Aktifis Kampung 2, "Mbak Kania"

08.40 / Diposting oleh ilham_payobadar /

Dari kejauhan terlihat tulisan “Selamat Datang” di gerbang utama bandara. Jam di tangan Tante menunjukkan pukul setengah dua. Pesawat yang akan aku tumpangi take off jam setengah empat. Bageuuuuss! berarti menunggu sekitar dua jam. Pekerjaan yang membosankan.
Untung beberapa orang teman ikut mengantarkanku. Ada Rijal, Nepri dan Faris alias kritikus kemalaman, kalau kesiangan mah itu sudah biasa.
Aku ke ruang tunggu dan Tante mengurus keberangkatanku. Maklum aku kurang paham soal pemberangkatan naik pesawat. Aku lebih cepat paham jika melihat cewek cantik dan seksi.
Aku duduk manis di ruang tunggu. Sedangkan Rijal, Nepri dan Faris jalan-jalan di sekitar bandara yang luas. Katanya mau mencari kesombongan diri.
Aku perhatikan di sekeliling masih belum terlalu ramai. Cuma ada beberapa orang ibu-ibu bersama anak-anak mereka. Barangkali mereka sedang menunggu kedatangan suaminya. Karena tak satu pun aku lihat bapak-bapak di antara mereka.
Sayang. Anak-anak itu masih kecil. Kalau sudah besar, aku kan bisa tebar pesona. Hehe.. nih otak nggak jauh-jauh dari cewek.
Anak-anak itu bermain, melompat, kejar-kejaran dan berlari kian kemari.
Oups… satu terjatuh! Sakit dech.
“Ayo berdiri, kamu laki-laki,” bisikku dari jauh. Ukh.. ternyata dia lebih memilih menangis. KO!
Melihat mereka aku ingat waktu pertama kali menginjakkan kaki di bandara ini. Saat itu aku berumur sembilan tahun. Kelas empat esde.
Aku dipindahkan ke sini karena rumahku beserta tanahnya harus jual kepada orang kaya brengsek yang mau membangun komplek perumahan mewah lengkap dengan embel-embelnya.
Sebenarnya Engkong bersikeras tidak mau menjual, tapi satu erte di sana cuma keluarga kami yang tertinggal. Yang lain sudah mencari tempat tinggal baru.
Aku ingat waktu Engkong mengusir orang suruhan perusahaan real estate itu. Engkong marah banget.
“Lu kagak tau sape gue. Ye! Kenalin nih, Mamaat! Orang manggil gue Mat Pete. Mo nyicip golok, gue!? Sini Gue sunat Lu pade!” Bentak Engkong sambil mengacungkan goloknya.
Namun akhirnya Engkong mengalah, setelah orang kaya itu nyogok orang-orang kecamatan plus kelurahan, meluluhkan hati Engkong. Kasihan Engkong, padahal tanah beserta rumah itu warisan dari Engkongnya Engkong, yang diturunin ama Enyaknya Engkong. Mikir yah? Hiks.

Dua belas tahun berlalu, kini sudah waktunya sang pendekar turun gunung menguji kesaktiannya. Aku harus kembali lagi. Tentu keadaan Jakarta waktu aku kecil dulu sudah berbeda dengan sekarang.
Katanya, Jakarta yang sekarang lebih kejam lagi, kalau dulu istilahnya ibu kota lebih kejam dari ibu tiri, tapi sekarang ibu kota lebih kejam dari bapak tiri. Kalau dulu, siapa lu siapa gue, aja. Tapi buktinya sekarang? bini lu bisa jadi bini gue. Who am i and who are you. Bullshit lah lu! Terus katanya, apa-apa tidak ada yang gratis, semua duit!
Malah sebentar lagi katanya, akan ada peraturan baru tentang kentut sebab kentut adalah sesuatu hal yang tidak mengasikkan.
Barang siapa yang tidak permisi mau kentut sebelum dia kentut, atau barang siapa yang tidak tunjuk tangan saat ditanya, siapa yang kentut? Atau barang siapa yang sudah minta permisi untuk kentut sebelum kentut dan sudah tunjuk tangan saat ditanya siapa yang kentut, jika ternyata kentutnya itu masih menganggu salah satu pendengar kentut dan merasakan ketidaknyamanan maka yang bersangkutan didenda sebesar seratus juta atau kurungan minimal tiga bulan dalam panti rehabilitas kentut.
Mungkin bunyi peraturannya seperti itu kali yah?
Sekiranya, Jakarta itu ibarat seorang cewek. Pasti dia cewek yang hebat dan kuat. Tapi rasa manusiawinya kurang. Tidak sembarangan orang yang bisa menaklukan dirinya.
