Surat-surat Misterius

08.39 / Diposting oleh ilham_payobadar /

Macet keadaan yang membuat sebagian orang menjadi malas bergerak, tapi bagi sebagian orang lainnya kondisi itu menjadi semacam motivasi untuk bergerak lebih cepat di kota besar seperti Jakarta.
Salah satunya Dandy. Macet merupakan motivasinya, dia hampir selalu bangun jam setengah lima subuh. Kadang dia lebih dulu bangun dari jam beker yang berada di meja kecil dekat kepalanya.
Rekor bangun pagi laki-laki berumur 36 tahun itu hampir tak pernah terkalahkan oleh istrinya. Istri yang tidak cantik tapi mempunyai raut yang manis di mata Dandy. Kesegaran wajah Lila istrinya, baik setelah berdandan maupun setelah bangun tidur, membuat Dandy tak pernah berhenti mencintainya semenjak dia melamar Lila sembilan tahun yang lalu dan kini telah dikaruniai seorang Putri yang telah duduk di bangku sekolah dasar.
Biasanya, hal yang pertama kali dilakukan Dandy ketika terbangun tidurnya adalah menyapa istri yang masih dalam keadaan terlelap, tetapi kadang Lila mendengar apa yang diucapkan Dandy.
Seperti pagi ini, lima menit sebelum bekernya berbunyi Dandy sudah tersentak dari tidurnya. Dia menguap. Dandy melihat bekernya yang masih membisu, dia tersenyum dengan bangga karena mampu mengalahkan beker itu kali ini. Dandy kemudian berpaling ke arah istrinya, beberapa saat ditatapnya wajah Lila. Dandy mendekatkan wajahnya, konyolnya terkadang kambuh. Ditiup-tiupnya wajah Lila beberapa kali, tetapi Lila tidak bergeming, padahal sebenarnya saat itu Lila telah terbangun oleh kuap Dandy yang menggelitik kupingnya.
“Selamat pagi. Sayang,”
“Pagi ini sama seperti pagi-pagi yang dulu, kamu tetap tidak cantik tapi kamu akan selalu maniiss…” bisik Dandy mengambil ancang-acang mau mencium pipi istrinya itu, tapi niatnya urung ketika Lila meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
“Ssstt… jangan dicium, mulut kamu masih baaauuu… “ sergah Lila
Wajah Dandy berkerut, kemudian Dandy meletakkan telapak tangan di depan mulutnya, lalu menghembuskan nafasnya, “Hahh!” pantulan nafas dari telapak tangan terhirup hidungnya. Bau dikit, batin Dandy.
“Gosok gigi dulu yah. Sayang” sambung Lila
Dandy mendesis, Kemudian berlalu ke kamar mandi. Tidak memakan waktu setengah jam bagi Dandy berbenah sebelum berangkat ke kantor. Setelah menghabiskan segelas susu buatan istrinya, dia berjalan ke garasi mobil sambil mengunyah sepotong roti. Dandy memanaskan sedannya.
Mobil Dandy berjalan pelan keluar komplek perumahan, kemudian gasnya perlahan naik di jalanan yang masih belum terlalu ramai dengan kendaraan. Biasanya Dandy akan menghadapi macet ketika hampir tiba di kantornya.
Di tengah perjalanannya ke kantor, handphone Dandy berbunyi. Ada pesan masuk dari istrinya yang tertera di layarnya.
“Hai jelek! Kenapa lupa menciumku sebelum berangkat!” begitu isi sms Lila.
“Hai jelek. Kenapa tadi kepalamu ditutupi bantal? Awas ntar, kucium kamu sampe minta ampun!” sms Dandy pun terkirim. Begitulah keharmonisan rumah tangga Dandy yang dijalaninya bersama Lila, penuh dengan keceriaan.
Hubungan mereka tidak hanya sekedar hubungan sepasang suami istri, mereka juga seperti berteman dan bersahabat. Kadang mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, tapi terkadang mereka juga bertengkar seperti pasangan lainnya.
Putri adalah penengah dalam pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, sebuah keluarga yang ceria dan terkadang kekanak-kanakan. Bagi Dandy, kekanak-kanakan itu hal yang biasa karena masa kanak-kanak adalah masa yang paling awal dalam hidupnya, yang terpenting adalah semua permasalahan bisa terpecahkan dengan optimal, begitu katanya ketika menjawab pertanyaan Nando, sahabat baiknya di kantornya.
