Sore. Saat cuaca baru mereda dari hujan - kegiatan perpeloncoan ditutup dengan pemilihan peserta ospek terfavorit angkatan baru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ganting Panjang Panjang.
Akan terpilih seorang raja dan ratu.
Semua siswa dan siswi baru di sekolah itu berdebar-debar. Ketika pengumuman akan dilaksanakan. Sebentar lagi dua dari ratusan pelajar baru akan menjadi terkenal, setidaknya di sekolah itu.
Memang keinginan itu tidak terucapkan, tetapi siapa yang tidak ingin terkenal dan mendapat penghargaan dalam momen-momen seperti itu.
Semuanya ingin.
Aku berdiri dalam barisan kelas satu C, juga berharap namaku dipanggil sebagai peserta terfavorit. Kadang lucu, kenapa aku selalu ingin menjadi yang terdepan dan terkenal? Kalau dipikir-pikir tidak mungkin. Tapi itulah manusia, berharap dan berharap. Selalu berharap menjadi yang terbaik di antara yang baik. Wajar. Karena manusiawi.
Detik-detik pengumuman akan segera berlangsung. Kakak kelas yang bernama Guswita membuat penasaran. Semakin berdebar.
“Dug. Dug. Dug. Dug. Dug. Dug.”
Jika suara debaran itu didengar dengan alat pendektisi detak jantung, maka detak-detak jantung siswa siswi yang sedang berbaris itu akan terdengar memekakan telinga dan saling berkejar-kejaran. Bayangkan bunyinya seperti apa?
“Dug. Da gidag-gidag gidug dug-dug,” coba ucapkan agak keras dan sedikit cepat, cukup dua kali saja. Bagaimana rasanya? Kamu terhibur dengannya?
Tetapi kenyataannya yang terlihat, para pelajar itu tetap tenang dan diam dalam barisan.
“Baiklah. Saatnya kita mengumumkan peserta ospek yang terfavorit tahun ini. Siapakah dia? Wuu… “ ujar Kak Gus sejenak memperlambat.
Apakah aku akan menjadi raja?
“Kita panggil rajanya, dari kelas satu B Deri Guswan Pramona. Ratunya dari kelas satu E Nilawati.” Panggilnya dengan suara tinggi.
Huh. Ternyata aku tidak terpilih.
Semua siswa-siswi saling berpandangan, yang mana orangnya. Tak lama kemudian, dua pelajar tersebut berjalan ke depan, setelah dipanggil untuk tampil dihadapan teman-temannya. Mereka keluar dari barisan kelas yang berbeda. Keduanya ganteng dan cantik.
Deri bertubuh proporsional rambutnya hitam tebal dan berkulit putih, sedangkan Nilawati memakai kaca mata, berkulit putih, wajahnya lembut dan terlihat sedikit kurus.
Raja dan ratu ospek mendapat penghargaan dari kakak-kakak kelas berupa kalung permen kemudian keduanya disiram. Yang disambut dengan sorak sorai pelajar lainnya, lalu mereka menyalami satu persatu.
Ternyata Deri Guswan Pramona satu tempat kos denganku hingga tamat dari Madrasah itu. Tempat kos kami bernama ASTER, singkatan dari Asrama Tertawa.
Wauww….!! Kenangan di sana begitu indah dengan kepolosan. Kami namakan itu karena penghuninya lucu-lucu, heboh dan usil. Salah satunya yang paling heboh di kosan itu bernama Fauzan El-Mukhlis. Di mana dia kini?
Dan terakhir aku ketahui tentang Nilawati, kakaknya baru saja tamat dari Madrasah itu, ketika kami baru masuk. Panggilannya Jek (kalau tidak salah).
***
Ospek pun selesai dilaksanakan dan kegiatan belajar di kelas satu dimulai.
Hehe… aku hanya sepuluh besar, tidak bisa duduk di tiga besar ketika pembagian rapor. Di sini saingan berat, mungkin juga karena aku mulai malas belajar. Para pelajar banyak yang datang dari luar propinsi seperti Pekanbaru, Jambi, Bengkulu dan Lampung.
***
Awal kelas dua.