Kenapa tidak? Lihat saja di tipi. Banyak gelandangan. Tinggal di tempat kumuh, anak-anak yang seharusnya sekolah, malah ngemis di pinggir jalan, nyawa gampang aja melayang, banyak orang gila. Frustasi akibat tidak bisa menaklukannya. Ada juga yang lupa diri karena bujuk rayunya.
Harga diri jadi tidak begitu penting, asalkan dapat makan atau uang.
O iya. Perawan masih ada artinya nggak di Jakarta? Ihh… Aku ingin melakukan penelitian sama pelajar SMP dan SMA, berapa persen dari total keseluruhan mereka yang masih perawan? Kira-kira mereka dididik orang tua nya gak yah?
Terus katanya kalau mau ngasah samurai buat harakiri kena HIV tinggal pencet nomor hp aja, malah sekarang lebih berani lagi, gunakan surat kabar untuk memasang iklan servis esek-esek.
Ada lagi yang lebih hebat. Private party, katanya. Para anggota yang tergabung dalam suatu pesta kudu setengah telanjang. Kalau nggak buka yang bawah, atas juga boleh. Ihh… takut! Tapi asyik juga tuh! Nggak asyik. Itu setan! Apa gunanya hidup kalau sudah menghalalkan cara-cara binatang.
Namun, sekarang aku harus pindah ke sana. aku tidak takut. aku masih punya iman walau hanya secuil.
Aku harus bisa hidup mandiri meskipun di sana ada orang tua, tapi Aku tidak mau terlalu bergantung pada mereka.
Aku laki-laki. Kata Babe, “Kamu laki-laki Chan. Jangan gentar menghadapi apapun, sekalipun musuh. Gulung lengan bajumu. Ambil senjata. Jika kamu ingin nembak? Tembak! Jika kamu harus sembunyi? Sembunyi! Jika kamu harus lari? Pikirkan lagi.”
Kata Babe lagi, ada empat hal yang mesti dipengang laki-laki. Pertama taat beribadah, tapi aku jarang sholat. Kedua tanggung jawab, setiap tanggung emang aku jawab tapi setiap jawab aku tak mau tanggung, hiks… . Ketiga berani mengambil keputusan, barangkali keputusan untuk memilih hidup di jalur pengojekan, maksudnya. Keempat peduli, aku memang orang yang peduli, seperti meninggalkan majalah pendidikan ama Rijal. Kelima punya sifat pejuang, berjuang melawan Susi dan rombongan yang mau memperkosaku.
Aku tertarik dengan kata pejuangnya. Lalu Aku tanya, apa contohnya sikap pejuang?
“Umpamenye nih lu ngejar cewek. Tu cewek nolak lu. Lu jangan nyerah. Lu kudu kejar trus ampe dapat. Kalo lu udeh naklukin ntu cewek, Lu udeh bise jadi pemimpin. Kaya Babe nih, naklukin Enyak Lu nyang cantik ntu,” jelas Babe.
Itulah Babe. Apa hubungannya cewek sama pemimpin?
Tapi sekarang Babe lagi ngapain yah? Palingan juga di pasar kambing. Ibu mungkin sedang mengajar. Engkong mungkin lagi ngulum-ngulum pipa rokoknya yang item plus secangkir kopi. Kalau Ane lagi madrasah.
Aku jadi kangen sama mereka. Kumpul lagi sekeluarga.

Ruang tunggu makin ramai. Rijal, Nepri dan Faris belum juga kelihatan. Tante pun belum muncul. Biarkan ajalah, mereka sudah dewasa, kok! Kalau terjadi apa-apa mereka bisa menjerit.
Satu pesawat landing ngiuuuunggg… . Bunyinya memekakkan kuping. Tapi tidak menganggu kegiatan orang-orang di ruang tunggu ini. Tak ada yang bengong sepertiku. Seharusnya tadi aku beli koran aja, untuk di pegang-pegang atau sekedar dibolak-balik. Biar kelihatan seperti kutu koran, gaya kan emang perlu.
Aku nikmatin ajalah kebengonganku ini dengan menikmati kegiatan orang lain.

Tante sudah kelihatan, diiringi tiga orang kutu loncat yang cengengesan sambil melambai-lambaikan tangannya padaku.
“Kok lama banget. Tan?” tanyaku penasaran, “Kamu lagi. Pada ke mana?”
“Makan. Laper!” jawab Tante sambil menepuk-nepuk perutnya.
“Aku ngeteh,” jawab Rijal
“Aku ama Faris ngopi,” jawab Nepri
Jujur banget sodara-sodara.
“Kenapa aku nggak diajak?” ujarku setengah ngiler.
“Kita nggak ngajak kamu, karena kamu mo naik pesawat. Kita-kita kagak? Kebahagian itu kan harus bagi-bagi dong. Chan!” alasan Faris.