Dandy sosok suami idaman bagi Lila. Dibalik kekonyolan Dandy, dia orang yang ramah, energik dan penuh perhatian.
Dandy selalu menyempatkan diri menyapa security, terkadang berbincang-bincang sejenak. Para receptionist pun tak luput dari ucapan selamat paginya. Baginya, suasana saling tegur sapa di pagi menjelang masuk kantor adalah awal yang baik untuk memulai pekerjaan. Karena senyuman-senyuman itu akan memberikan semangat untuk bekerja.
Di awal minggu ini Senin, Dandy mulai menjalankan kembali tugasnya di kantor sebagai seorang manager personalia.
Di dalam ruangannya tampak sesekali Dandy menelpon dan dia mulai sibuk lagi dengan berkas-berkas yang masuk ke dalam ruangannya. Diantara berkas-berkas yang diantarkan oleh sekretarisnya, terselip sepucuk surat yang ditujukan kepadanya, tetapi tanpa identitas si pengirim.
Dear Dandy,
Dandy, hampir setiap hari aku melihatmu dalam beberapa tahun ini. Kamu begitu menarik di mataku, aku menyukai sikapmu yang ramah dan penuh perhatian terhadap orang-orang di sekitarmu.
Aku telah jatuh cinta padamu, Dandy.
Lovely Yours
Dandy tersenyum setelah membaca surat gelap itu. Benarkah aku menarik? Dengan perutku yang mulai membengkak ini. Orang ini salah, tetapi dia benar dalam satu hal tentang perhatian, pikir Dandy.
Dia kembali memasukkan surat itu ke dalam amplopnya, lalu menimbang-nimbangnya, entah apa yang sedang dipikirkannya. Kemudian Dandy meremas surat itu dan melemparkannya ke tong sampah.
Masuk.
Seminggu telah berlalu semenjak surat gelap itu datang, namun awal minggu besoknya datang lagi, seminggu kemudian datang lagi, seminggu lagi dan seminggu lagi.
Surat gelap itu ternyata telah datang beberapa minggu yang lalu, setiap awal minggu.
Dandy mulai senang dengan kehadiran surat itu dari penggemar gelapnya, dia menyukai gaya tulisannya dan Dandy merasa lega karena sepertinya si penggemar gelap itu tidak mengharapkan apa pun darinya. Tidak pernah minta bertemu atau mengharapkannya untuk membalas surat-surat yang telah dikirimkan oleh si penggemar gelapnya.
Orang itu tidak hanya mengirimkan surat tapi juga puisi-puisi, diam-diam Dandy mengumpulkan puisi-puisi itu.
Penggemar gelap Dandy itu mulai mempengaruhi Dandy sedikit demi sedikit, dia mulai penasaran dan bertanya-tanya sendiri.
Dandy mengingat-ingat, siapa kira-kira wanita di kantornya yang memperlihatkan sikap agak berlebih. Namun menurutnya lagi semuanya biasa-biasa saja, tidak ada perhatian lebih untuknya kecuali sekretaris, yang sering keluar masuk ruangannya dan sesekali mengambilkan air minum untuknya. Tapi, bukankah begitu tugasnya sebagai bawahan menghormati seorang bos, tidak mungkin.
Selagi Dandy berpikir-pikir sekretarisnya masuk dan memberikan sepucuk surat lagi. Tidak salah, ini pasti dari pengirim yang sama, pikir Dandy.
“Rini. Surat ini dari pos atau seseorang yang mengantarkannya padamu?” tanya Dandy.
“Dari pos, Pak. Memangnya ada apa, Pak?” Rini balik bertanya
“Tidak apa-apa. Ya sudahlah… “ sahut Dandy.
***
Dandy mulai terpengaruh. Dia berkaca dan melihat bentuk tubuhnya yang kurang bagus, karena bagian perutnya mulai menonjol. Ada semangat baru di dalam dirinya untuk memperbaiki bentuk tubuhnya itu. Tanpa menunggu waktu, dia ikut fitness di pusat kebugaran yang tidak begitu jauh dari kantornya. Dandy terus rajin berlatih.