Kami yang kemaren duduk di kelas satu, sekarang naik setingkat menjadi kakak kelas yang baru. Kami juga mengospek siswa-siswi baru. Aku juga ikut serta membentak dan mengerjai mereka, tapi aku tidak tegaan mengerjai mereka yang bukan-bukan. Paling aku suruh menyanyi dan bergoyang saja.
Ospek itupun berlangsung selama dua minggu, meninggalkan sisa-sisa kenangan indah dan sedih dengan adik-adik kelas. Kadang hanya kenangan yang bisa kita bawa di masa depan. Percaya atau tidak, kenangan itu mampu menghibur kita ketika kita mengingatnya. Bahkan terkadang ingin sekali kembali ke masa itu. Lalu kita akan berandai, seandainya saja ada mesin waktu yang bisa membawa kita ke masa lalu. Mengingatnya sambil melamun, sesekali tersenyum, kadang bermurung sedih dalam linangan air mata.
Kenangan adalah pelajaran bagi kita. Jika kita menyadari setiap kenangan akan tersimpan di dalam memori diri kita, maka kita semestinya bersikap baik dan mengatur hidup kita di saat ini. Kenangan juga hidup, kadang dia memberi kaulasitas yang saling berkaitan dengan jalan hidup kita di masa depan. Kenangan adalah motivasi untuk menyempurnakan diri.
Kenangan itu adalah cinta.
***
Waktu itu aku telah duduk di kelas dua A. Ketua kelas kami bernama Doni Rafika, si jenius yang rapi sekali.
Suasana kelas baru dan teman-teman baru, yang dulu belum aku kenal ketika di kelas satu menjadi saling kenal setelah di kelas dua.
Di kelas dua aku sedikit lebih aktif, mungkin karena beranjak baligh. Eh… apakah aku sudah baligh waktu kelas dua? Tunggu dulu! O… iya sudah. Aku ingat saat itu aku mimpi basah ketika bercumbu dengan seorang idola. Aku bingung ketika bangun tidur, air apa yang menempel di celanaku. Bau nya aneh seperti bau santan dan bergetah seperti lem kertas. Melalui informasi dari temanku itulah yang namanya sperma.
Aku akan menjadi lelaki yang dewasa dengan perubahan suara dan tumbuhnya jakun kemudian rambut-rambut di daerah tertentu. Aku bahagia. Aku akan menjadi orang dewasa. Tetapi harus melewati masa remaja dulu.
Masa remaja di jamanku disebut anak ingusan. Kami belum mengenal istilah ABG seperti jaman sekarang. Seandainya julukan ABG ada waktu itu, maka salah satu ABG itu adalah aku. Anak Baik dan Ganteng. Cieleee….
Di jam-jam istirahat aku sering main dari satu ke kelas lainnya. Mencari teman baru ataupun mengunjungi teman-temanku semasa kelas satu dulu yang terpisah di kelas lain.
Satu kali aku berlari menuju kelasku karena jam istirahat telah habis, ketika lonceng berbunyi. Bersama sahabatku Alfarazi yang akrab dipanggil Boy, kami sedikit tergesa-gesa ketika berada di sudut kelas dua C dan hampir bertabrakan dengan seorang perempuan.
Bagusnya disebut perempuan atau cewek, ya? Sebenarnya aku lebih suka menyebutnya perempuan - karena kata itu, kata yang lembut dan lebih menghormati. Tapi apakah sebutan perempuan cocok untuk ukuran remaja belia? Tidak apa. Demi rasa hormatku, aku akan tetap menyebutnya perempuan.
“Eit-eitss..” katanya kaget.
Kami bertiga saling tertegun dalam kekagetan itu. Aku tidak mengenalnya tetapi sahabatku Boy menegurnya dengan panggilan Neng.
“Siapa, Boy?” tanyaku memastikan
“Neneng. Anak kelas dua E” sahut Boy
“O…”
***
Beberapa hari kemudian, sekembali dari kelas dua D, kami bertemu lagi dengan Neng di tempat yang sama. Tetapi tidak pakai acara kaget-kagetan lagi. Kali ini aku yang menegurnya duluan.
“Boneng,” sapaku
Dia malah tersenyum.
