Rangku Syahwalla Panuh

08.44 / Diposting oleh ilham_payobadar /

Awan cumulus yang semula bergumpalan itu menyibak. Menjadi pipih. Mengarah ke satu arah, ketika gumpalannya dipecah oleh hembusan angin yang datang mengusir kelamnya mendung. Awan mendung itu presipitasi titik air dari proses sirkulasi hydrologic alam. Kelembaban dari penguapan. Tuhan punya rencana lain, mengapa hujan tidak jadi diturunkan-Nya. Kita hanya bisa memprediksi namun ketetapan-Nya bukanlah hak kita.
Lalu matahari dengan cahayanya yang bergerak tiga ratus ribu km per detik, kembali mencuat di balik awan yang menciut oleh angin. Kadang pembiasan sinarnya menghasilkan gelombang elektromanetik berupa spectrum warna-warna. Dalam sebuah legenda di Jawa, orang-orang mengatakan itu adalah jembatan Putri Nawang Bulan turun ke bumi. Aku hanya tahu kalau itu adalah pelangi seperti yang diterangkan oleh guru-guru ku waktu di sekolah dasar dulu. Ternyata mendung yang tadi hanya singgah saja, tidak menghasilkan pelangi. Kini langit seperti bocor, yang ditembus oleh garis-garis lurus cahaya. Tak lama merata. Mendung pun hilang. Waktu seperti kembali berjalan dari cuaca yang mencoba memberikan kekakuan pada gerak alam. Burung-burung kembali tergoda untuk berdendang, menebar pesona para betina untuk memadu kasih. Saling berlompatan dari satu ranting ke ranting lainnya. Mereka sedang berbahagia.
Ada beberapa pohon di sini. Tapi masih kurang banyak untuk meresap karbondioksida yang mencemari molekul-molekul udara segar dunia. Kenapa harus terjadi global warming? Jika kita tahu selama ini, pohon-pohon memerlukan karbondioksida. Bukankah salah satu alasan tetumbuhan bisa hidup karena mereka memelihara pertukaran gas pada saat fotosintesis? Seribu pohon, sebagai jawabannya.
Kurang banyak pohon di sini, tapi di bawahnya bangku-bangku dan meja yang terbuat dari jati tertata dengan rapi. Ukh… keras sekali. Jati sepertinya tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Di tengah-tengahnya sebuah jalan dengan lebar satu meter setengah, sangat dominan dengan hiasan konblok dari rerumputan hijau di sekelilingnya. Jalan itu tempat lalu lalang mahasiswa menuju fakultas, yang kini mulai ramai hilir mudik membawa map dan buku-buku. Hanya sedikit saja dari mereka yang menikmati keasrian taman kampus yang hijau dengan tetumbuhan ini. Juga bunga-bunga. Hey… lihatlah itu kupu-kupu. Sudah lama aku tidak melihatnya. Apakah mereka berhasil melakukan metamorfosis di tempat ini? Ataukah mereka hijrah dari tempat-tempat yang sudah tidak bersahabat lagi dengan mereka? Lihatlah mereka juga berbahagia di ruang yang sedikit hijau ini. Ya barangkali. Mungkin karena mereka sudah kehilangan tempat atau bisa juga karena udara yang semakin memanas. Segala sesuatu saat ini bisa saja dikaitkan dengan isu global warming.

Hanya sedikit bangku-bangku yang diduduki. Beberapa diantaranya tidak setengah, tapi masih dalam hitungan jari. Duduk di bangku-bangku yang mengitari pohon-pohon. Berdiskusi. Bercengkrama. Bercumbuan. Atau sekedar melamun saja. Dan aku? Aku tidak melamun. Aku menunggu Adinda.
Mencari kesombongan diri dengan menikmati kegiatan orang-orang di taman ini dan orang-orang yang hilir mudik. Aku suka memperhatikan orang-orang. Kadang aku mencoba mereka-reka apa yang sedang dipikirkan orang-orang. Di kereta. Di bis. Di mall. Di ruang kelas. Di taman. Aku juga suka memperhatikan mata pria yang memandang wanita seksi. Lucu. Rata-rata mereka, pertama akan melihat wajahnya, lalu dadanya. Mencari sedikit celah agar dapat melihat daging lembut dan kenyal yang terbungkus oleh kulit putih itu. Pandangan akan semakin turun ke bawah. Jika wanita itu berjalan dibelakangnya, mereka melihat pinggangnya, lalu pantatnya. Paha yang padat. Kemudian jakun mereka akan naik menelan liur. Terkadang itu pandangan biasa. Pandangan yang laki-laki sekali. Tetapi di sana ada birahi walau sedikit.