Sesekali dia juga membeli pakaian baru, padahal kegiatan beli membeli jarang dilakukannya sendiri, dia selalu pergi bersama Lila dan Putri.
Tanpa disadarinya, Dandy mulai berubah sedikit demi sedikit dari minggu ke minggu. Ternyata penggemar gelapnya itu memperhatikan perubahannya, seperti suratnya.
Dandy ku Sayang…
Kenapa semakin hari aku semakin mengagumimu, kamu kelihatan lebih sehat dan energik. Aku begitu menyukai penampilanmu yang baru.
Ahh… Dandy, jantungku berdebar-debar tak kuasa ingin memelukmu.
Terimalah dasi ini, semoga kamu bisa merasakan degup-degup jantungku ini.
Pengagummu
Dasi yang bagus, tapi masalahnya aku begitu merasa bersalah. Aku mencintai istriku dan anakku. Perkawinanku aman-aman saja. Bahagia, sudah sembilan tahun usianya. Aku belum pernah selingkuh seperti kebanyakan suami-suami di kantorku ini, yang suka menjalin hubungan gelap sesamanya. Atau apakah aku harus mencobanya? Untuk sekali ini saja? Sekali sajaaa… Ahh! Tidak! Tapi bagaimana yah? Pikir Dandy yang membayangkan betapa indahnya jika dia bisa selingkuh dengan orang yang benar-benar mengharapkannya.
Perubahan pada diri Dandy dalam hal penampilan, memang tidak bisa dipungkiri lagi. Dandy memang telah berubah tetapi Lila tidak terlalu mempersoalkan perubahan Dandy itu.
Hanya saja, ketika Dandy memiliki pakaian-pakaian baru, Lila sempat bertanya. Dandy pun mulai berkilah bahwa dia mendapat model-model terbaru dari salah satu majalah busana dan dia langsung memesannya.
Kebohongan Dandy lainnya tentang perut yang mulai mengempes. Ketika ditanya, Dandy memang jujur bahwa dia akhir-akhir ini sering berlatih di pusat kebugaran. Tetapi bohongnya, itu semua dilakukannya demi istrinya.
Meskipun Dandy telah berbohong dalam dua hal itu, tetapi dia tidak berubah sikap dalam keharmonisan rumah tangganya, masih ada guyonannya, masih ada serangan fajarnya, dan lain-lain. Ternyata Dandy cukup aman dalam menyimpan perasaan lainnya, dan bisa menyimpan rahasia serta bisa mengendalikan suasana rumah tangganya.
***
Dear Dandy
Dandy. Aku ingin tubuhku dibalut oleh kulit-kulitmu yang berada di belakang baju itu. Aku ingin merasakan kehangatan nyata. Bibirku selalu bergetar ketika ada keinginan untuk mengecup keringatmu…
Lovely Yours.
Pikiran Dandy melayang-layang setelah membaca surat gelap terakhir yang datang padanya, semenjak enam bulan yang yang lalu. Dandy membayangkan rupa wanita misterius ini, rupa dibalik kata-katanya yang mempesona, rupa dibalik romantisme surat-surat dan puisi-puisinya.
***
Masalahnya kemudian mulai serius bagi Dandy, ketika pengagum misterius itu mulai mengirim surat-surat erotis. Dandy menangkap suatu pesan tersembunyi dibalik surat-surat itu, bahwa pengagumnya ini sudah terlalu penasaran kepadanya. Tetapi kenapa dia tidak menawarkan suatu pertemuan? Pikir Dandy.
Selanjutnya surat-surat erotis mulai berdatangan setiap minggu, tidak terlalu vulgar hanya berupa cerita-cerita pendek yang dilengkapi dengan foto pria dan wanita yang sedang bermanjaan. Dandy pun semakin menyukainya, tapi dia merasa semakin bersalah, sebab Dandy mulai mencari-cari keberadaan wanita misterius ini. Dandy mulai mengatur strategi pencariannya.
Plan A yang dilakukan Dandy adalah menyelidiki stempel pos yang tertera di dekat prangko. Beberapa surat dikirimkan melalui kantor pos yang tidak jauh dari kantornya, namun beberapa surat lagi dikirim melalui kantor pos yang berbeda. Selidik punya selidik ternyata surat itu dikirimkan melalui tiga kantor pos.