Beberapa hari setelah itu bertemu lagi dan aku pun menegur lagi.
“Boneng.”
Dia tetap tersenyum
Bertemu lagi.
“BO. Neeeenggg...,” aku besarkan intonasi pada BO dan Neng-nya panjang. Coba deh sepertinya enak didengar. Hiks.
Dia masih tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah tidak sukanya atas panggilan itu.
***
Terdengar lonceng dipukul berkali-kali, menandakan jam istirahat telah habis. Dulu waktu SD kami menyebut jam istirahat, pose. Entah berasal dari bahasa belanda pauze atau barasal dari bahasa inggris pause, tapi menurut orang tua-tua dulu pose digunakan oleh belanda.
Semua siswa dan siswi berlarian ke kelas masing-masing. Duduk menunggu guru yang akan mengajar selanjutnya.
Jam istirahat hanya lima belas menit, tapi alhamdulillah waktu itu cukup untuk menelan dua bakwan penganjal perut hingga jam istirahat kedua.
Di kelasku, kami juga sedang menunggu guru Al-Qur’an Hadist. Aku lupa nama Bapak yang mengajar pelajaran itu. Tapi aku masih ingat rautnya. Orangnya kurus tinggi dan kumisan, berambut lurus. Kalau mengajar serius, siapa yang tidak hapal ayat-ayat atau hadist akan disuruh keluar kelas. Sangat bagus ketegasan-nya dalam mengajar. Rata-rata teman sekelasku boleh dikatakan hampir tidak pernah diusir dan pelajaran yang dijelaskannya cepat kami pahami.
Dalam suasana menunggu guru, pikiranku melayang-layang seperti kegembiraan kapas tertiup angin, menari ke sana dan ke mari. Kadang merendah kadang meninggi. Tergantung angin meniupnya.
Tarian hayal itu seperti diiringi instrument klasik, aku mengiringinya bagaikan jurus-jurus dalam tarian balet. Pikiran yang melayang seolah membawa tubuhku meliuk lentur, aku tetap mengikuti hayalan ini dan terbawa lalu terjebak oleh perasaanku sendiri.
Aku memikir Neng. Sesekali tersenyum dalam lamunan ini. Entah apa? Dan datang dari mana serta tanpa memperoleh pelajaran sebelumnya, tiba-tiba jantungku berdetak mengingat Neng. Tiba-tiba hatiku tergerak menyukai Neng. Tiba-tiba aku rasakan dia telah duduk di hatiku. Tiba-tiba dia mengisi awal baligh pikiranku yang kosong. Tiba-tiba aku ingin berpacaran dengan Neng. Tiba-tiba detak jantung berpacu, memburu, berkejaran, dan tak tertahankan. Oh… indahnya perasaan ini. Tiba-tiba, dan…
“BOY,” panggilku seraya menepuk pundaknya yang sedang asyik berbincang dengan Hendra. Boy sebangku denganku.
Boy menoleh, “Ada apa?”
Aku mendekatkan wajahku ke kupingnya. “Titip salam buat Neng, aku menyukainya,” bisikku.
Boy tersenyum, “Yang benar, nih?”
Aku mengangguk, “Tapi jangan beri tahu yang lain, yah?” Boy pun mengangguk.
Jam istirahat kedua, Boy pergi ke kelas dua E menyampaikan pesanku pada Neng. Aku menunggu Boy di depan kelas dengan perasaan yang tidak menentu. Seperti kecemasan yang tidak berasalan, yang sulit aku mengerti. Maklum ini yang pertama bagiku, mencoba berani terhadap perasaan ini. Perasaan ini jujur dan murni, yang lahir dari perasaan bayi yang belum mengenal cinta.
“Wa’alaikumussalam,” tegur Boy ketika aku berdiri di tiang koridor di depan kelas.
Aku sedikit kaget, “Assalamu’alaikum,” jawabku. “Wah kebalik Boy. Seharusnya aku yang menjawab salam.”
Boy tertawa. “Bukan itu, jawaban Neneng Wa’alaikumussalam.”
“Maksudnya apa, Boy?”