Apakah wanita tidak merasa diperkosa oleh pandangan itu? Mungkin juga sebagian wanita menginginkannya.
Apakah ada wanita yang memperhatikan para pria seperti itu? Aku rasa tidak ada. Sebab yang diinginkan wanita ketika memperhatikan pria adalah bagaimana supaya dia bisa diperhatikan kembali oleh pria.
Tetapi kalau pun ada, aku ingin. Ingin ditelanjangi dan diperkosa oleh tatapannya.
Para pria sering tertangkap dalam pandangan liarnya, tapi wanita hampir tidak pernah. Kenapa wanita bisa menyembunyikannya? Bukankah wanita dijadikan Tuhan dengan sembilan nafsu dan satu akal? Kenapa wanita bisa menjaga atau menutupi yang sembilan itu? Lalu kenapa yang satu bisa mengalahkan yang sembilan pada pria?
Apakah karena dengan bentuk tubuh yang indah oleh nafsu, pria merubahnya menjadi sembilan nafsu? Mungkin.
Tapi tidak mungkin menurut sebagian orang yang beranggapan bahwa tubuh wanita adalah seni. Bohong. Bullshit. Tidak ada seni pada tubuh wanita untuk dipandangi. Dipahat Dilukis. Diphoto. Apalagi ditato. Makanya wanita harus menutup aurat. Bukan mengumbarnya, seperti butik yang memajang busana-busana malam.
Seorang artis bicara, orang-orang menilai penampilan saya seksi, saya sih biasa-biasa saja, mas. Jangan lihat keseksian saya dengan pikiran porno dooang… Lihatlah penampilan saya bagian dari seni.
Aku teringat akan Inul. Inul adalah sel yang berhasil membelah diri-nya, dan sel itu berkembang menjadi sel Dewi Persik, sel Uut, sel Trio Macan, sel Anisa Bahar dan sel-sel selanjutnya yang mengundang penis-penis berkerut para bule berdatangan ke Indonesia. Hmm… devisa negara yang kotor.
Perdebatan antara seni dan parno. Pantat ngebor, ngecor, patah-patah, kayang mengundang aksi. Seorang ustad menentang tapi di sisi lain seorang kiyai mendukung sang idolanya. Orang-orang sepertinya sudah kehilangan ketimurannya, budayanya. Terutama ibu-ibu yang ikut-ikutan memberi respon yang positif. Seakan goyangan itu inspirsi baru bagi mereka ketika bergoyang di atas tempat tidur. Bukankah itu mengasikkan? Pikir mereka.
Apakah mereka tidak kasihan terhadap anak-anak yang menyaksikan tontonan itu? Bocah-bocah lanang yang hanya dibekali satu nafsu, yang siap merubahnya menjadi sembilan kapan pun juga. Cah lanang itu telah diperkosa oleh tontonan yang sebagian besar digemari bapak ibu-nya. Dan memang, mereka tidak pernah tahu - di belakang sebuah rumah murid kelas enam esde, masturbasi. Berdiri seperti piala patah. Dengan baik dia menggunakan basic insting-nya. Begitu cara dia menilai ngebor Inul sebagai seni dengan air seni.
Semoga bangku-bangku ini diduduki oleh pantat-pantat yang tidak berdosa. Bangku-bangku ini mulai ramai diduduki. Tetapi tidak satupun yang mau sebangku denganku. Hmm… apakah pantatku yang sedikit padat ini juga berdosa?
Kamu kemana Adinda? Hampir satu jam aku menunggumu. Mulai di kantin, saat mendung dengan segelas kopi rakyat. Kopi ABC. Apakah kopi itu menggunkan robusta roasted ala espresso? Ahh… aku bukan pengopi hardcore.
Aku mengopi karena tubuhku membutuhkan sedikit kafeinnya untuk merasa lebih segar, terlihat energik dan sedikit untuk meningkatkan kesuburan spermaku. Sebab dia adalah calon-calon penerusku nanti.