Huffsss…
Nang ning nung. neng noongg…
Perhatian perhatian. Pesawat tujuan Jakarta akan segera berangkat. Kepada seluruh penumpang agar bersiap-siap.
Kami saling berpandangan. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku berdiri dan menyalami Tante.
Tante berpesan supaya aku bisa berubah, sholat jangan lupa, bangun jangan kesiangan biar nggak dimarahin ama Engkong, pinter-pinter jaga diri, kalau nyari cewek cari yang baik. Kenapa yang nggak montok? kataku. Kupingku dijewer sama Tante, air matanya mengalir di pipi. Untuk pertama kalinya Tante nangis di depanku.
Lalu aku menyalami Faris. Katanya, kalau aku sudah di pesawat baru dia mengakui Chapy sebagai singkatan namaku. Kemudian aku salami Nepri pesannya tolong tanyain harga sinyal sepaket sama telkom atau indosat, dia pengen jual sinyal saja, habis di kampung banyak orang gunakan hp di atas pohon jambu atau di atap rumah.
Nepri perhatian sekali ama dampak hp ini. Karena kemaren Mang Ucup jatuh dari pohon jambu sebelah warungnya, gara-gara nyari sinyal mo sms selingkuhannya Mbak Mimin.
Terus aku salami Rijal, tadi malem dia yang nggak nangis saat perpisahan, sekarang malah dia yang lebih semangat. Sambil tersedu-sedu dia berpesan supaya aku bisa menjaga keperjakaanku, jadikan itu hadiah buat istri di malam pertama. TOP banget pesannya. Kami berpelukkan bertiga.
Pada mereka aku berpesan, tolong jaga Tanteku karena dia Tante kamu juga.
Aku lihat air mata Tante masih ngalir. Aku hapus air matanya. Aku katakan supaya jangan nangis, ntar cantiknya bisa hilang.
Tante mengusap-usap kepalaku.
Kami saling berpandangan sejenak, aku yakinkan diriku untuk tidak akan menoleh ke belakang, jika kaki telah aku langkahkan. Aku menunduk sejenak. Lalu memandang mereka kali terakhirnya dan melambaikan tangan. Kemudian aku memutar tubuh. Melangkah dan tak menoleh lagi kebelakang.
Berat sekali! Aku nggak kuat, akhirnya aku menoleh lagi. Aku lihat ke arah Tante, Rijal, Nepri dan Faris. Mereka TERSENYUM.
Plong! Baru mantap langkahku.
Dari tempat duduk C7 dekat jendela aku liat pemandangan dari atas. Melintasi atap-atap rumah, kalau aku bawa teropong enak banget ngintip orang mandi dari atas. Hihi... piktor nih!
Di sebelahku duduk seorang cewek, perawakannya dewasa. Cantik. Aku memandangnya. Dia lalu menoleh ke arahku. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dia pun tersenyum. Ada respon positif nih, pikirku.
“Kenalkan Saya Chapy. Mbak!” ujarku sambil menyalaminya. Tangannya itu lho.Hiks.
“Kania.”
“Lagi liburan ya, Mbak?” tanyaku sok tau.
“Emangnya saya kayak anak kuliahan?” katanya heran.
Idih! pede banget dech. Maksudku libur dari ngurusin anak ama suami. Kali?
“Iya!” jawabku sambil mengangguk kepala.
Mbak Kania tersenyum. Senyumnya tampak lebar di bibir yang sedikit tebal dan basah. Merekah seperti hendak menelan kumbang yang hinggap dikelopaknya. Eh… emangnya bunga bangkai?
Lalu bercerita kalau dia udah nikah dua tahun yang lalu tapi sampai sekarang belum dikaruniai anak. Padahal udah pengen banget, katanya.
Akhirnya dia sepakat untuk mengakhiri pernikahannya. Katanya, dia dan suaminya nggak ada yang mau ngaku siapa yang mandul sebenarnya di antara mereka berdua. Malah dokter bilang kita berdua nggak mandul. Bingung kan? Katanya.
Aku hanya mengangguk dan sesekali bergumam “O.”
Dia baru menghadiri persidangan terakhir keputusan perceraiannya, katanya.
“O..!”
Dia sedih, tapi apa boleh buat karena dia pengen punya anak. Sepertinya dia mau cari suami baru nih.
“O..!”
“Padahal kita udah berusaha terus, sesuai anjuran dokter, malah usaha kita udah di luar batas. Bayangin aja, sepuluh kali dalam seminggu!“ katanya sambil mengacungkan sepuluh jarinya.
“Apanya yang sepuluh kali seminggu, Mbak?” tanyaku sambil ngernyitkan kening.
“Making love doang,” bisiknya genit sedikit malu-malu.
“Making love? Artinya membuat cinta, kan Mbak?”