“Maksudnya dia menjawab salammu, dia bilang salam balik. Artinya dia menerimamu,” Jelas Boy. Hanya salam balik jawabnya, lalu Boy dan aku beranggapan dia telah menerimaku.
Ada yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata tentang apa yang dirasakan hatiku saat Boy memberitahu kabar terbaik itu. Sulit sekali untuk aku ungkapkan, sebenarnya aku ingin mengambarnya dalam tulisan. Indah sekali.
Keajaiban dunia yang kesembilan akan terjadi sebentar lagi.
“Masa iya, Boy? Jadi ceritanya tadi bagaimana saat kamu menyampaikan pesanku, Boy?” tanyaku penasaran. Boy menjelaskannya. Aku bertanya, bagaimana reaksi Neng ketika mendengar pesan itu? Kata Boy, dia tersipu mukanya sedikit memerah dan tersenyum malu.
Aku benar-benar terbawa oleh kenangan itu, kini.
Aku geretan. Hatiku berbunga-bunga indah. Yang ada di hati dan pikiran cuma Neng.
Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Mau makan ingat Neng. Mau tidur ingat Neng. Mau mandi ingat Neng. Mau belajar ingat Neng. Semuanya Neng-lah.
Selesai berkirim salam, aku bingung harus bagaimana lagi. Boy menyarankan supaya aku mengirim surat cinta pada Neng. Tapi aku tidak bisa menulis surat cinta. Apa kata-kata yang harus dituliskan. Aku bingung Boy, kataku pada Boy.
Lalu Boy memberi saran lagi, supaya minta tolong sama Bang Epen. Nama lengkapnya Yusmardi Effendi, Kakak kelas satu kosan di Aster Mantel.
Selepas Maghrib dengan membawa selembar kertas dan pena, aku menghadap Bang Epen bersama Boy. Aku menjelaskan permasalahan yang sedang menimpaku tetapi membahagiakan. Bang Epen tertawa dan mendukung rencana besar dalam hidupku ini.
Surat cintaku yang pertama, Bang Epen-lah yang mengarangnya. Kemudian saran Bang Epen, aku mesti membeli kertas surat cinta yang berbunga dan wangi. Itu aku lakukan.
Aku menulis karangan surat Bang Epen itu di atas kertas berbunga dengan sangat hati-hati sekali. Aku salah beberapa kali dalam menulisnya, tetapi aku ulang juga berkali-kali, sebab aku mau yang rapi, bersih dan sempurna.
Boy kembali menjadi Pak Pos-ku. Surat itu diberikan Boy dengan rahasia kepada Neng. Aku menunggu balasannya. Kira-kira dua hari lamanya.
Balasan dari Neng diberikan Silaturrahim padaku, dia sahabat Neng di asrama putri. Aku menyimpannya. Dadaku makin berdetak kencang, ketika balasan surat itu telah berada di saku celanaku. Surat itu seperti bergerak-gerak, magnetnya membuat tanganku tidak bisa keluar dari saku. Aku jadi orang aneh saat itu. Semula, aku akan membacanya sepulang sekolah di kamar kos. Akan tetapi tidak tahan menunggu waktu dua jam lagi. Aku begitu gemetar dan penasaran.
Saat masih dalam belajar, aku permisi lari ke WC, menutup rapat pintu WC. Membaca surat dari Neng dengan tangan yang gemetar, nafasku sesak dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori di leher dan keningku.
Ting. Huufss…
Aku diterima Neng sebagai pacarnya. Neng memberiku anugerah cinta yang sama sekali belum aku mengerti. Aku hanya seorang bayi dalam kondisi itu. Neng akan mengajariku. Aku rindu kamu Neng.
Pesan Neng, agar aku bisa menjaga rahasia indah ini, kalau bisa surat ini langsung dibakar. Biar hati kita bebas merasakan debar-debar cinta ini. Kita sama-sama jatuh cinta. Seperti sepasang kupu-kupu yang terbang di taman, berlarian di antara bebungaan, melati, mawar, anggrek ataupun meriah merahnya bunga kertas. Kami memperhatikan kuncup yang mulai merekah, di awal pagi dengan sinar mentari yang membuat kami memutuskan untuk hinggap pada satu kelopak melati putih, yaitu cinta.