Dandy mengira-ngira jarak di antara kantor-kantor pos itu. Jarak dari kantor pos yang dekat dengan kantor Dandy, ke jarak kantor pos yang kedua begitu jauh. Namun jarak kantor pos yang kedua ke jarak kantor pos yang ke tiga tidak begitu jauh, tetapi menunjukkan arah yang sama, utara.
Arahnya sama, ke arah tempat tinggalku tetapi aku lintang utara sedangkan ini persis arah utara. Wanita ini tempat tinggalnya di arah utara, pikir Dandy.
Plan B mulai dilakukan Dandy, dia memeriksa file-file karyawati yang bekerja di perusahaannya terutama yang sekantor. Tidak terlalu sulit baginya memperoleh data itu.
Ada tiga nama yang beralamatkan ke arah utara yang dimaksud Dandy. Bu Ratna, tidak mungkin. Dia telah bersuami dan jauh lebih tua dariku. Nana kan bawahanku, apa iya Nana? Gadis ini memang cantik, tapi dia baru dua bulan ini menikah. Sedangkan surat-surat ini sudah datang selama delapan bulan lebih, tidak mungkin Nana. Nengsih? Office girl ini jelas tidak mungkin, pikir Dandy.
Plan C, Dandy akan meminta informasi ke pegawai pos. Dandy keluar dari ruangannya sambil membawa tiga buah amplop yang distempel dari tiga kantor pos yang berbeda. Ketika dia melewati ruangan karyawan dan karyawati. Sekilas matanya tertuju pada Nana, bersamaan saat itu Nana juga melihatnya. Nana tersenyum melihat bosnya itu dan menganggukkan kepala, Dandy pun tersenyum tapi jantungnya berdebar-debar.
Dari kantor pos yang pertama, Dandy meninggalkan pesan.
“Pak. Kalau ada seorang wanita yang mengirimkan surat ke alamat ini, tolong bapak tanyakan alamatnya, paling tidak nomor teleponnya. Pak,” pinta Dandy setelah menceritakan tentang penggemar misteriusnya itu.
Di kantor pos yang kedua, Dandy juga meninggalkan pesan yang sama. Tetapi di kantor pos yang ke tiga, di mana surat-surat gelap itu paling banyak dikirim melalui kantor pos ini, Dandy sempat menanyakan ciri-ciri wanita si pengirim misterius itu.
“Wah… disini terlalu banyak wanita-wanita cantik yang suka mengirim surat, pak. Kadang mereka juga mengirimkan biodata ke biro jodoh, Pak,” jawab petugas kantor pos itu. Dengan perasaan lemas Dandy kembali ke kantornya, setelah meninggalkan pesan yang sama.
Belum sempat Dandy duduk di kursinya, dia sudah melihat sepucuk surat gelap lagi di atas mejanya. Dengan penuh semangat empat lima Dandy membuka surat itu.
Dandy Sayang…
Dandy. Tadi malam aku bermimpi tentang kamu, tentang kita berdua, tentang tarian kita.
Dandy. Bawalah aku terbang bersama mu, berdua kita menikmati keindahan itu. Rangkuhlah daku dengan jemari mu, tidurkanlah aku dengan belaian mu, sayang.
Akan betapa indahnya ketika nafas mendesak di antara regangan bisep kita. Darahpun akan bergembira, dia lancar selancar-lancarnya lalu dia akan memanas. Kita akan saling merasakan aliran-alirannya bergerak menuju jantung, desiran-desirannya yang tidak terduga akan memberikan warna tentang kenikmatan itu.
Kita, lalu terbang dalam penyatuan diri yang tak terikat dan kita menyatu.
Sayang, aku ingin merasakan panasnya darahmu mengalir di diriku.
Yang Mencintaimu
Nafas Dandy sesak, ada sesuatu yang tertahan di dadanya. Seteguk air agaknya sedikit melegakan Dandy dari gelisahnya. Dandy berusaha menenangkan dirinya, tetapi bayangannya tentang penggemar misterius itu masih menghantuinya.
Surat-surat ini awalnya hanya pujian-pujian biasa, lalu puisi-puisi yang penuh harapan dan terakhir surat-surat yang penuh dengan hasrat. Sepertinya alur surat ini, disusun begitu bagus, sehingga aku terpancing. Bagaimana mungkin wanita ini orang yang tidak aku kenal? Pasti aku mengenalnya. Tapi siapa dia? Pikir Dandy.