Aku sudah rindu padamu Adinda. Dengarlah berita dukaku, sahabat.
Ehh… bukankah itu si Joni? Ya. Aku harus acuh. Aku tidak menunggunya. Aku mengharapkan Adinda.
Si Joni yang edan.
Bukankah aku aneh? Tanyaku. Joni menjawab, tidak Rangku. Orang-orang hanya tidak mengerti denganmu. Karena keanehan itu kelebihanmu. Aku ingin beraneh-aneh ria bersamamu. Aku diam dan tidak tersanjung. Siapa yang tidak kenal Joni bermulut baskom. Lalu dia tertawa dan menepuk-nepuk bahuku. Awalnya tepukan itu pelan, tapi diakhirinya dengan keras. Aku menahan perih dan menatapnya.
Mengendalikan suasana yang tegang, Joni kembali bertanya. Kamu suka nyodok kan? Aku jawab, tidak. Aku suka merokok. Apa kamu tidak kasihan dengan asam deoksiribonukleatmu? Sini-sini…! Katanya menarik lenganku. Tanganku meronta dan sedikit berdecis. Apaan sih lo! Ujarku. Lalu si Joni mulai menjelaskan penuh semangat, memakai gerakan-gerakan tangannya dan sedikit penekanan intonasinya, pada kata yang kiranya aku sulit mengerti.
Di dalam sini, katanya sambil menunjuk dadaku. Ada deoxyribonucleic acid ato de-en-a, ujarnya mengeja pada singkatan DNA. Aku balik bertanya, apa bedanya dengan asam deoksiribonukleat-mu? Dia tertawa, jawabnya “Samaaa… Rangku.”
Aku diam. Jawabannya sama, jadi aku dan dia tidak beda. Dia merokok. Mengapa dia mengajariku? Aku pusing menghadapi orang banyak eksyen ini. Aku menyulut rokokku. Sebelum ujungnya terbakar, Joni tergopoh-gopoh memperingatiku.
“Tunggu. Rangku! Pikirkan kembali. Rokok akan mempercepat umur deoxyribonucleic acid-mu! Kamu harus tahu, Rangku. Harus tahu teman!” ujarnya sambil menghembuskan nafas, seperti orang asma lalu berjalan mengitariku.
Apa yang diinginkan orang ini dariku. Aneh. Orang-orang bilang aku aneh, tapi si Joni lebih aneh dariku. Lain. Tetapi aku tetap diam.
Dengan wajah serius dia menatapku, “Rangku, dalam DNA-mu ada telomer yang bertugas mempertahankan integritas kromosom-mu. Setiap sel-sel tubuh kita membelah diri, telomer itu akan memendek, Rangku. Hingga habis. Dengan rokok ini! (Joni merebut rokok yang belum terbakar itu dari tanganku) kamu semakin memberi peluang besaaaarrr untuk sejumlah penyakit.”
Lalu dia tersenyum, “Hentikan rokokmu, Rangku. Telomermu akan terus memendek, memendek dan memendek. Kamu akan semakin cepat tua. Dia habis. Kamu pun mati!” katanya dengan intonasi yang keras pada kalimat kamu akan mati sambil menunjuk ke dadaku lagi. Aku hanya diam dan menatapnya.
Dia sedikit membungkuk, karena dia 175 cm sedangkan aku 160 an. Lalu mensejajarkan wajahnya di depan mukaku. Hanya berjarak 5 cm. Joni menatapku nanar. Nafas siangnya menyentuh pangkal hidungku yang beraroma besi karatan, “Ha…ha…haa… kamu mati, Rangku?”
Aku didikte Joni. Dia menantangku. Aku rebut rokok itu dari tangannya, lalu membakarnya. Dan aku hembuskan asap ke wajahnya. Aku pergi. Jauh-jauh dari dia.
“Fren-fren… tunggu fren!” panggilnya, setengah berlari. “What wrong with you, man?” Aku berbalik. Joni, apa yang baru saja kamu jelaskan, aku sudah tahu! Aku panitia inti dalam seminar anti rokok yang diadakan BEM kemaren, jawabku. Kali ini aku yang menatapnya nanar. Aku berseru, So… Joni! Dia diam dan melongo. Aku pergi dari hadapannya dan tidak memperdulikan Joni lagi. Sekilas aku dengar joni menggumam, entah apa, tapi setelah itu aku mendengar sesuatu, seperti tembok dipukul dengan benda yang tidak terlalu padat. Mungkin saja Joni menendang dinding gedung perkuliah.