Alasan Neng menyuruhku membakar surat itu bisa aku mengerti, sebab jika ketahuan guru dan sampai ke kepala sekolah masalahnya menjadi besar. Sangsinya berat, bisa dikeluarkan dari sekolah, atau dipanggil kedua orang tua, kalau tidak seringan-ringannya di skorsing selama dua minggu.
Aku telah resmi menjadi kekasih Neng. Tapi aku masih tetap bingung, harus bagaimana lagi. Orang pacaran itu seperti, apa? Itu pertanyaan terbesar dalam pikiranku. Atas usul Boy juga, aku mengajak Neng bertemu di sudut sekolah dekat WC, sepulang jam sekolah. Dengan dua penjaga, Boy menjaga dekat WC, sedangkan teman Neng dekat aula. Neng tinggal di asrama putri di lingkungan sekolah itu tepatnya di belakang kelas dekat aula. Jadi meskipun sekolah telah bubar, akan tetapi guru-guru masih banyak di sekolah, termasuk guru-guru yang menjaga asrama putri.
Pertemuan pertama aku kagok, gemetar, dan juga merasa haus. Kami bersalaman dan belum akrab, baru saling mengenal di pertemuan pertama itu. Bagaimana bisa orang yang belum saling mengenal lebih dalam dan belum saling berbincang sebelumnya menjalin hubungan, katakanlah pacaran.
Memang cinta monyet? Tapi perasaan ini ada dan nyata di jantung dan benakku, padanya. Selamanya aku akan menghargai perasaan-ku dan perasaan Neng, bahwa ini bukanlah cinta monyet. Cinta ini murni dan suci. Tidak ada yang mampu menghapus cinta pertama dalam hidupku atau hidupmu. Kenapa monyet mesti dikaitkan dengan cinta? Jika monyet punya cinta mungkin arahnya lebih ke nafsu! Dan kami bukanlah monyet. Dan kami tidak mempunyai cinta seperti cinta monyet.
Kamu pernah jatuh cinta? Baik dulu atau sekarang? Bagaimana rasanya? Indah bukan?
Itulah yang aku rasakan pada Neng. Hatiku benar-benar jatuh dan terlena. Hatiku terus berdetak, dia membuat aku bangga. Aku rindu kamu Neng.
Lalu kami berbincang-bincang, seperti perbincangan orang yang baru kenal. Meskipun begitu kami sudah terasa begitu dekat dalam perasaan kami. Aku mampu merasakan, aku miliknya dan dia milikku. Walau tidak dapat disangkal bahwa tiga per empat dari kisah cinta di umurku ini, hanyalah cinta berupa perasaan-perasaan dan hayalan.
Aku baru tahu, bahwa Neneng adalah Nilawati yang pernah menyandang gelar ratu ketika ospek dulu. Pacarku seorang ratu. Wow… aku senang sekali.
Selanjutnya kami menjalin kisah itu dengan surat-suratan, sesekali pertemuan rahasia di sudut kelas dan dalam kelas yang kosong. Kami berpacaran hanya dengan perasaan. Perasaan itu adalah perasaan sayang. Tidak ada genggaman tangan, apalagi ciuman. Tidak ada nafsu di antara kami, tidak pula ada hayalan berhasrat dalam benak kami. Cinta kami adalah getaran-getaran rasa sayang yang mendominasi, kami berpacaran dengan perasaan saling menyayangi.
Aku sayang padanya, bahkan selalu ingin menjaganya. Kini terpikir olehku. Inilah cinta sejati itu. Cinta tanpa nafsu. Cinta tanpa keinginan yang berlebih. Cinta tanpa permainan. Cinta tanpa perjanjian. Cinta hanya simbol bagi kami sebenarnya untuk mengungkap sayang yang terlalu.
Aku ingin selalu berada di sisinya, berbincang dan memandangi wajahnya yang cantik tanpa hasrat. Aku mengaguminya. Aku rindu padamu Neng.
Neneng begitu perhatian padaku, dia juga mengontrol pelajaranku dan kedisiplinanku. Dia marah ketika aku menulis-nulis celana sekolahku.