***
Minggu demi minggu telah berlalu, dan bulan demi bulan pun berlalu, ini sudah bulan yang kesembilan, dan awal minggu kedua. Surat-surat erotis sudah datang dalam enam minggu terakhir.
Kali ini cerita apalagi yang akan ditulisnya. Dandy harap-harap cemas menuggu datangnya surat itu, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu Dandy datang juga, bukan hanya surat melainkan sebuah paket.
Perlahan dan hati-hati Dandy membuka paket itu, ternyata isinya sebuah majalah impor khusus untuk umur delapan belas tahun ke atas. Majalah itu penuh dengan gambar-gambar pasangan yang sedang bercinta diberbagai tempat, di meja, bak mandi air panas, di dapur dan di garasi mobil, kecuali di tempat tidur.
Dandy membolak-balik seluruh isi majalah itu, pasangan-pasangan yang saling bercumbu dan meraba. Dandy semakin mabuk kepayang, seakan-akan tidak bisa menahan diri lagi.
Dear Dandy
Dandy. Tentu kamu telah melihat gambar-gambar di majalah itu.
Aku membayangkan gambar itu adalah aku dan kamu.
Kita berdua akan berbahagia, sayang.
Dandy. Aku ingin sekali kita melakukannya.
Lovely Yours.
Sambil melipat surat itu Dandy berbisik, “Terus terang, aku pun ingin melakukannya bersamamu.”
“Selamat siang. Ini dari Dandy yang datang beberapa minggu lalu ke kantor bapak. Saya mau menanyakan soal wanita yang mengirimkan surat kepada saya tanpa identitas itu. Pak,” tanya Dandy kepada petugas kantor pos
“O… iya. Saya ingat dengan Pak Dandy,” jawabnya
“Bagaimana. Pak? Apakah bapak sudah bertemu dengan orangnya? Atau sudah melihat ciri-cirinya? Atau alamat atau barangkali nomor teleponnya. Gitu?” tanya Dandy lagi, tidak sabar.
“Seperti yang saya bilang kemaren, pak. Di sini terlalu banyak wanita-wanita cantik yang mengirim biodatanya ke biro jodoh. Khusus untuk surat bapak, kalau tidak salah diposkan hari jumat, tapi saya lupa menanyakan alamatnya. Saya baru menyadarinya setelah wanita itu pergi dari kantor pos, pak,” jelas pegawai pos itu.
“Kira-kira bapak masih ingat ciri-cirinya? Dia berpakaian kantor atau bagaimana. Pak?” tanya Dandy lagi, dipikiran kuat dugaannya orang itu adalah Nana.
“Seingat saya, wanita itu rapi sekali. Saya kurang tahu yang dipakainya baju kantor atau bukan,” jelasnya
Sesaat suasana diam.
“Tetapi dia wanita yang luar biasa. Serasi sekali dengan Pak Dandy. Sepertinya dia akan menjadi jodoh Pak Dandy.”
“Rambutnya panjang atau pendek, pak?”
“Lurus dan panjang sebahu, pak.”
“Kulitnya putih atau coklat?”
“Hehee… putih mulus,” jawab petugas itu yakin.
Bayangan Dandy langsung tertuju pada Nana, ciri-ciri yang diberikan petugas pos itu menguatkan dugaannya ke Nana. Dandy tersenyum, dan berputar-putar dengan kursinya, entah apa yang sedang dipikirkannya. Barangkali banyak kata Nana di dalam benaknya. Dandy menerawang ke langit-langit ruangan dan sesekali menyebut Nana… Nanaaa…
Dandy berjalan ke depan cermin besar yang seukuran badan diruangannya. Dandy berkaca lalu memutar-mutar tubuhnya, “Bentuk tubuhku sudah semakin bagus. Penampilanku? Labih dari dulu sebelum aku mengenal surat-surat itu. Aku tak sabar lagi ingin merasakan cinta dan seks,” bisik Dandy yang percaya dirinya bertambah.
Awal minggu kedua di bulan sembilan berlalu, masuk diminggu ketiga Dandy telah siap menunggu kedatangan surat erotis itu lagi. Dan ternyata hari senin itu tidak ada lagi surat yang datang. Dandy penasaran dan menunggu-nunggu seharian. Dandy merasakan ada sesuatu yang hilang di awal minggunya.