Mbak Kania gemes. Habis gimana lagi dong, aku kan lugu.
“Bukan! Tapi gini-gini…,” katanya sambil mengaitkan telunjuk kanan sama telunjuk kirinya.
Aku menggeleng. Belum ngerti.
Aku tersentak kaget saat Mbak Kania berkata, “Anu-anu tau nggak?”
Aku jadi tertawa, hingga penumpang lain melirik ke arah kami berdua.
“Hasilnya!” tanyaku bersemangat.
“Yah setelah ditunggu beberapa minggu. Saya terus berharap supaya nggak datang. Karena kalau masih datang berarti nggak berhasil tapi kalau udah nggak datang berarti berhasil, tapi dia datang mulu,” jawabnya membingungkanku.
“Maksud Mbak suaminya yang datang. Gitu?”
“Idiiih.. nggak ngerti yah?”
“Daa..tang bulaanss….” ujarnya berbisik khawatir didengar orang.
“Ssstt…! Janji deh nggak ngasi tau sapa-sapa. Rahasia milik kita berdua!” ujarku berbisik juga sambil mengangkat dua jari.
Lalu Mbak Kania ketawa. Entah apa yang diketawainnya. Emangnya ada yang lucu, pikirku.
Tak terasa pesawat pun landing di Bandara Soekarno Hatta.
Mbak Kania ngajak pulangnya barengan saja naik taxi. Dia mau ngantarinku ke rumah. Tapi aku menolak karena akan dijemput sama Engkong.
Sebelum masuk taxi, dia memberiku kartu namanya. Aku ditawarin main ke kantor atau ke rumahnya.
Ya Tuhan semoga Engkau cepat memberikan suami baru buat dia, karena dia orang baik. Semoga saja dia nggak salah langkah menghadapi kejandaannya, Ya Tuhan.
Taxi yang ditumpangi Mbak Kania telah hilang dari pandangan mataku. Aku mulai mencari-cari keberadaan Engkong. Supir taxi makin ramai nawarin jasanya padaku.
Nkong kemana sih? Kok lama banget! Jangan-jangan Engkong nyasar.
Aku udah berpikir yang macam-macam. Kalau nggak tidur di bandara ini berarti aku harus menelpon Mbak Kania.
Tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang. Eh tau-taunya si Engkong ama Ane. Cengengesan lagi.
Akhirnya aku selamat juga dari pandangan heran orang-orang yang melihatku jongkok di atas travel bag.
Setelah acara salam-salaman selesai, Engkong manggil taxi.
“Tumben naik taxi Nkong. Banyak duit. Yah?” tanyaku
“Cuma buat nyambut lu aje. Biar lu senang!”

Selama di taxi aku tertidur. Engkong membangunkanku ketika taxi berhenti. Lalu aku turun, aku tanya ama Engkong rumah kita yang mana. Noh dibelakang Lu, jawab Engkong.
Aku lihat di beranda rumah, Babe ama Enyak udah nungguin. Aku langsung lari nyamperin mereka, lalu terdengar Engkong ngomel-ngomel.
“Kampret! Lu biarin gue ngangkat tas sendirian!” teriaknya.
“Skali-kali Ngkong,” balasku.
Aku mencium tangan Babe dan Ibu saat bersalaman. Tampak senyum kebahagiaan di wajah mereka. Mereka nanyain keadaan di kampung saat aku tinggalkan. Semuanya aman-aman saja kecuali satu, Tante tinggal sendirian. Kasihan. Cariin jodoh buat Tante dong, usulku.
Aku lihat Engkong masih ngambek, saat aku diajak Ibu masuk dan nunjukin kamarku. Untung aku nggak sekamar dengan Engkong, kalau sekamar? Perang dunia ketiga akan terjadi. Ibu pinter membaca situasi, sehingga aku tetanggaan kamar dengan Engkong.
Kamarku rapi sekali, sepertinya Ibu benar-benar telah mempersiapkannya untukku. Kasurnya empuk dengan satu bantal dan satu guling. Aku coba memeluk guling yang padat itu, Aku merasa sedang memeluk cewek. Tiba-tiba bayangan Mbak Kania melintas di pikiranku, kenapa aku jadi ingat dia?
Cermin hiasnya baru dan gede, tubuhku masuk hingga pinggang dalam bayangan cermin itu. Di sana ada parfum, pelembab wajah, minyak rambut, lotion. Barang-barang ini sedikit aneh bagiku. Malah aku berpikir, ini cewek banget deh. Karena selama ini aku hanya menggunakan bedak BB. Tapi nggak apa. Perubahan.
Di dekat jendela ada meja belajar, lengkap dengan alat tulisnya. Di sana ada beberapa majalah masak-masakkan, majalah pria dan oups.. majalah wanita juga ada men!