Orang-orang memanggilnya Joni. Aku juga, lengkapnya dia Joni Aksara. Bertubuh jangkung dan selalu mengenakkan sweater. Tidak siang tidak malam. Tidak hujan dan tidak panas. Sweater sudah seperti sahabat dekatnya, baik dalam kondisi sadar maupun mabuk. Dia juga maniak low rise jeans yang selalu molor, memperlihatkan boxer briefs-nya yang bermerek calvin klein, remona, atau gt-man, sesekali sony. Sepertinya hal itu menjadi kebanggaannya.
Pergelangan tangan juga dihiasi dengan berbagai macam model gelang, dari yang berwarna hijau, kuning dan merah. Ada juga gelang berbentuk tasbih dari kayu. Juga gelang-gelang karet berwarna hitam.
Rambutnya trendy, seperti kebanyakan anak-anak band sekarang. Bukan acak-acakan. Tapi tampilan rambut yang manja. Layaknya anak mami buaanget. Bawaan rambut membuat dia memanis-maniskan senyumnya. Suara yang kadang-kadang dilagukannya.
Joni bergaya anak mami, tapi dia penjahat kelamin. Menurut sebagian mahasiswa di kampus, Joni sosok yang menakutkan (bagi orang-orang baik sih…), mengerikan dan merugikan.
Joni juga melengkapi tubuhnya yang kerempeng dengan kalung rantai berliontin nazi. Dia seperti toko aksesoris berjalan, aksesoris murahan tapi terlihat mewah juga jika benda-benda itu ikut nimbrung dalam BMW nya.
Joni memang kerempeng. Mungkin kekerempengannya itu akibat bawaan gen, mungkin juga narkoba, atau bisa juga karena perek clubbing yang setia menyedot spermanya. Oral. Sek praktis – seperti mie instant, cukup disiram dengan air panas taburkan bumbunya, jadi. Tinggal sedu, panas-panas kuku yang sedikit menggigit sensor-sensor lidah, bergoyang seirama house music dengan desah yang hanya nyaring di gendang iblis. Iblis seperti minuman suplemen, yang memberikan dorongan spirit pada birahi dan berkata, “Yahhh… sedikit lagi. Terus. Terus. Terusssss…. Joni!” Bagi Joni tidak payahlah mencari ayam kampus atau bebek abu-abu hypersex, kadang bukan hyper melainkan trend some man liven kaum yang sok-sok urban. Bersedia ditidurinya tanpa bayaran, cukup dibarter narkoba. Apa sih bahasa yang indah buat mereka?
Siapa yang tidak kenal dengan Joni, di kampus, cafe-cafe, diskotik-diskotik, apalagi dunia artis, bukan hal aneh bagi dia. Semua orang hampir mengenalnya. Yang dia belum kenal, sudah mengenalnya lebih dahulu. Banyak yang mengaku-ngaku teman dengan anak pejabat negara yang juga pengusaha ini. Joni punya sesuatu yang bisa bikin dia terkenal. Nama papi dan harta.
Ketika Joni tersandung masalah, nama papi menjadi solusi yang terbaik. Status sosial yang disandang papi membuat orang-orang berpikir berhadapan dengannya. Papi like is devil. Kadang, juga devil advocate. Maka lengkaplah, papi bikin hidup Joni lebih bejat, sebagai poshboy metropolitan. Apa yang diinginkan Joni hampir semuanya terkabulkan. Apa yang tidak dengan uang banyak?
Papinya telah mewariskan cara-cara kapitalis dalam diri Joni. Pure entrepreneur yang tidak saja jago dalam mengelolah bisnisnya tapi juga mempunyai sikap sensitif dalam berpolitik dan itu membuat dia unggul. Jabatannya yang sekarang ini merupakan hadiah dari upeti-upeti yang diberikannya untuk dana kampanye para petinggi negara pendahulunya.