Satu kali aku bolos pada jam pelajaran Aqidah Akhlak, lalu aku mengintipnya yang sedang belajar di kelas dua E bersama temanku Herwanto Surya. Ternyata Neng melihat kami, dia langsung keluar menemuiku, memarahiku juga Iwan. Neng makin marah ketika Iwan tertawa, lalu dia menendang kaki Iwan, Iwan roboh di depanku.
Neng selain cantik juga jago silat, waktu masih di sekolah dasar dia masuk perguruan silat di Kota Padang, kaki dan tangannya ringan. Tetapi padaku dia begitu lembut. Selembut wajahnya. Dan selembut kata-katanya. Aku rindu kamu Neng.
Hanya gara-gara bolos itu, aku mendapat surat putus dari Neneng. Bagi Neng, hubungan kita ini bukan untuk menjadikan nilai pelajaran turun, tetapi menyemangati kita untuk belajar lebih giat. Dan buktinya memang, nilai Neng selalu meningkat tapi nilaiku naik turun. Maafkan aku Neng, aku salah, itu jawabku dalam balasannya. Lalu kami saling dukung dalam belajar, kadang jika aku banyak tugas aku minta tolong Neng meringkas buku, begitu juga sebaliknya aku pada Neng. Aku rindu kamu Neng.
Ketika ulang tahunku, Neng memberikan kado diary berkunci, bergambar bunga warna pink. Di dalamnya ada ucapan dan biodata tentang dirinya serta sebuah photo dirinya.
Photo itu masih aku bawa Neng.
Dari diary itulah aku memulai menulis beberapa catatan harianku.
Seperti yang aku katakan tadi, diary membuat aku selalu terhibur, betapa lucunya hari-hari yang aku jalani dulu dan betapa kekanak-kanakannya aku dulu. Baik itu untuk kejadian yang menyenangkan hati ataupun kejadian yang membuat aku sedih. Dari diary itu aku bisa melihat perkembangan diriku.
Diary tidak hanya tempat menangis dan tertawa saja, tetapi dia bisa memberimu kehidupan baru. Kamu tidak akan mengenal dirimu dalam waktu dekat, jika kamu tidak menuliskan dirimu di atas kertas. Ketahuilah kata-kata yang keluar dari mulutmu atau tulisanmu, adalah cerminan dari pikiranmu, pikiranmu adalah cerminan dari dirimu sendiri. Pengenalan diri penting, sama pentingnya dari pakaian yang kamu pakai.
Sebab, yang dikatakan orang-orang brutal sebenarnya, adalah orang yang tidak mengenal dirinya sendiri.
Apakah kamu sudah punya diary? Kalau belum, tidak terlambat kok untuk memulainya dari sekarang. Tidak ada kata terlambat bagi yang mau memulainya.
***
Ketika di kelas tiga, ada kesalahpahaman di antara kami – hingga tamat, permasalahannya tidak terselesaikan. Akhirnya kami tamat dari Madrasah itu tanpa sepatah kata pun, dan tanpa perpisahan yang baik. Tidak ada salam terakhir. Tidak ada ucapan sayang terakhir. Hilang begitu saja. Aku rindu kamu Neng.
Setelah tamat kontak hilang. Awalnya aku ingin melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Koto Baru. Setelah di tes di sana, aku dinyatakan tidak lulus. Tetapi aku diterima di Madrasah Aliyah Negeri I Bukittinggi. Terakhir aku dengar kabar dari teman, bahwa Neng juga mendaftar di Madrasah Aliyah Koto Baru tetapi tidak lulus juga. Akhirnya Neng melanjutkan ke SMA Negeri 6 Padang. Mungkin ini sudah diatur Allah.
Neng masih meninggalkan alamat dan nomor telepon rumah di buku diary itu, sedangkan aku tidak meninggalkan apa-apa padanya. Kecuali kenangan buruk, maafkan aku Neng. Apa yang harus aku tinggalkan? Tidak juga semacam alamat, hidup di kaki Gunung Merapi tanpa alamat yang jelas dan tidak ada jaringan telepon disana.