Malam jadi nggak terasa dengan obrolan, ama Babe dan Ibu. Sekalian aku ngakrapin diri ama Ane. Adikku satu-satunya kelas tiga esde.
Sebelum pamit tidur, nggak lupa Engkong memberiku ultimatum pantangannya. Bangun nggak boleh kesiangan, harus sholat, nyuci pakaian sendiri, kalo halaman kotor di sapu, ngurusin ayam, bersihiin kandang kambing, sekali seminggu mandiin kambing, setiap sore ngecek makan kambing.
“Kalau kambing aye yang ngurusin! Jadi kerjaan Engkong ngapain aja?” ujarku
“Lu. lu!” kata Engkong geram
“Lulu Tobing?”
Engkong ngejarku. Aku lari berlindung di balik tubuh Ibu. Babe malah ngakak.
“Ude Be. Chandra kan baru datang, biarin aje dulu dia nikmatin suasana di sini,” Ibu membelaku.
Mulut Engkong malah komat kamit. Ternyata Nkong berbakat jadi dukun. Sebelum masuk nggak lupa aku ucapin selamat malam ama Engkong. Engkong masih sebel, Nkong hanya jawab, apaan lu!
Aku ama Engkong emang suka bertengkar dari kecil, Engkong orangnya bawel banget. Tapi begitu Engkong orangnya baik dan gampang ngelupain, nggak mau memperpanjang masalah. Dan nggak dendaman. Udah ahh bobo dulu.

Aku bangun agak kepagian. Di dinding jam menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Jam bangunku pukul sepuluhan.
Rumah tampak sepi. Aku membawa secangkir kopi ke beranda. Aku lihat Engkong udah duduk manis.
“Pagi Engkong,” sapaku
“Hm..!” jawabnya dingin
Aku duduk di sebelah Engkong yang lagi mencet-mencet hp. Engkong keren banget. Aku coba minjem hp Engkong, tapi nggak boleh tar rusak kata Engkong.
Aku ngeliat-liat lokasi rumah aja. Halamannya agak luas. Ada pohon jengkol dan jambu. Rumah kami tampak hijau dengan bunga-bunga.
Aku punya ide mo bikin pondok di bawah pohon jengkol yang dekat ama jalan, jadi kalau ada cewek liwat aku bisa suitin. Yup!
Siangnya aku bete banget. Setelah pindah-pindah duduk, mulai dari bawah pohon jambu hingga jongkok di depan pagar, namun pandanganku selalu terhalang oleh rumah mewah yang berhadapan dengan rumahku. Mataku selalu tertuju ke sana. Tapi kayak nggak ada penghuninya.
Aku intip dari atas pohon jambu, nggak keliatan. Pagar rumahnya tinggi dan ditutupi. Aku panjat lebih tinggi lagi, yang keliatan cuma sepertiga pintunya. Nggak berhasil nemukan sesuatu.
Aku liat Engkong lagi bersihin kandang kambing, Engkong mulai ngeliatku. Aku harus buru-buru turun dan menghilang, dari pada aku disuruh bersihin kandang.
Aku masuk kamar, mendingan liat-liat majalah. Aku coba dulu dari majalah pria. Banyak gambar cowok memperagakan body gede. Tapi nggak ada si seksi Ade Ray. Gambar pemain bola juga banyak, Aku nggak suka bola. Masa bola cuma satu dikejar rame-rame! Kaya kurang kerjaan aja.
Aku bolak balik majalah itu, di halaman kedua dari belakang ada topik bagus, judulnya “tipe pria yang disukai wanita” beritanya satu halaman dan di belakangnya berita “Siapkan payung sebelum hujan pada kencan pertama anda”. Ini baru menarik.
Aku membaca berulang-ulang kalimat yang membuatku bingung. Aku terlalu banyak berpikir dan mencerna isi bacaan itu sehingga aku tertidur pulas.
Tumben! Aku bisa mimpi indah. Aku menjadi cheerleader dalam kompetisi basket wanita. Kaya iklan aja, penontonnya cewek-cewek dan ibu-ibu. Asyik dah!
Aku mulai ngedance, goyang patah-patah pinggulku lentur kaya karet. Tepuk tangan meriah sekali dari penonton. Aku makin semangat berguling dan melompat. Dance itu Aku akhiri dengan gerakan salto ke depan dan berdiri tegak sambil mengangkat kedua tangan. Spontanitas penonton nggak dapat ditahan, mereka tepuk tangan dan bersorak sorak.
Aku tersenyum bangga. Tak lama penonton mulai tertawa sambil menunjuk-nunjuk. Aku masih tersenyum, ahh barangkali ada temanku yang jatuh di belakang.
Lalu aku menoleh ke belakang. Teman-temanku juga tertawa sambil menunjuk ke arah pahaku. Aku liat ke bawah.