Sekarang uang segalanya, Rangku. Uang sebagai peluru dalam perjuangan-perjuangan untuk mencapai kemenangan, kata Joni. Aku tidak setuju dengan statemen Joni itu. Tidak semuanya bisa diukur dengan uang. Joni bangga dengan sikap materialismenya itu, yang selalu bisa memenuhi semua keinginannya. Uang seakan raja baginya, yang tidak bertahta, tidak berpemaisuri. Tanpa wilayah dan perundang-undangan. Dan dia adalah pangerannya dalam kerajaan itu. Bangsawan yang selalu membusungkan dada dengan nama kerajaan. Bangsawan yang tidak merasa dirinya bagian dari orang-orang, melainkan individu yang memainkan kerajaanya demi kepuasannya.
Dengan uang kamu akan menundukkan orang-orang yang tidak bisa ditundukkan dengan kata-kata dan prilaku jujur. Idealisme tidak berarti ketika berhadapan dengan uang, kata Joni lagi. Aku merasa risih dan tidak sependapat dengan Joni. Aku menyeringai sambil memainkan sedotan dibotol minumanku. Lalu aku bertanya, “Apa yang bisa kamu raih tanpa uang?” Joni diam. Sesaat dia berpikir mencari jawabannya. Aku ingin tahu, apakah Joni bisa berusaha tanpa uang? Joni garuk kepala.
Ya tentu ada, jawabnya.
Apa? Aku balik bertanya.
Ada!
Apa?
Aaada!
Aaapa?
Joni mulai terganggu dan merasa terpojok. Egois di matanya meredup ketika Joni menjawab tidak ada.
Mental kapitalis, kataku. Kamu hanya bisa melihat dirimu sendiri. Oportunis yang berlandaskan uang. Tidak pernah memikirkan nasib orang-orang yang kamu ukur dengan uang. Tidak punya hati nurani atas orang-orang yang kamu singkirkan dengan uang. Kamu tidak merasa bagian dari masyarakat tapi kamu pecundang yang kesepian, berjuang sendiri seenaknya untuk kebahagian dengan kekayaanmu.
Raut diwajah Joni berubah. Joni membela dirinya, selama ini orang-orang yang aku perlakukan dengan uang tidak pernah merasa keberatan. Mereka senang dan menyukainya. Bahkan mereka berharap supaya aku memperlakukannya dengan uang. Apa gunanya uang banyak jika aku tidak mendapatkan kebahagian dengan uang itu. Aku tidak salah! Mereka yang salah, kenapa mau dikapitalisir oleh keadaan mereka! Nada bicara Joni mulai meninggi. Aku menatapnya dan kami saling beradu mata. Dan larut dalam emosi masing-masing. Aku tahu Joni tersinggung. Puncak bisulnya telah ku senggol. Dan kini bisul Joni mulai pecah.
Aku redakan suasana dengan memandang ke sekeliling kantin. Mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pembicaraan. Bukan karena aku gentar berhadapan dengan Joni atau orang-orang suruhannya. Tanpa orang-orang suruhannya pun, tubuhku yang kecil ini juga akan babak belur di tangannya. Tapi aku bukan tipe orang yang pengecut dengan kekecilanku ini, aku akan melawan walaupun aku tahu akan bengap. Yang aku khawatirkan pemilik kantin ini. Joni selalu merusak apa yang ada di sekelilingnya. Beberapa kali keributannya di sini selalu berakhir dengan rusuh dan berantakan.
Joni masih menatapku tajam. Tatapannya seakan-akan mau menerkam. Aku tetap tenang dan berkata, “ Kamu tidak salah dengan kekayaanmu, yang salah itu ada…,” tiba-tiba Joni mengebrak meja, “ Ha-ah!” teriaknya. Joni berdiri. Semua mata di kantin itu tertuju pada kami. Aku lihat beberapa orang mulai meninggalkan kantin. Aku tetap dudk, kali ini bisul Joni yang dekat pantatnya benar-benar pecah.
Muka Joni memerah. Dia geram. Diraihnya botol minuman kemudian dibantingnya. Pecah. Tanggannya bertumpu di meja dan tubuhnya sedikit menunduk, lalu didorongnya dadaku, “Jangan campuri urusanku!” bentak Joni.