Tiga tahun berlalu setelah tamat dari Madrasah itu. Selama tiga tahun itu pula aku masih mengingatnya. Aku sudah membuat surat enam kali padanya, tetapi tidak satupun yang jadi aku kirimkan. Aku dikotori oleh prasangkaku, kalau Neng masih marah dan tidak mau memaafkanku.
Ketika aku akan tamat dari Madrasah Aliyah, saat itu akan ujian ebtanas. Aku beranikan diri mengirimkan surat padanya. Surat itu aku kirim setelah aku bermimpi tentangnya. Dia datang padaku, mencium pipiku lalu pamit akan pergi ke mana aku tidak tahu.
Dalam surat itu aku ceritakan keadaanku saat itu, aku juga bertanya tentang kabarnya. Bertanya, apakah dia sudah punya pacar lagi? Wajar, karena itu pertanyaan masih mengenangnya dan menyayanginya.
Balasan surat dari Neng membuat aku trenyuh. Dia mengatakan, dua tahun lamanya setelah tamat dari Madrasah Tsanawiyah dia menunggu kabar dariku, sedangkan dia mau menghubungiku tapi tidak tahu harus kemana? Air mataku berlinang saat membaca surat Neng. Temanku bilang aku bajingan. Rasanya pantas. Dalam surat Neng itu, dia mengatakan sudah punya cowok setahun ini.
Maksud kamu, denganku bagaimana? Lebih parah kisahnya. Yang pasti saat itu aku belum punya pacar lagi.
Hilang.
Ketika kuliah, dan sebelum itu sudah banyak perjalananku. Aku kembali mengirim surat padanya dan sesekali meneleponnya. Dia melanjutkan ke Universitas Bung Hatta jurusan Matematika. Melalui teman satu kampus Benni Sudiwan mantan alumni SMA Negeri 6 juga, aku mengetahui kalau pacar Neng itu namanya Adi. Benny juga bilang kalau Adi telah akrab dengan keluarga Neng. Mereka mulai menjalin hubungan ketika naik kelas tiga.
Kemudian setahun lebih komunikasi kami terputus lagi, ketika aku mencoba meneleponnya kembali - kata yang menjawab, tidak ada yang bernama Neng atau Nilawati tinggal di sini. Berkali-kali aku mencoba meneleponnya, namun jawabannya tetap sama. Aku rindu kamu Neng.
Kini setelah belasan tahun berlalu, rasa rindu itu datang lagi. Sesekali aku masih mengingatnya terkadang ingin menghubunginya. Tetapi entah kemana?
Malam ini, aku merindukan Neng. Aku rindu tawa-nya, canda-nya, aku rindu marah-nya. Marahi aku seperti kamu memarahiku dulu, aku rindu dengan emosimu itu.
Biarlah hanya dengan mengingatnya saja. Semoga benar apa yang dikatakan sahabatku, jika kita masih mengingat orang itu maka dia juga akan teringat dengan kita.
Salahkah jika aku masih merindukannya? Atau masihkah aku akan bertemu dengannya?
DULU
Dulu kau tampar sisi kekanak-kanakanku dengan cintamu
Kau ajarkan antara dicintai dan mencintai
Kau tawarkan kedewasaan padaku
Padahal kala itu aku tidak tahu cara mencintaimu
Sehingga aku memanggilmu, kekasihku…
Kini sudah bertahun berlalu
Baru kusadari, bahwa ternyata aku masih menyayangimu
Potret bisumu pun mentertawakan kebodohanku
Yang setiap saat menginjak-nginjak penyesalan
(Dalam dendang kealpaan cinta)
Dulu ketulusanmu adalah benih-benih
Yang akan menghidupiku dari kelaparan dan kehausan cinta
Yang seharusnya aku rawat, aku jaga dan aku semai
Serta kupanen, yang mesti ku tabung untuk saat ini.
Tiada daya bagiku, semuanya hanya kesiaan kini
Dari ketidaksadaranku dulu
Maka terucaplah bagiku kini,
Maafkan Atas Ke-alpa-an Cinta.
(Jum’at - Tanggal 14 Feb 2003 - 12.00 malam. Jambi di Lorong Amal)
Pabuaran
9 – 10 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)
0 komentar:
Posting Komentar