“Oh.. TIDAK!!!”
Celanaku melorot. Reflek aja aku menutup warisan Babe ini dengan kedua tanganku. Lalu aku terbangun dengan nafas ngos-ngosan.
Tapi masih untung aku nggak mandi wajib sore-sore gini.

Sekarang pukul empat sore. Aku udah rapi, duduk dekat pagar rumah. Aku mo tebar pesona. Satu lewat, dua lewat, tiga lewat, empat lewat semua standar, belum ada yang double gardan.
Yang ke enam taxi lewat, oupsss.. berhenti di depan rumah. Alah mak! Ini dia double gardan, power stering, dua tak, pake oli samping nggak nih? Pakaiannya warna hijau dan rapi, roknya di atas lutut. Sayang? dia nggak noleh padaku, wajahnya nggak keliatan.
Aku cepat-cepat manjat pohon jambu. Aku hanya bisa melihat rambutnya. Huh!

Namanya Laras. Umurnya tiga puluh tahun. Sudah punya suami, tapi baru saja bercerai. Dia pegawai bank swasta. Tinggal di sini ama pembantunya semenjak rumah itu dibangun dua tahun yang lalu. Orang tuanya ada di Surabaya. Dia gadis yang baik. Dia juga sering beli telor ayam kampung ama Engkong. Ane sering diajak nginep di rumahnya.
Aku berlari ke kamar ngambil kartu nama yang diberikan Mbak Kania padaku. Namanya disana Larasati Kania Gandi. Apakah Mbak Kania yang tinggal di rumah besar itu? Aku yakin pasti Mbak Kania yang tinggal di rumah itu.
Rasa penasaranku semakin gede. Setiap saat aku nongkrong di teras rumah, pagi dan sore agar bisa melihat si pemilik rumah itu. Namun usahaku selalu gagal. Bayangan Mbak Kania semakin melekat di otakku, aku rindu sama dia. Kenapa aku jadi begini? Apakah gara-gara dia cantik? Huh. Waduh Be, tolongin anakmu ini yang lagi jatuh cinta Be. Eh tapi apa bener aku jatuh cinta ama Mbak Kania? Aku nggak tau! Yang pasti Mbak Kania membuat aku jadi puyeng.
Pagi minggu sekitar jam setengah delapan, aku dikagetkan oleh teriakan Ibu.
“Ane! Antarin nih telornya ama Mbak Laras!”
Aku buru-buru bangun dan langsung lari ke belakang.
“Buk. Biar Saya aja yang ngantarinnya?” tawarku
“Cuci muka dulu!”
Aku semangat. Aku merasa hidup. Haha ha aku tertawa bahagia.
“Mana Buk telornya?”
Ibu heran melihatku rapi sekali dan wangi.
Dengan dada yang berdebar-debar aku buka perlahan pagar rumah itu, aku sengaja bersiul-siul biar Nyonya pemilik rumah mendengarkanku. Aku mulai gemetaran saat mengetuk pintunya.
Saat pintu terbuka malah pembantunya yang muncul.
“Nyari siapa, Mas?” pembantu itu bertanya.
“Nyari yang punya rumah,” jawabku
Pembantu yang bawel, banyak tanya lagi. Mau keperluan apa? Dari mana? Udah bikin janji apa belum?
“Siapaa. Bik?” tiba-tiba suara Nyonya itu terdengar. Dan aku hapal suara merdu itu. Aku semakin berdebar dan gemetar. Ya Tuhan tolonglah hamba-Mu yang lagi gelisah ini.
Lalu aku tercenung tak berkedip, dia memang Mbak Kania. Alangkah cantiknya dia dengan dasternya itu. Rambutnya basah dan kaku tergerai. Dia tersenyum dan mulutnya bergerak-gerak. Mbak Kania akhirnya kita bertemu lagi. Tapi, Apakah aku mimpi? Atau bidadarikah yang berdiri di depanku?
Tatapanku menjadi kosong dan pikiran melayang-layang ibarat layangan dapat angin. Aku tak sadar ketika Mbak Kania melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Lalu dia menepuk pundakku.
“Kamu sakit. Chapy?” tanya Mbak Kania sambil menempelkan tangannya di keningku. Tangannya dingin dan lembut membuat mataku terpejam.
“Chapy?” sapanya, “Kok Kamu tidur? Kamu sakit?”
Aku shock ringan.
“Chapy? Kamu kenapa?” tanya Mbak Kania lagi sambil menggoyang-goyang tubuhku.
Aku baru benar-benar tensentak. Dan langsung tertawa gugup.
“He he… nggak sakit kok Mbak. Saya kaget ketika saya melihat Mbak, saya seperti mimpi saja,” ujarku pangling.