Tubuhku sedikit mundur ke belakang karena dorongannya, lalu berdiri “Ingat Joni! Tidak semua orang bisa kamu perlakukan begitu, tidak juga aku,” tantangku. Lalu meninggalkannya dalam amarahnya yang tertahan. Joni benar-benar marah. Tapi belum anarkis. Kenapa dia tidak meninjuku? Seperti tinjunya pada orang-orang. Aneh. Apakah dia kasihan padaku? Atau aku harus bersiap diri dari bogem preman-preman bayarannya? Tak tahulah aku.
Itulah saat di mana Joni mulai terbiasa dengan keanehanku. Aku hanya tahu orang-orang bilang aku aneh, tapi tidak satupun yang memberi tahu apa keanehanku.
Seperti keanehan Joni mengunjungiku. Seperti keanehan Joni yang tidak bosan dengan kritikku. Dia tetap saja datang menghampiriku. Apa tujuan Joni sebenarnya? Dulu, aku bahan tertawaannya bersama cecunguk-cecunguknya. Tapi kini dia datang penuh keakraban. Dia seolah-olah lebih mementingkan aku dari pengikutnya di kampus. Seorang Joni tidak pernah ingin berteman dengan orang lain, justru sebaliknya. Itulah kelebihan Joni dengan uangnya. Aku kadang iri dengan Joni. Tapi tidak untuk uang sebagai standar hidup.
“ Hey…,” sapa Adinda dari belakang sambil memegang pundak Rangku. Rangku terkejut lalu menoleh. Dia tampak senang dengan kehadiran Adinda di dekatnya. Mereka bersalaman. Lalu Rangku berkata, “I miss you.” Adinda tersenyum.
“Apa kabar Rangku?” tanya Adinda ramah dengan tatapan matanya yang memancarkan kerinduan kepada sahabatnya itu. Adinda bagi Rangku dan Rangku bagi Adinda, tidak hanya sekedar bersahabat. Kadang seperti bersaudara atau seperti sepasang kekasih. Walaupun begitu mereka tidak pernah melampaui batas-batas persahabatan mereka. Tidak ada cumbuan, maupun ciuman. Karena mereka bukanlah te-te-em.
Adinda sudah seperti diary-nya Rangku. Rangku menceritakan semua tentang hidupnya. Hanya Adinda yang tahu lembaran-lembaran hidupnya, yang secara kias dituliskannya panjang lebar tanpa batas-batas argumen dalam sebuah narasi yang terucap di antara kedekatan mereka berdua, Adinda tidak merasa terganggu oleh cerita-cerita Rangku.
“Baik. Kamu tentunya juga begitu, Dinda” Rangku menyahut, dia hanya meyakinan kalau Adinda dalam keadaan baik. Seperti yang dilihatnya sekarang. Mungkin karena kecerahan wajah Adinda dengan model baru rambutnya yang korean wave, manis, fresh dan feminim.
Adinda mengangguk. Bagaimana penelitian, kamu? Tanya Adinda. Rangku mengangkat kedua bahunya lalu lemaskan tubuhnya. Ya begitulah, lancar. Aku beruntung bisa mengambil lokasi yang tidak jauh, jadi bisa bolak balik ke sini, kapan aku suka. Tapi? Rangku menghentikan omongannya. Dia memalingkan wajahnya yang mulai sendu ke Adinda. Wajah yang semetinya penuh tanda tanya. Adinda tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Rangku. Mungkin itu bahasa tubuh pengganti kata sabar. Tapi, kamu putus dengan Nara? Balas Adinda.
Kening Rangku berkerut. Dari siapa kamu tahu? Yang tahu hubunganku dengan Nara cuma kamu. Dan kamu juga belum kenal dengan dia. Rangku heran.
Aku hanya menebak, Rangku! Sahut Adinda.
Sesaat kemudian pandangan Rangku kembali lurus seperti arah duduknya, tertuju pada sekelompok mahasiswa yang sedang duduk bercengkrama di bawah pohon, di depannya. Kemudian dia menopang dagunya dengan tangannya yang bertumpu di atas paha.
“Sebenarnya tidak putus. Tapi aku tidak tahu di mana keberadaan Nara sekarang. Terakhir aku bertemu dia, dua minggu yang lalu sebelum aku kembali lagi ke Pantai Selatan,” Rangku menarik nafasnya, “Orang tua-nya seperti menyembunyikannya dariku. Mereka tidak suka hubunganku dengan Nara.”
bersambung

0 komentar:

Posting Komentar