Selasa, Dandy menunggu. Surat itu tidak datang.
Rabu, Dandy berharap. Juga tidak datang.
Kamis. Dandy berdoa, tetapi yang datang bukan hanya surat juga buket mawar kuning yang besar di antar ke kantornya dan ada surat pengantarnya.
Dear Dandy.
Dandy. Aku tidak bisa lagi menahan perasaan ini terlalu lama, tentu kamu bisa merasakan, bagaimana rasanya menahan hasrat. Aku memutuskan untuk bertemu denganmu hari ini, dan aku mengambil resiko untuk itu.
Aku berharap kamu bisa datang ke Hotel Sanuri siang ini jam 12.00. aku akan menunggumu di lobi utama, memakai gaun berwarna kuning dengan sekumtum mawar kuning.
Aku tunggu kedatanganmu, sayang.
Lovely Yours.
Dandy kehilangan akal, dia kelihatan begitu gelisah. Apa yang diharap-harapkannya belakangan ini akan menjadi kenyataan.
Aku tidak bisa pergi ke sana. Tidak… tidak! Tapi aku ingin pergi. Harus, pikir Dandy dan keringatnya mulai mengucur.
Dandy segera keluar dari ruangannya tetapi dia tidak melihat Nana. Kata Rini, Nana sudah setengah jam yang lalu keluar.
“Ternyata memang kamu orangnya. Nana,” bisik dandy dalam hati.
Dandy bergegas ke parkiran mobil, dia begitu tergesa-gesa. Tetapi jalanan begitu macet sekali. Dandy mengumpat-umpat serta memukul-mukul stir mobilnya.
“O… shit… shit…!”
“Brengsek!”
“Maceeet!”
Akhirnya setelah menempuh macet, Dandy berhasil juga datang ke hotel itu. Aku akan mengintai dulu, pikir Dandy.
Dandy masuk melalui pintu samping hotel dan naik ke tangga. Di tangga dia hanya bisa melihat punggung wanita itu. Dia tampil cantik, pikir Dandy. Lalu Dandy berjalan menuju balkon yang menghadap ke lobi.
Wanita itu duduk seorang diri. Dandy mulai mengambil jarak lebih dekat lagi. Dari atas dia bisa melihat dengan jelas.
“Ohh… my god!” jerit dandy tertahan, keringatnya semakin mengucur.
Dandy turun dari balkon itu, kemudian menemuinya.
“Halo jelek…” sapa Lila istrinya, tersenyum.
“Ho-oh… ho-oh ho…” Dandy tertawa tak percaya dan kaget. Dia terpesona melihat kecantikan istrinya itu, dia menatapnya tanpa berkedip dan tercenung.
Lila kemudian mendekat lalu mencium pipi Dandy.
Lila memeluk pinggang Dandy, “Sayang. Maafkan aku! Hari ini tanggal 25. hari ulang tahun perkawinan kita yang ke sepuluh.”
Dandy kembali terkejut dan lupa tahu soal itu. Dandy langsung memeluk erat tubuh Lila.
“Hari ini ku buktikan seluruh cinta. Satu-satunya pria di hatiku hanya kamu. selamanya,” ujar Lila meyakinkan.
Dandy semakin mempererat dekapannya.
“Maafkan aku. Jelek! Andai orang itu bukan kamu, aku telah berbuat bodoh sepanjang umurku. Aku sadar memang tidak ada wanita selain dirimu. Maafkan aku.”
“Hari ini kamu cantik. Cantik. Cantik sekali,” ujar Dandy, kemudian mencium kening istrinya.
Akhirnya mereka memesan kamar di hotel itu, mereka merayakannya berdua. Melepas kerinduan yang sebenarnya. Melepas hasrat-hasrat yang tertuang dalam tulisan, melepas angan-angan yang terbaca dari surat-surat gelap itu.
Dan mereka melayang bersama, bukan untuk yang pertama kalinya tetapi perasaan dan kebagiaan saat ini tak terbayangkan keindahnnya.
Tidak ada ikrar dari mereka, namun mereka saling percaya seperti hari-hari kemarin dan seperti keberanian Lila mengirim surat itu.
Jam 9 malam mereka check out dari hotel itu.

0 komentar:

Posting Komentar