Setelah berbincang-bincang banyak hal. Mbak Kania baru tahu kalau aku tinggal di depan rumahnya. Mbak Kania tertawa geli, tawanya ringan tanpa beban, tawa yang tak dibuat-buat, tawa yang tulus. Katanya, kok kita bertemu lagi yah? Ternyata dunia ini kecil ya Chapy.
Aku pamit pulang, kira-kira sudah satu jam aku di sana. Saat aku sampai di dekat pagar, Mbak Kania memanggilku.
“Chapy. Nanti sore kamu ada kerjaan nggak?”
Aku menggeleng.
“Kamu mau nemanin Mbak. Nggak? Jalan-jalan sore, sekalian ngetes mobil Mbak yang baru keluar bengkel,” ajaknya.
“MAU MAU.”
“Jam tiga siap-siap ya,” tegasnya lagi.
Aku mengangguk, dan berlalu dari rumah Mbak Kania. Aku langsung masuk kamar sambil cengar-cengir bahagia. Yes… yes…! Aku tutup mukaku dengan bantal yang padat, namun getaran bahagia ini masih ada di dadaku. Lalu aku menelungkup, membenamkan kepalaku ke kasur dan meletakkan bantal di atasnya namun bayangan Mbak Kania semakin jelas. Senyumnya membuat aku ingin berteriak memanggil namanya yang indah. Suaranya semakin nyaring terdengar di telingaku.
Aku nggak sabar lagi menunggu jam tiga. Aku mondar-mandir di rumah, nukar-nukar channel tipi, membuat Nkong jadi sebel.
Ternyata ocehan Engkong mempercepat berlalunya waktu, tak terasa ketika Aku melihat jam di dinding, jarum pendeknya sudah menunjukkan jam dua. Aku harus mandi sebersih-bersihnya. Aku berdandan, berbedak, pakai lotion. Wah wangi dan cakep.
Jam setengah tiga aku sudah duduk di teras, menunggu sang pujaanku keluar memanggilku.
Ibu heran melihat polaku. Beliau tak tahan untuk tidak bertanya melihat keanehan anak lakinya yang semata wayang berubah aneh bak bencong yang mau narik.
“Cakep betul. Chan? Mau ke mana panas-panas gini?” tanya Ibu
“Mau diajak jalan sama Mbak Kania. Buk.”
“Siapa Mbak Kania?” tanya Ibu, karena Ibu taunya Laras.
Lalu aku menceritakan pertemuanku sebelumnya dengan Mbak Kania. Ibu mengerti dan tertawa geli mendengar ceritaku. Kenapa setiap ceritaku membuat orang yang mendengarnya tertawa? Apakah aku pelawak?
Tepat jam tiga, Mbak Kania keluar dari rumah dan dia mengeluarkan mobilnya, lalu mampir ke rumah karena melihat Ibu bersamaku di teras. Mbak Kania minta izin membawaku. Seperti anak cewek aja!
Kami pun masuk mobil, sebelum Mbak Kania menstarter mobilnya, Dia bertanya, apa aku sudah makan? Aku mengangguk. Kemudian dia merapikan kerah bajuku, lalu dia tersenyum. Aku merasa tersanjung banget, ini pengalaman pertamaku, baru kali ini ada orang yang memperhatikanku. Aku semakin simpati padanya.
Di mobil aku tak banyak bicara, sesekali aku mencuri pandang padanya. Tapi sering ketangkap basah. Mukaku pun berubah warna.
Aku tak tahan untuk tidak melihatnya. Aku beranikan diri untuk merubah arah dudukku. Sekarang arahku sudah mengarah padanya. Aku menatapnya yang asik dengan stir mobil.Ketika dia menatapku, aku menunduk atau melihat ke belakang.
Mbak Kania geli. Aku bisa melihat kalau dia juga bisa grogi dipandangi oleh bocah gelondongan seperti aku. Eit bukan bocah tapi brondongan.
“Kenapa memandang Mbak begitu. Chapy?” tanyanya
“Mbak cantik.”
Kali ini rona mukanya memang berubah jadi merah jambu. Ahaa…!! ternyata wanita itu senang dipuji.
“Kamu gombal.”
Tak ada yang begitu istimewa jalan-jalan sore bersama Mbak Kania, kecuali waktu di starbuck, dia membersihkan wajahku dari makanan yang ikut nangkring dengan tissue.
JJS pertama banyak diam. Tapi dengan memandangnya saja aku sudah sangat senang.
Aku tidak ingin berpisah dengannya malam ini.
Setelah pulang, malamnya aku tak tenang. Aku ingin berada di dekatnya. Huh! Aku bingung, kenapa aku begitu cepat suka padanya? Inikah yang namanya jatuh cinta? Kenapa aku jatuh cinta pada seorang janda? Kenapa dia ada perhatian padaku? Apakah aku terlalu sensitif? Hingga seperti jablay.

