tetap menunggu hanya untuk sebuah kebenaran berita itu. Hanya untuk sebuah KEBENARAN yang akan menambah pedih di hatinya.
Layang-layang yang malang.
Kini hidup dalam sebuah penantian, berita dari Sang Bangau begitu diharapkannya. Tidaklah indah hidup dalam bayang-bayang yang selalu mengikuti.
Ada luka yang tertoreh jika berita itu benar. Namun ada bahagia tak terhingga apabila berita itu hanya gunjingan biasa.
Haruskah aku pasrah akan kenyataan itu? Ataukah aku akan tetap menunggu? Hanya untuk mengetahui kebenarannya saja. Lalu untuk apa? Haruskah aku melanjutkan perjalanan mencari si Camar? Lalu untuk apa juga? Pikir Layang-layang yang malang itu.
Waktu terus berjalan seiring takdir yang tak bisa dirubah. Apakah masa lalu menentukan kenyataan hidup yang sekarang? Jika iya! Lalu di mana arti sebuah kebersamaan dulu jika ujungnya hanya membuat luka. Inikah takdir itu?
Layang-layang malang.
Saat itu di akhir minggu, minggu keempat ketika matahari dengan cahaya lentiknya malu-malu keluar dari balik gumpalan awan. Tersenyum kepada alam, menghangatkan dan menyapa seisinya, setelah beberapa hari bersembunyi di balik kelam.
Sinarnya membuat Pipit melompat dari satu ranting ke ranting lainnya, membuat Nuri bersenandung kenangan. Dan mutiara-mutiara di dedaunan yang berkilauan pun mulai berjatuhan perlahan-lahan satu per satu ke tanah, yang bunyinya takkan pernah didengar. Tapi ibu, tempat dari segala kehidupan ini berada dapat merasakan betapa indahnya mutiara itu menghiasi dan membasahinya.
Begitu juga dengan Layang-layang, melayang-layang di atas permukaan, bermain dan bercumbu di bibir riak yang kecil, mencoba menikmati pagi dengan sinar mentari, lalu hinggap di batang bakau yang telah bersahabat dengannya.
Tatkala Layang-layang sedang berpikir, bahwa sudah saatnya dia menjalin liur di musim yang mulai berubah, tiba-tiba saat itu melintaslah Sang Bangau di depannya. Layang-layang tertegun lalu mendekatinya.
“Dari mana sajakah engkau Bangau?”
“Aku hidup dari satu rawa ke rawa lainnya, tapi rawa inilah yang paling nyaman bagiku. Layang-layang,” jawab Bangau sambil mematuk binatang-binatang kecil di air.
“Ada apakah gerangan engkau kemari. Layang-layang?” Tanya Bangau.
Layang-layang mulai menceritakan maksudnya dan tujuannya menemui Sang Bangau itu.
“Benar Layang-layang! Beberapa minggu yang lalu Camar pamit padaku dan seluruh kaumku, bahwa Elang telah memberi tempat kepada Cendrawasih untuk membawanya. Dia ke selatan, tak jauh dari muara. Cendrawasih di sana sangat dihargai oleh penghuninya, karena menurut kaum-kaum burung, Cendrawasih adalah kaum bangsawan yang berdarah biru,” ujar Bangau
Sang Bangau lalu mematuk seekor ikan kecil tak jauh dari kakinya yang jangkung dan kecil itu, kemudian dia berkata, “ Camar tidak akan lagi ke pantai yang dulu, tempat dia dibesarkan. Dia telah memutuskan untuk pergi selamanya, memulai hidup baru di tempat baru. Kaumnya juga merestui kepergiannya itu bersama Cendrawasih karena mereka juga menganggap diri mereka adalah kaum yang terhormat.”
Layang-layang yang malang.
Tidak dapat mengucapkan salam perpisahan kepada Camar berkepala putih, kaum terhormat itu.
“Adakah pesan untukku dari Camar?” Tanya Layang-layang
Sang Bangau diam sejenak sepertinya berpikir dan mengingat.
“Tidak ada Layang-layang,” jawab Bangau.
Layang-layang setengah mengepakkan paruhnya lalu menengadah ke langit, matanya berlinang dan paruhnya setengah mengepak lagi.
“Kenapa kau menangis Layang-layang? Apa

0 komentar:

Posting Komentar