Hari demi hari berlalu, berganti minggu dan bulan pun sudah berganti dua kali. Hubunganku dengan Mbak Kania semakin dekat, Dia tetap tidak berubah seperti pertama kali bertemu dan JJS pertama bersamanya. Hanya aku saja yang sering kelimpungan menghadapi sikap Mbak Kania yang tenang dan sekali-kali memandang genit padaku.
Di hari libur Mbak Kania sering mampir ke rumahku, kadang main masak-masakan bersama Ibu, kadang lari-larian bersama Ane adikku, yang lebih gila malah main catur ama musuh bebuyutanku, siapa lagi kalau bukan Engkong. Kalau Mbak Kania ke rumahku, aku dicuekinnya. Dia sibuk dengan Ibu, Ane atau Engkong. Aku makin tersiksa dan hanya bisa mengintip-ngintipnya dari balik pintu atau gorden.
Kedekatannya dengan keluargaku membuat aku semakin nggak tahan untuk menyatakan cinta padanya. Tapi aku takut, aku bingung bagaimana caranya karena ini pertama bagiku. Apa aku harus menulis surat padanya?
Ketika malam datang dan rasa rindu tak tertahankan, tindakan bodoh sering aku lakukan.
Seperti malam kemaren, aku ingin menyatakan perasaan ini padanya. Saat itu jam sudah jam 10. Ketika dia membukakan pintu dan bertanya, “Ada apa Chapy?”
Aku gugup bukan main, tergagap-gagap nafaspun sesak.
“A a a a…” gagapku dengan nafas tertahan
“Kenapa?” ujarnya lembut
“I i itu ehh.. i i nii..” jawabku sambil menunjuk dadaku
“Sakit?”
Aku menggeleng, “Aduuuh…,” ujarku sambil menepuk-nepuk keningku dan menghentak-hentakkan kaki.
Mbak Kania awalnya heran tapi lama-lama dia tersenyum.
“Mau ngomong?”
Aku mengangguk.
“Ayo ngomong.”
“Besok hari Sabtu kan, Mbak?” tanyaku
“Iya,” jawabnya singkat
“O…,” ujarku
“Memang kenapa?” tanyanya lagi
“Enggak. Saya kirain besok hari Selasa, ya udah dech kalo gitu. Saya pulang, permisi Mbak,” kataku sambil berlari.
Mbak Kania melongo ketika aku melihat ke belakang.
Hari Minggu, aku kembali diajak jalan oleh Mbak Kania. Saat kami mampir ke café dan memesan mimuman dan makanan, diiringi musik yang sangat memancing suasana untuk marah pada perasaanku.
“Chapy,” sahutnya sambil memandangku tajam.
Aku pun memandangnya.
“Chapy, kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Juga hari ini, diam saja. Kamu nggak seperti dulu, cerewet dan lucu” selidiknya
Aku mengangkat wajahku dan menjawab pertanyaannya seenaknya, “Iya Mbak, kenapa nggak berubah. Engkong hanya sibuk nyuruh-nyuruh saya. Ngurus kambinglah, ayamlah, nyapu halamanlah. Engkong nggak pernah tau apa yang saya rasakan. Engkong juga nggak tau kalo saya lagi jatuh cinta sama Mbak. Engkong juga nggak tahu kalo saya begitu gelisah. Kalo Engkong tau, Engkong mungkin bisa membantu menyampaikan perasaan saya sama Mbak,” ujarku tanpa sadar saat tatapan kosongku ke pemain piano.
“APA!” tanya Mbak Kania Kaget
“Apanya, apa. Mbak?” sahutku lagi
“Kamu mencintai Mbak?”
“Mbak tau dari siapa?”
“Barusan Kamu bilang?”
“Emangnya saya bilang gitu?”
“IYA!”
Aku malu. Diam. Lama banget. Sesekali aku memandangnya. Akhirnya aku mengangguk. Mbak Kania tersenyum, lalu mengenggam tanganku begitu erat.
Mbak Kania juga diam dan tak memberi jawaban.
Saat keluar dari café itu, Mbak Kania menggandeng tanganku. Aku tak tau apa yang dipikirkannya.
Seminggu berlalu semenjak kejadian di café itu, Mbak Kania belum juga memberi jawaban. Aku merasa tak tau diri, ingin kucabut kembali kata-kata itu darinya. Aku malu. Tapi sikap Mbak Kania tidak berubah terhadapku begitu juga dengan sikapnya ama keluargaku.
Mbak Kania perempuan yang baik, Aku tak akan pernah melupakannya. Dialah cinta pertamaku dan berharap menjadi istriku. Ooppsss…..!
Mbak… menikahlah denganku.
Bersambung dong….

0 komentar:

Posting Komentar